TALAK

TALAK
Part 151 TALAK


__ADS_3

Sesuai janjinya kemarin pak Catur sudah berada di rumah bapak dijam enam pagi, hari ini jadwalnya mengantar keluarga Cakra untuk kembali ke kota Jakarta, yang tadinya mama ingin tinggal di kota Madiun lebih lama, akhirnya tidak jadi karena mama ingin menyiapkan sendiri untuk acara perniakhanku dengan Pak Catur. Karena bapak sedang pergi ke pasar untuk berjualan maka pak Catur ngobrol ditemani oleh adikku Fauzan, sambil menikmati segelas teh hangat dan juga sarapan pagi dengan menu yang sangat sederhana, nasi dengan urap serta tempe goreng serta krupuk. Sedangkan aku masih sibuk dengan persiapan Afriana untuk pergi ke sekolah. Selesai mengurusi Afriana maka aku dan Afriana menghampiri pak Catur yang baru selesai sarapan pagi, Afriana langsung berjabat tangan dengan bahagianya, sedangkan aku membantu Fauzan untuk mengemasi piring bekas makannya mereka berdua.


"Af, sayang sudah siapkan, pagi ini ayah akan antar Af ke sekolah, bagaimana?" ucap Pak Catur penuh kasih.


"Mau... Mau ayah, ibuk?" ucap Afriana girang dengan wajah yang berbinar-binar.


"Pasti dengan ayah dan ibuk dong." ucap Pak Catur senang.


"Ibuk, ayo berangkat!" teriak Afriana bahagia.


"Iya, sayang." jawabku yang baru keluar dari dapur"Zan, Naf, kami berangkat dulu." pamitku pada kedua adikku.


"Ya, mbak, mas, Hati-hati." jawab Fauzan dan Nafisa.

__ADS_1


"Berangkat dulu dik." pamit pak Catur pada Fauzan dan Nafisa.


Afriana dengan senang hati segera masuk ke dalam mobil pak Catur, begitu pintu sudah dibuka. Afriana duduk di bangku belakang sedangkan aku menemani Afriana, ya kali ini Aku serasa memiliki sopir pribadi. Sesampainya di halaman sekolah pak Catur menghentikan mobilnya, Afriana bersalaman pamit sebelum keluar dari mobil pak Catur, pak Catur tetap berada di dalam mobil sedang aku mengantar Afriana hingga Afriana masuk ke kelasnya. Setelah Afriana masuk ke dalam kelas aku kembali masuk kedalam mobil kali ini aku duduk di depan dekat dengan Pak Catur.


"Semalam jam berapa dinda tidur, kok tidak membalas WA dari Kangmas sih?" tanya pak Catur padaku.


"Bingung mau jawab apa?" jawabku asal dengan seulas senyum


"Ada masalah?" tanya pak Catur.


"Aku hanya khawatir dengan dindaku ini, senang bisa ngantar Afriana ke sekolah, sekarang kan istri dik Fauzan sedang hamil siapa yang mengajari Afriana belajar dan juga siapa yang menjemput Afriana dari sekolah?" tanya pak Catur padaku.


"Pagi, dinda sendiri yang ngantar kalau siang bapak yang jemput soal mengajari Afriana, Nafisa masih bisa." jawabku apa adanya "Kenapa Kangmas bertanya begitu ?" tanyaku pada pak Catur sedikit bingung.

__ADS_1


"Ya, Kangmas kan juga khawatir dengan Afriana, misal siang Kangmas sendiri yang jemput bagaimana?" usul pak Catur.


"Belum saatnya Kangmas, waktunya belum tepat." tolakku halus, aku sengaja menolak tawaran pak Catur untuk menghindari gossip dari para tetangga.


"Baiklah, Kangmas akan sabar menunggunya sampai kita halal, dan setelah kita halal Kangmas sendiri yang akan antar jemput Afriana sekolah." celoteh pak Catur sambil senyum-senyum sendiri.


"Kelihatannya senang sekali baru dapat lotre?" gurauku.


"Ya aku baru dapat lotre, ah enggak deh bukan lotre tapi aku baru dapat hadiah yang sangat istimewa dari Allah, dan sangat spesial." ucap Pak Catur tambah girang.


"Apa itu?" tanyaku penasaran.


"Kamu dan Afriana, itulah hadiah terindahku, rasanya aku sudah tidak sabar untuk bisa hidup bersama dengan kalian, sebuah mimpi yang dari dulu takut untuk aku bayangkan." ucap Pak Catur tulus dan bersungguh sungguh.

__ADS_1


"Terima kasih, bagi dinda ini semua seperti mimpi, rasanya baru kemarin kita kenal dan bekerja sama dalam mengurus kemajuan pabrik, sekarang kita sudah di ambang pintu untuk menuju rumah tangga, sesuatu yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya." ucapku bersungguh-sungguh.


__ADS_2