TALAK

TALAK
Part 238 TALAK.


__ADS_3

"Buk, Dokternya sudah datang." Mbak Qibtiyah memberitahu saat aku memakai hijab.


"Iya, mbak tunggu sebentar saya kesana sekarang." ucapku, marapikan meja riasku.


"Mas, dokternya sudah datang, aku ke kamar Afri dulu!" seruku pada suamiku yang masih di dalam kamar mandi.


"Iya, sayang, aku sudah selesai nanti aku susul," jawab pak Catur berbarengan dengan membuka pintu kamar mandi, dia keluar masih dengan memakai wardrobenya.


"Sudah, selesai mas, aku ke kamar Afri dulu." Aku segera meninggalkan pak Catur di kamar sendirian.


"Untung, dokternya perempuan."ucap Pak Catur.


"Memang kenapa?" jawabku langsung berbalik.


"Terlalu cantik." Puji pak Catur padaku dengan senyum khas nya, yang manis nan menawan.


Aku hanya geleng-geleng kepala mendengar pujian dari Pak Catur, dari awal menikah sampai sekarang dia selalu memujiku secara berlebihan. Dokter masih duduk di ruang tamu karena menungguku datang, karena tadi aku memintanya untuk menunggunya sebentar.


"Selamat pagi dok, maaf kelamaan menunggu," sapaku lembut dan sopan.


"Tidak maaalah Bu, saya baru saja sampai." jawab dokter ramah.


"Silakan dok, anaknya ada di kamar ini." aku mempersilakan dokter untuk masuk ke ruangan Afriana.


Di dalam kamar, Afriana masih berbalut selimut, seperti tadi waktu aku tinggalkan, dia masih memejamkan mata mungkin karena masih ngantuk atau apa aku tidak tahu.


"Af, ayo bangun dokternya sudah datang." ucap lembut.


"Buk."


"Bagaimana kabarnya kak Afri," sapa dokter itu lembut.

__ADS_1


"Pusing dok," sahut dokter lemah


"Sekarang ibu periksa dulu ya."


Dokter langsung mengeluarkan alat pemeriksaannya, dokter memeriksa mulai dari detak jantung, tentsi darah, serta suhu badan, mata serta mulut " Selasai" ucap dokter dengan senyum ramahnya.


"Bagaimana dok?" tanyaku sedikit cemas.


"Kak, Afri hanya kelelahan saja bu, sedikit demam, nanti ibu tebus obatnya di apotik dan minumkan secara teratir, istirahat yang cukup, dalam dua hari inshaallah semua akan kembali sehat." jelas dokter sambil metapikan alat medisnya.


"Terima kasih dok," ucap Afriana sopan.


"Sama-sama kak Afri yang manis, caoat sehat ya," ucap Dokter lembut "Kalau begitu saya petmisi dulu buk, jangan lupa obat dan vitaminnya." pesan dokter ramah dan sopan.


"Terima kasih dok, mari saya antar." Aku langsung mengantar dokter untuk pulang sampai di depan pintu rumah.


Setelah kepergian dokter aku kembali ke kamar Afriana lagi aku memberi pesan Afriana untuk istirahat kembali, setelah kembali dari kamar Afriana aku kembali ke kamarku sendiri melihat pak Catur dan juga si kembar, kini pak Catur sudah rapi dan si kembar masih berada di alam mimpinya.


"Alhamdulillah, baik cuma kecapek an saja dan sedikit demam," jelasku "Mas boleh aku rants sesuatu pada mas?" ucapku ragu.


"Tentu boleh sayang," jawab


"Maaf, tadi Aku mendengar mas lagi berbicara di telpon, siapa yang sakit mas? Apa ada keluarga mas yang salut, mungkin mama, papa atau siapa, kenapa mas tidak memberitahuku, apa aku tidak berarti di mata mas ?" tanyaku bertubi-tubi tanpa jeda.


"Sayang, kalau tanya itu mbok ya satu-satu saja, pasti mas jawab semua kalau nanyanya bareng dari mana mas mulai menjawabnya," ucap Pak Catur lembut.


"Siapa mas yang sakit?" tanyaku.


"Nanti malam mas jawab boleh? " pintanya lembut "Sekarang mas mau berangkat kerja, dan mas mau ke sekolahannya Afri, bunda tenang saja semua akan baik-baik saja, mama dan papa alhamdulillah sehat." jawab pak Catur meyakinkan.


"Mas." Aku semakin penasaran dengan jawaban pak Catur.

__ADS_1


"Dinda percaya sama Ayah kan?" tanya pak Catur berusaha meyakinkanku.


Aku hanya mengangguk pasrah karena waktu juga sudah agak siang, sedang pak Catur juga harus berangkat kevksntir tepat waktu.


"Hari ini anak ayah mau minta apa?" tanya pak Catur langsung jongkok mencium dan membelai lembut perutku.


"Mas geli." ucapku.


"Mas berangkat dulu," pamit pak Catur.


"Aku kalau pagi gak kepingin apa-apa tapi kalau sore menjelang malam selalu aja pingin ini, itu," ucapku mengiringi langkah pak Catur menuju ruang makan untuk melakukan sarapan.


"Assalamu'alaikum buk, pak," sapa mbak Romlah yang baru datang.


"Wa'alaikum salam," sahutku dan 0sk Catur bersamaan " Mbak Rom kok pagi sekali.?" tanyaku.


"Kebetulan tadi habis ambil nomor kontrol buat ibuk besok jadi sekalian saja." jawab mbak Romlah sopan.


"Bagaimana keadaan ibumu mbak?" tanyaku.


"Alhamdulillah, semakin baik, dan sehat," jawab mbak Romlah sopan.


"Syukurlah, sarapan dulu mbak," ucapku.


"Silakan buk, saya lihat dik Afwa dab dik Afwi dulu buk," pamit mbak Romlah.


"Silakan, mbak."


Selesai sarapan aku mengantar pak Catur sampai dia maduk mobil.


"Hati-hati Ayah, sayang,"

__ADS_1


"Terima kasih, Dinda sayang."


__ADS_2