TALAK

TALAK
Part 72 TALAK


__ADS_3

Adzan subuh berkumandang dengan merdunya, ayam berkokok dengan semangatnya, sedangkan burung berkicau dengan merdunya, namun karena aku sudah terlalu lelah maka sedikitpun aku sampai tidak mendengarnya, aku baru terbangun pukul lima lewat tiga puluh menit karena Afriana yang membangunkanku.


Aku sangat terkejut karena hari sudah sangat siang, dan aku lihat Afriana juga sudah mandi.


"Buk, kata mbah kung, sebelum ibuk kerja ibuk di panggil mbah kung." ucap Afriana polos.


"Mbah kung, gak ke pasar Af?" tanyaku yang baru membuka mata.


"Nggak buk, mbah uti juga gak kepasar, tadi aku sudah bantuin mbah masak sarapan, habis bantuin mbah aku terus mandi, kata mbah ibuk banyak sekali pekerjaannya jadi pulangnya malam, Buk tadi aku lho yang ngulek bumbu untuk tempe goreng, dan aku yang goreng tempe, sekarang aku sudah pinter masak buk, supaya aku bisa masak buat ibuk." cerocos Afriana sambil memakai seragamnya.


"Pinter anak ibuk." pujiku pada Afriana masih sambil berbaring.


"Buk, kata mbah kung, nanti paklek yang ngantar Afri ke sekolah, mbah bilang ibuk sangat capek." ucap Afriana sambil memakai seragam sekolahnya.


"Ya, Af, ya sudah ibuk mau mandi dulu nanti telat lagi kerjanya." ucapku sembari bangkit dari tempat tidurku.

__ADS_1


Aku segera ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan siap-siap pergi bekerja, begitu sudah rapi aku kerumah orang tuaku, Afriana di antar oleh Fauzan ke sekolah bapak sedang duduk di depan TV sambil sarapan. Afriana berangkat ke sekolah di antar oleh Fauzan seperti perintah bapak, ibuku sudah pergi entah kemana yang di rumah cuma bapak, dan Nafisa yang juga siap-siap untuk berangkat ke sekolahannya untuk mengajar.


"Pak." sapaku begitu sampai di ruang tengah.


"Duduk dulu, Fah!" perintah bapaku padaku.


"Inggih pak, semalam bapak bagaimana terus Fauzan?" tanyaku sedikit bingung harus bertanya apa.


Aku dan bapaku kadang harus bagaimana memulai sebuah percakapan, karena selama ini Aku lebih dekat dengan ibuku.


"Sampai berapa lama pak?" tanyaku.


"Bapak, gak tahu semoga Ringgo segera kapok, mulai hari ini biar bapak yang ngantar kamu kerja, karena Ringgo berusaha mencari kelengahanmu dan keluarga kita." terang bapak padaku.


"Inggih, pak, lalu apa yang harus kita lakukan pak?" tanyaku.

__ADS_1


"Yang terpenting kita selalu mendekatkan diri kepada Allah, tingkatkan puasa dan dzikirmu, Fah, ini cobaan untuk keluarga kita, dan yang terpenting kita jangan membalas dendam dengan cara musrik, biarlah Allah yang membalasnya." nasehat bapak.


"Pak, sebenarnya aku ingin membalasnya, rasanya aku sudah tidak ingin melihatnya di dunia ini." ucapku penuh amarah.


"Fah, kendalikan dirimu jangan sampai karena emosimu malah merugikanmu sendiri, begini Fah, tanpa kita balas Ringgo bakal menerima akibatnya, kita lihat saja nanti, karena orang yang bermain dukun seperti Ringgo dia pasti melakukan perjanjian nyawa, kalau Ringgo tak bisa memenuhi syarat maka Ringgo sendiri atau keluarganya yang menjadi tumbal perjanjian tersebut, karena dukun yang di pakai Ringgo bukan dukun sembarangan, bukan dukun yang hanya mengiginkan uang tapi tumbal nyawa sebagai imbalannya." Bapakku menjelaskan padaku.


"Seperti apa pak?" tanyaku penasaran.


"Meninggal dunia atau gila, itulah perjanjian yang di lakukan Ringgo, karena Ringgo menginginkanmu mati atau gila selamanya, jika makhluk suruhannya kalah maka makhluk tersebut akan mengganggu Ringgo dan keluarganya selamanya." jelas bapak.


"Astaqfirullah hal'adzim!" seruku terkejut karena aku baru pertama kali mendengar seperti itu.


"Tapi kamu jangan kwatir, makhluk tersebut sudah kami buang tidak di kembalikan ke pemikiknya, namun tetap masih ada resikonya tapi tidak besar, sudah siang ayo aku antar kamu bekerja, untuk langkah selanjutnya kita bicarakan nanti malam, usahakan jangan pulang terlalu malam karena nanti mas Jamal mau datang kita berencana untuk merukyah rumah kita nanti malam tepat jam dua belas, ada Kyai teman bapak juga mau membantu kita." Bapak menjelaskan sejelas-jelasnya.


"Inggih, pak terima kasih, nanti malam akan Afifah usahakan untuk pulang sore."

__ADS_1


Aku nurut saja perintah bapak, karena bapak lebih tahu tentang hal goib dari pada aku, dan ilmu bapak juga lebih tinggi dari pada aku, aku masih bandel kadang tidak mendengar nasehat bapak karena kadang aku sendiri tidak begitu percaya, walau kadang aku sampai heran dengan bapak yang bisa dzikir mulai jam dua belas malam sampai subuh, masih banyak hal yang memang tidak masuk akal bagiku namun mampu di lakukan oleh bapakku.


__ADS_2