TALAK

TALAK
Part 178 TALAK


__ADS_3

Makan malam kami hanya kita lewatkan berdua saja karena Afriana sudah selesai makan sejak habis magrip ditemani oleh mbak yang bekerja di rumah kami, pak Catur mempekerjakan dua orang asisten rumah tangga, yang satu seorang ibu-ibu namun setiap datang di pagi hari dan sorenya pulang, yang satu remaja berusia sembilan belas tahun tinggal di rumah bersama kami tugas utama menjemput Afriana pulang sekolah dan menemani Afriana ketika kami tidak di rumah sebab itu pak Catur memilih yang masih muda serta energik dan juga perpendidikan. Selesai makan aku dan Pak Catur masuk ke kamar Afriana, di sana Afriana sedang belajar sendirian karena mbaknya sedang merapikan meja makan.


"Assalamu'alaikum Af." sapa pak Catur penuh kasih.


"Wa'alaikum salam Ayah, Ibuk." sahut Afriana tak kalah bahagia.


"Bagaimana, Afri suka dengan mbak Qib?" tanya pak Catur yang sudah duduk di atas ranjang Afriana.


"Suka Yah, mbak Qib orangnya baik, tadi habis ashar mbak Qib ngajari Afri ngaji, ternyata mbaknya juga punya adik kecil seperti Afriana lo Yah, tapi sayang mbaknya gak punya Ayah." celoteh Afriana polos menghentikan aktifitasnya.


Aku dan Pak Catur saling pandang, ya kami berdua tahu tentang pekerja kami, termasuk tentang Qibtiyah ya Qibtiyah itulah nama pekerja kami yang tinggal bersama kami, menurut informasi dari mbak Us serta bukti ijazah, Qibtiyah baru saja menyelesaikan pendidikan MAN dan juga pesantren, Qibtiyah di pesantren selama tiga tahun, karena harus membantu ekonomi keluarga Qibtiyah tidak melanjutkan lagi pendidikannya karena ada tiga adik yang harus dibiayai sedangkan bapaknya Qibtiyah sudah meninggal sejak setahun lalu ibunya seorang PNS guru TK di desanya sehingga penghasilannya tidak cukup untuk biaya hidup berlima.

__ADS_1


"Af, tahu berapa jumlah adik mbak Qib?" tanyaku pura-pura ingin tahu.


"Mbak Qib bilang adiknya ada tiga, yang paling kecil seusia Afriana perempuan juga, tadi juga sudah ngerjain PR, sepulang sekolah." jawab Afriana jujur.


Memang tugas Qibtiyah disamping menjaga rumah juga harus merawat dan menjaga Afriana, untuk urusan bersih-bersih rumah serta masak ada bu Mar, untuk urusan baju pak Catur masih menggunakan jasa laundry langganannya.


"Ya sudah, Ayah kerja dulu Afri di temani ibuk dulu ya, cepat tidur besok harus sekolah." nasehat pak Catur membelai lembut kepala Afriana sebelum meninggalkan kamar Afriana.


"Mbak Qib, tolong temani Afriana sebentar ya, nanti jam sembilan mbak boleh tinggal Afri, aku mau melanjutkan pekerjaan dulu sama bapak." aku berpesab kepada Qibtiyah yang masih di dapur.


"Iya, buk." sahut Qibtiyah sopan.

__ADS_1


"Mbak Qib, sudah sholat?, sudah makan?" Aku berusaha memperhatikan dengan baik, jujur sebenarnya aku enggan untuk minta tolong bahkan aku sendiri tidak begitu PD dengan posisi ku yang sekarang.


"Sudah buk." jawabnya sopan.


"Mbak bisa makan apa saja yang ada di rumah ini, kami tidak ingin mbak tidak nyaman di sini, dan aku ingin mbak sehat, serta cukup istirahat, terima kasih mbak." ucapku lalu aku pergi menuju ruang kerja Pak Catur di lantai atas.


"Baik buk." jawab Qibtiyah sopan dan bergegas menuju kamar Afriana.


Malam ini aku dan Pak Catur melanjutkan pekerjaan di rumah, dan kami berdua fokus dengan pekerjaan kita masing-masing hingga tidak terasa jam menunjukank pukul dua belas malam, kami baru sadar saat kami sama-sama baru menyelesaikan pekerjaan. Karena terlalu capek kami bedua langsung tidur, bahkan akupun tidak ganti baju, masuk kamar langsung memejamkan mata tanpa menghiraukan pal Catur.


Walau usia pernikahanku dengan pak Catur sudah satu bulan namun aku masih sering lupa jika aku sudah bersuami, jadi beberapa kebiasaan seperti fokus bekerja tetap melekat di jiwaku, ya itu semua karena selama kurang lebih sepuluh tahun semua aku pikir sendiri, mantan suamiku tidak bisa di andalkan.

__ADS_1


Adzan subuh berkumandang, beruntung aku masih mendengarnya sehingga aku bangun duluan, aku melihat pak Catur yang masih terlelap aku pandangi keteduhan wajahnya, dengan lembut aku kecup pipi pak Catur dan berisik lirih untuk membangunkannya. Tidak butuh lama pak Catur segera membuka matanya, dan tanpa protes pak Catur segera bangun dan ambil air wudhu, aku segera turun dari ranjang untuk menuju kamar Afriana, kami berusaha untuk selalu sholat berjamaah jika berada di rumah. Setelah sholat subuh berjamaah pak Catur aku dan Afriana membaca ayat suci Al-Quran secara bergantian. Tadarus merupakan sesuatu yang wajib di rumah kami, dan ternyata pak Catur juga menerapkan hal yang sama, minimal satu kali dalam sehari. Namun yang sering kami melakukan di waktu setelah sholat subuh karena hanya waktu itu yang selalu longgar, karena jika sore kami jarang berada di rumah.


__ADS_2