TALAK

TALAK
Part 247 TALAK


__ADS_3

Selesai anak-anak mandi dan sudah pada selesai kini aku juga mandi, karena sebentar lagi pak Catur pulang dan mbak Priska juga datang untuk menjemput Rahma. Seperti yang yang di rencanakan kali ini suamiku dan mbak Priska sampai di rumahku pukul lima sore, sedikit terlambat karena menurut info banyak sekali pekerjaan.


"Assalamu'alaikum," mbak Priska dan Pak Catur mengucap salam.


"Wa'alaikum salam, mama, Paman." sahut Rahma sudah girang.


"Wa'alaikum salam, Ayah, Bupuh," kini ganti Afriana yang menyahut.


Aku juga menjawab salam mereka, kami senyambut mereka berdua dengan persaan bahagia, kami semua menyalani mereka berdua dengan ta'dzim, aku persilakan mbak Priska untuk masuk dan duduk, mbak Qibtiyah yang sudah hafal dengan menu mbak Priska dis tidak ketinggalan membawakan sir putih biasa pada mbak Priska, Afwa dan Afwi tidak ketinggalan mereka berdua langsung berlari ke arah pak Catur dan langsung memeluknya.


"Anak ayah sudah wangi, sudah bersih, dan sudah pada ganteng semua sudah pada mandi apa belum?" tanya pak Catur pada Afwa dan Afwi dalam pelukannya dam menciuminya.


"Tadi mandi sama bunda apa sama mbak,?" tanya pak Catur pada si kembar.


"Na na na ma ma ma ma," celoteh dua bocah kembar itu.


"Oh mandi sama mbak dan bunda ya, pantes anak ayah sudah wangi," celoteh pak Catur terus mengajak si kembar berbicara walau si kembar belum bisa menjawab dengan sempurna.


"Afwa, Afwi ayo sini sana bunda salon sana bupuh dulu biar ayah mandi dulu." rayuku pada Afwa dan Afwi agar dia mau melepaskan pelukannya pada ayahnya.


"Iya, sayang sini, main sama bupuh, bupuh sudah kangen, main dan nginep di rumah bupuh ya." rayu mbak Priska dengan senyum tulusnya.


"Anak ayah, sama bunda dan bupuh dulu ya, ayah, mau mandi, ayah masih kecut," Pak Catur menyerahkan Afwa dan Afwi pada kami dengan senyum khasnya.


Afwa dan Afwi kini sudah berada bersama kami, sedang Afriana dan Rahma setelah bersalaman kedua bocah itu sudah kembali berada di kamar Afriana, mereka sangat cocok sekali, entah dalam bermain maupun dalam pelajaran, mereka saling membantu.


"Ma, itu Afri mau ke pesantren, aku juga mau ke pesantren boleh?" tanya Rahma yang menghampiri mbah Priska.

__ADS_1


"Boleh, mama dulu kan sudah bilang boleh masa lupa sih Rah," jawab mbak Priska santai.


"Yeahh, kita bisa mondok bareng, Af," seru Rahma girang.


"Silakan bu," Mbak Qibtiyah datang kembali dengan membawa pisang karamel buatan mbak Qibtiyah sendiri.


"Terima kasih mbak, Silakan mbak Pris, enak banget ini pisangnya," ucapku mempersilakan mbak Priska.


"Terima kasih, Fah, lihatlah mereka itu cocok sekali, kini Rahma lebih bahagia sejak ada Afri, dia bisa memiliki teman dekat dan saudara," ucap mbak Priska bahagia.


"Iya, dari awal saya rasa mbak Rahma dan Afri itu seperti sudah lama kenal saja," tambahku.


"Benar sekali, aku bersyukur ada saudara yang tinggal dekat denganku, saudara mas Anam semua tinggal di luar kota, aku dan masmu itu seperti orang pendatang saja," ucap mbak Priska senyum.


"Iya, ya," jawabku.


"Rahma sudah sore ayo pulang, nanti papa, kakak, dan kakung nungguin kita lo," seru mbak Priska memanggil Rahma yang berada di dalam kamar Afriana.


"Besok minggu ke sini lagi, atau tante main ke rumahmu sama adik," rayuku.


"Sebentar ma," rengek Rahma.


"Keburu magrib sayang, mama belum mandi," ucap mbak Priska.


"Habis magrib sekalian ya ma," rengek Rahma.


"Lalu kaku ngambek kaya gini, mama gak ngijinin kamu untuk ikut mondok, karena anak pondok itu harus nurut perintah orang tua, juga sopan," rayu mbak Priska.

__ADS_1


"Baiklah Ma, kita pulang sekarang." ucap Rahma langsung mengambil tasnya dan segera menuju ke arah kami yang duduk di ruang tengah.


"Af, aku pulang dulu ya, tante Rahma pulang dulu, adik manis mbak pulang dulu ya," Rahma tanpa di suruh sudah pamit duluan aku dan mbak Priska senyum-senyum sendiri.


"Pinter mbak Rahma terima kasih mbak Rahma," ucapku.


"Pamit dulu Fah, sampaikan ke Tono aku pulang dulu," kini ganti mbak Priska yang pamit pulang.


Setelah kepergian mbak Priska kami lanjutkan bermain sebentar sambil menunggu waktu magrib tiba. Pak Catur yang sudah selesai mandi menghampiri kami.


"Mbak Priska sudsh pulang bund?" tanya pak Catur padaku.


"Sudah, Yah," sahutku sambil momong Afwa dan Afwi.


"Bagaimana interviewnya hari ini, maaf ayah tadi sibuk," ucap Pak Catur sudah duduk di sebelahku.


"Alhamdulillah, semua lancar, besok dia sudah bisa mulai kerja, anak-anak kelihatannya juga suka, tadi Aku lihat cara dia berinteraksi dengan si kembar baik," jelasku pada pak Catur.


"Syukurlah semoga dia juga memiliki sifat seperti para pekerja kita, " ungkap pak Catur.


"Bagaimana kerjaan ayah, ada kendala?" tanyaku.


"Alhamdulillah, semua lancar, terima kasih sayang untuk segala dukungannnya," ucap Pak Catur mesra.


"Syukurlah, kalau semua baik-baik saja, jika ada yang bisa Dinda bantu Dinda siap untuk membantunya," ucapku.


"Dinda cukup di rumah bersama anak -anak, menyambut ayah pulang itu sudah cukup, terima kasih sudah mengandung dan melahirkan anak-anak ayah," ucap Pak Catur penuh kasih " Afri mana? Sudah baikan apa belum?" tanya pak Catur padaku.

__ADS_1


"Afri ada di kamar, mungkin lagi ngecek pelajaran sekolahnya, alhamdulillah seharian dia sudah baikan bahkan dia suda momong adiknya, tadi malah bermain dengan Rahma juga," jelasku.


"Alhamdulillah, kebahagiaan papa adalah bersama kalian, kalian bahagia papa juga sangat bahagia sekali, hampir magrip ayo kita siap-siap." pak Catur mengajak kami semua untuk bersiap sholat magrip berjamaah.


__ADS_2