
Sesuai dengan perintah bapak setelah selesai sholat berjamaah di mushola aku langsung menuju rumah bapak, di rumah bapak ada ibukku, Nafisa dan Afriana, tidak lama kemudian bapak juga pulang dari mushola diikuti oleh Fauzan. Bapak, ibuk dan Fauzan mengajakku masuk ke kamar yang kosong, sedang Nafisa serta Afriana berada di kamar Nafisa.
Dari raut wajah bapak aku dapat melihat betapa gusarnya hati bapak, kami berempat duduk di atas tikar yang digelar di dalam kamar.
"Fah, ada berita kurang bagus, bapak harap kamu tetap sabar, terutama untuk Afri, Ringgo, saat ini dalam masalah besar, bapak dan masmu Jamal sudah kesana tadi siang dan keadaanya semakin parah, siksa yang dialami Ringgo semakin menjadi-jadi, aku, masmu Jamal dan keluarga Ringgo sepakat akan merukyah Ringgo besok lusa malam jumat legi, doakan kami, apapun yang terjadi bapak harap kamu ikhlas, namun jika hatimu tidak ikhlas bapak tidak akan memaksamu, Fah, bapak tahu itu tidak mudah, lihatlah pada Afri." ucap bapakku penuh kehati-hatian.
"Apa kamu masih punya dendam, Nduk?" ibukku menanyaiku.
Aku hanya diam tidak menjawab, hatiku belum siap untuk melakukannya, bagaimanapun aku manusia normal, aku bisa memaafkan namun aku tidak lupa tentang perlakuan mas Ringgo padaku dan anakku Afriana.
"Fah, belum bisa menjawab pak, beri Fah, waktu." jawabku jujur apa adanya.
"Kami semua tidak memaksamu Fah,, bapak melakukan ini karena bapak melihat Afri, bapak harap kamu bisa berbesar hati, karena kemungkinan Ringgo selamat sangat kecil, maafkanlah." nasehat bapak tenang.
'Dzikirlah, nduk, hapuslah dendammu, fokuslah pada anakmu, ibuk yakin kamu bisa.
"Pak, bisa bapak ceritakan!" pintaku pada bapak.
__ADS_1
Flas back on.
"Sakit... Panas... Pergi... Pergi... Athoh... Sakit... Athoh thoh biyung-biyung, auuuuuu.. Panas panas." suara Ringgo terus meraung tidak karuan terbaring di kamarnya.
"Ini sangat berat, jika bapak dan ibu sudah iklas maka nyawa Ringgo taruhannya, semoga kita bisa menyelamatkan jiwa Ringgo, kalaupun jiwa Ringo selamat, Ringgo tidak seratus persen waras, pikirannya bakal sedikit oleng, jadi bapak dan ibuk harus sabar merawatnya." jelas mbah Yai pada kedua orang tua Ringgo.
"Apapun yang terjadi selamatkan anak kami, mbah Yai, kami tidak tega melihat Ringo menderita seperti sekarang." pinta orang tua Ringgo mengiba.
"Malam jumat legi, kita lakukan pengobatan untuk putra bapak dan ibu, Ibu dan bapak tolong mintakan ampunan buat putra bapak, ibuk kepada Allah SWT." pesan Mbah Yai.
Tadinya aku tidak peduli namun aku hanya orang biasa aku masih punya belas kasih terhadap sesama.
"Apa yang bisa, Fah bantu pak?" tanyaku pada bapak.
"Pada malam jumat legi, selesai sholat isya kamu sama ibuk, ajak Afriana untuk membacakan surat yasin serta tahlil khususkan buat Ringgo, dan baca ayat kursi khusukan buat Ringgo sebanyak seratus kali, karena setelah sholat isya kami akan memulai meruqyah Ringgo." perintah bapak
"Baik pak, Fah sanggup." jawabku meyakinkan.
__ADS_1
Malam ini Aku milih tidur di rumah orang tuaku, ya kadang aku males tidur di rumahku sendiri, mengingat Afriana memilih tidur dengan orang tuaku. Malam semakin larut aku rebahkan tubuhku di atas kasur usang milik orang tuaku, aku pandangi wajah damai Afriana yang sedang tidur pulas, aku belai lembut kepala Afriana, aku bacakan ayat kursi sebanyak tujuh kali lalu aku tiupkan pada ubun-ubunnya tujuanku agar anakku selamat tidak di ganggu oleh syeran saat tidur.
Aku check gawaiku yang dari dari bergetar entah siapa yang kirim pesan, ternyata puluhan pesan masuk dari Pak Catur dan juga beberapa panggilan dari Pak Catur.
[Selamat istirahat permaisuriku] pak Catur.
[Jangan lupa berdoa, permaisuriku] pak Catur.
[Afifah permaisuriku] pak Catur.
[Besok aku jemput pagi-pagi sekali jangan lupa cepat siap-siap] pak Catur.
[Bagaimana putriku hari ini?] pak Catur.
[Aku ingin mencintai kalian dengan cara dan jalan yang benar, semoga Allah meridhoinya] pak Catur.
Selesai membaca pesan dari Pak Catur aku taruh gawaiku tanpa membalas chat dari Pak Catur, karena hari juga sudah larut kemungkinan pak Catur juga sudah tidur atua istirahat.
__ADS_1