
Sesampainya di sekolahan Afriana kami berdua menunggu sebentar sekitar lima menit, aku melihat senyum kebahagiaan mengembang di sudut bibit Afriana ketika melihat kami berdua.
"Ibuk... Bulekk !" seru Afriana berlari menuju ke arah kami berdua.
"Ayo,naik " perintahku.
"Kita, kemana buk ?" tanya Afriana antusias.
"Kita beli bakso jumbo" jawab Nafisa.
"Asyikkk... !" seru Afriana bahagia.
Kami bertiga menuju sebuah kedai bakso yang cukup populer di kota ini, tidak perlu lama hanya butuh waktu Dua puluh menit kita sampai di kedai bakso yang kita maksud. Karena jam makan siang jadi kedai bakso juga sudah cukup rame pengunjung apalagi ini hari sabtu, sudah pasti banyak pengunjung yang datangnya lebih awal dari pada kami.
Begitu sampai di kedai kami segera memesan menu sesuai selera masing - masing "Naf, Fauzan jadi kesini gak, kalau jadi sekalian pesankan biar gak nunggu lama nanti " perintahku.
"Jadi, mbak apalagi selalu dapat gratis pasti tambah senang mas Fauzannya" jawab Nafisa senang.
Saking ramainya kedai hampir dua puluh menit kami bertiga menunggunya dan menu pesanan kami baru datang, di saat menu datang Fauzan juga pas datang.
Sambil menikmati bakso kami berempat bercerita dan bercanda sama seperti hari - hari biasanya. Afriana nampak lahap saat makan bakso dan es campurnya.
"Enak, Buk, baksobya besar - besar lagi " ucap Afriana.
"Makan yang banyak biar nanti kuat momong adik " ucap Fauzan.
__ADS_1
"Siap paklek, nanti aku yang gendong adik kecil " jawab Afriana bahagia.
Selesai makan kami bertiga langsung pulang tidak lupa membawa dua dengan segar untuk kedua orang tuaku, sedang Fauzan kembali ke bengkel tempatnya bekerja.
Begitu sampai di rumah Afriana langsung membawa degan dan di berikannya kepada kedua orang tuaku. Kedua orang tuaku nampak senang sekali dan bapak langsung membuka degannya.
Aku dan Afriana kembali ke riamhku sendiri, selesai membersihkan diri dan melaksanakan sholat dzuhur Afriana langsung tidur begitu Afriana sudah tidur aku ke rumah orang tuaku sekedar untuk bergosip ria. Di teras sudah ada Nafisa dan ibuku yang duduk di kursi goyang yang sudah usang.
"Kamu gak istirahat, Naf?" tanyaku.
"Nggak mbak, gak ngantuk " jawab Nafisa.
"Kamu sudah ngabari masmu Jamal apa belum, Fah?" tanya ibuku.
"Yo, wajar kalau masmu lupa, lawong pekerjaannya masmu yo banyak" terang ibuku.
"Masmu sudah tahu belum kalau Ringgo kesini semalam ?" tanya ibuku lagi.
"Aku gak ngasih tahu buk, ibuk kan tahu sendiri bagaimana sifat mas Jamal, aku takut mas Jamal kalap " jelas ku.
"Ya, aku tahu " jawab ibuku.
"Ehmm... Buk... Mbak boleh aku tanya sesuatu ?" tanya Nafisa ragu" Tadi siang aku dengar bapak bicara tentang ular emas, ada apa ya mba, semalam mvak Fah kenapa kok gak bisa tidur ?" cerocos Nafisa.
"Memang gak ngantuk yo jelas gak bisa tidur to, Naf " jawabku asal.
__ADS_1
"Kalau soal kaya gituan yang paham cuma bapakmu, Naf " jawab ibuku.
"Kamu lagu hamil gak baik ngomong soal lelembut, takutnya bayimu sawanen" Nasihatku.
"Loh, memang bisa to mbak, kan bayinya masih kecil di dalam perutku, lah ni perutku saja masih rata " jawab Nafisa
"Hal, seperti itu pantangan Naf, dah kamu dengerin kata mbakmu itu" perintah ibuku.
"Keponakan bupuh Iagi apa di sana, mau minta apa dari bupuh ?" tanya ku.
"Kan, kamu itu, Fah, begitu juga tidak boleh pamali, nanti kalau kandungannya sudah empat bulan baru kamu kasih hadiah, Fah" ucap ibuku.
"Buk, nanti kalau acara tiga bulanan rencanya aku sama mas Fauza mau mengadaksn hormil qur'an di rumah" ucap Nafisa.
"Setuju, Naf, dari awal bapak sama ibuk sudah merencanakan untuk hotmil Qur'an" ucap ibuku.
"Alhamdulillah, kamu harus ikut baca Naf" perintahku.
"Ya, jelas to mbak, aku kan juga pingi punya anak yang sholeh dan sholehah " ucap Nafisa senang.
Kami bertiga bercengkerama terus sampai tidak terasa jika waktu sudah menunjukan pukul tiga sore yang artinya kami harus buyar dan melanjutkan aktifitasnya masing - masing.
Aku duduk sendiri di rumah karena Afriana belum bangun, aku masih sedikit kepikiran tentang kejadian semalam " Semoga, tidak ada masalah yang berat " gumamku dalam hati.
Hari ini Aku bercating dengan mbak Rani dan Nina, rasanya sudah kangen karena sudah lama pisah ruangan, dan karena banyaknya pekerjaanku membuat aku sendiri semakin sibuk. Di dalam cating kami bercanda bersama sama sambil memamerkan masakan kami masing - masing. Karena aku tidak masak maka yang aku kiriman foto saat makan bakso bersama tadi.
__ADS_1