TALAK

TALAK
Part 98 TALAK


__ADS_3

Jalanan kota Madiun pagi ini sangat lancar, sehingga perjalananku dan mas Jamal hanya butuh waktu dua puluh lima menit, seperti biasa begitu sampai di kantor Pengadilan Agama aku segera menuju loket pendaftaran antrian sidang, setelah mendapatkan nomor antrian aku duduk di dekat mas Jamal di ruang tunggu, aku buka gawaiku untuk mengecek chat masuk siapa tahu ada yang penting saat membuka WhatsApp yang muncul chat dari Pak Catur dan bu Priska.


[Semoga sidangnya lancar, tetap sabar dan ikhlas ya Fah] bu Priska.


[Jangan lupa berdoa, semoga sidangnya lancar] pak Catur


Membaca pesan dari mereka aku menjadi terharu, dengan bu Priska sudah lama kami saling mengenal, tapi dengan pak Catur baru beberapa bulan saja sejak training di kantor pusat waktu itu.


"Fah, apa kamu merasakan sesuatu?" Mas Jamal bertanya padaku.


"Iya mas, kelihatannya mas Ringgo sudah berada di sekitar sini." jawabku tetap berusaha tenang.


"Tetaplah berdzikir jaga selalu wudhumu agar tubuhmu tetap suci." nasehat mas Jamal.


"Inshaallah mas." jawabku.


Memang benar mas Ringgo dan temannya sudah sampai di kantor Pengadilan Agama, aura mistis yang di bawa mas Ringgo memang sangat kuat. Berkali-kali makluk iblis kiriman dukunnya mas Ringgo berusaha menerobos untuk bisa masuk dalam tubuhku, alhamdulillah semua bisa mental, kini aku paham akan nasehat bapak iblis itu berusaha untuk mencari kelengahanku dan keluargaku, bersyukur aku memiliki keluarga yang taat beribadah di tambah kami memiliki garis keturunan dari Kyai Grinting, seorang Kyai yang sholeh jadi secara otomatis kami sudah mewarisi ilmu dari beliau.


Jam sepuluh tibalah giliranku dan mas Ringgo untuk memasuki ruang sidang, Sesampainya di ruang sidang aku melihat aura mas Ringgo yang sedikit pucat, sebenarnya aku tahu apa penyebabnya namun aku tetap diam saja, tidak berselang lama para Hakim datang memasuki ruang sidang, sidang di buka dengan Salam dan tiga kali ketukan palu.

__ADS_1


"Saudara Ringgo, tolong serahkan surat yang minta kemarin!" perintah Hakim pada mas Ringgo.


Mas Ringgo segera berdiri dari duduknya dan menyerahkan satu map berkas yang di minta Hakim. Hakim dan timnya membaca surat tuntutan mas Ringgo hingga beberapa menit.


"Silahkan berdiri, tolong baca surat ini dua minggu lagi ibu harus menyerahkan jawaban dari surat tuntutan saudara Ringgo, setelah di tulis tolong di foto kopi sebanyak tiga lembar, sidang selanjutnya kalian berdua harus membawa dua saksi ke pengadilan, ada pertanyaan?" ucap Hakim penuh wibawa.


"Saya ada pertanyaan bu!" ucapku


"Silahkan bu Afifah." Hakim menoersilahkanku.


"Harus bermaterai atau tidak?" tanyaku.


"Tidak usah bu, cukup tanda tangan anda saja dan harus ditulis pakai tangan." jelas Hakim.


"Baiklah sidang kami tutup, sampai jumpa di sidang selanjutnya." ucap Hakim dan langsung menutup sidang dengan salam serta ketukan palu sebanyak tiga kali.


Aku keluar duluan dan di susul oleh mas Ringgo, begitu kami sudah berada di luar ruangan sidang aku berusaha untuk mengingatkan mas Ringgo.


"Mas aku mau bicara sebentar." ucapku sambil berdiri di tempat yang agak sepi agar tidak di dengar oleh orang lain.

__ADS_1


"Bicara apa?" jawabnya ketus.


"Hentikan permainanmu, sebelum kamu menyesal seumur hidup kamu mas, kamu boleh membenciku namun ingat mas ada, Afriana, darah dagingmu." ucapku berusaha tenang.


"Jangan campuri urusanku!" ucap mas Ringgo dingin.


"Selagi menyangkut keselamatan Afriana, aku tidak akan tinggal diam, jangan hanya karena harta kau korbankan aku dan darah dagingmu, mas, ingat aku tidak akan tinggal diam, kalau kamu tidak kasihan pada aku dan Afriana, kasihanilah kedua orang tuamu." ucapku tetap berusaha tenang agar tidak tersulut emosi.


"Sok, tahu jangan kami gurui aku." jawab mas Ringgo tetap dingin.


"Baiklah, kita lihat saja nanti, yang pasti aku tidak akan tinggal diam, aku tunggu kirimanmu, aku tidak takut!" ucapku tetap tenang dan datar.


Selesai berbicara aku meninggalkan mas Ringgo, aku segera ke loket untuk pendaftaran jadwal sidang selanjutnya, selesai mendapat jadwal aku menemui mas Jamal yang duduk di tempat oarkir sambil mengawasi gerak-gerikku dan mas Ringgo.


"Kamu harus tetap waspada, Fah." pesan mas Jamal.


"Aku, tahu mas, ya sudah antarkan aku ke kantor, supaya nanti sore aku bisa pulang tepat waktu." pintaku pada mas Jamal.


Aku dan mas Jamal menuju kantor jam sebelas siang aku sudah sampai di kantor, saat aku berjalan ke lobi ternyata di lobi ada pak Catur yang sedang berbincang dengan karyawan lainnya. Aku menyapa pak Catur dan para karyawan lainnya dengan senyum ramah.

__ADS_1


"Mbak, Fah tolong tunggu sebentar dan tolong bawakab berkas ini!" perintah pak Catur sambil menyerahkan satu bendek map berisi berkas.


"Baik, Pak." jawabku sopan.


__ADS_2