TALAK

TALAK
Part 229 TALAK


__ADS_3

Makan malam kali ini sangat special karena bisa makan bersama dengan mbak priska dan mbak Rahma, sayangnya pak anam tidak bisa ikut karena ada pengajian rutin, selesai makan malam aku pak Catur dan mbak Priska melakukan panggilan video call dengan mama dan papa.


[Assalamu'alaikum sayang] mama.


"[Wa'alaikum Salam mama, papa] aku, pak Catur dan mbak Priska secara bersamaan.


[Mah ada berita bagus] mbak Priska.


[Apa?] mama Cakra


[Alhamdulillah Ma, kita berdua mendapat kepercayaan lagi, istriku hamil lagi] pak Catur.


[Alhamdulillah, cucuku tambah lagi, segera akan meluncur ke Madiun] mama.


Kini sambungan telepon tidak hanya dengan mama dan papa namun kini sudah terhubung dengan mas Dwi dan mas Tri.


[Assalamu'alaikum semuanya] mas Tri dan mas Dwi secara bersamaan setelah panggilan paralel.


[Wa'alaikum Salam] jawab kami semua.


[Tri kapan kamu nambah momongan?] mbak Priska.


[Belum ke pikiran mbak ] mas Dwi menjawab dengan enteng.


[Kamu kalah, jamumu kurang Tokcer] seru mbak Priska penuh teka teki.

__ADS_1


[Apa sih mbak ?] mas Dwi.


[Istriku hamil lagi] pak Catur.


[What????] mas Dwi dan mas Tri.


[Bulan madu saja belum sudah hampir dapat tiga] mas Tri.


[Rejekimu Ton, syukur alhamdulillah, sekalinya dapat rejeki tiada henti] mas Dwi.


[Alhamdulillah Mas] aku dan Pak Catur.


[Selamat] mas Dwi.


[Kapan kalian bulan madu?] mad Tri.


Panggilan telepon kita tidak begitu lama karena masih ada beberapa pekerjaan yang harus kita selesaikan masing-masing. Jam sembilan makan mvak Priska pamit pulang, setelah lelah membujuk Rahma untuk ikut pulang, nyatanya Rahma tetap kekeh ingin tidur di rumahku bersama Afriana, akhirnya dengan berat hati mbak priska mengijinkan Rahma tidur di rumahku.


Setelah kepergian mbak Priska aku menidurkan kedua bayiku dan aku lanjutkan untuk menidurkan Afriana dan Rahma. Kedua gadis itu sangat girang saat aku menemani mereka, tidak butuh waktu lama meraka berdua sudah terbuai dengan alam mimpinya, setalah mereka tidur aku pergi meninggalkan kamar Afriana, kini aku masih teringat akan kelezatan ayam kampung tadi. Aku menghampiri suamiku yang sedang sibuk dengan berkas-berkasnya di rumah kerjanya.


"Mas capek?" tanyaku langsung memijit punggung suamiku.


"Capekku hilang ketika melihat anak dan istriku bisa tersenyum bahagia." ucap Pak Catur lembut.


"Mas."

__ADS_1


"Iya bunda."


"Aku kepingin ayam panggang tadi." pintaku.


"Sekarang?" tanya pak Catur langsung cemas.


"Besok saja, mas belikan ya?" pintaku lembut.


"Iya, besok mas belikan." ucap Pak Catur penuh kasih sayang.


"Tapi aku mau yang kaya tadi." punyaku.


"Sekarang aku telpon mbak Yah, sebab ayam tadi katanya dari beli." jelas pak Catur.


Tanpa meminta persetujuan dariku pak Catur langsung menghubungi mbak Yah sendiri, dari percakapannya pak Catur seperti memesan dua ayam panggang kampung.


"Sudah mama sayang, sekarang mama tidur, besok ayamnya datang." ucap Pak Catur lembut penuh kasih sayang.


"Temani." pintaku manja.


"Sebentar lagi ayah selesai, setelah ayah selesai ayah temani." ucap Pak Catur dengan lembut.


Aku menemani suamiku untuk menyelesaikan pekerjaannya hari ini, ya setiap hari pekerjaan pak Catur memang banyak. Tiga puluh menit berlalu aku lihat pak Catur sudah menyelesaikan pekerjaannya di tutupnya layar komputernya, dengan lembut pak Catur membimbing ku untuk masuk ke kamar.


Sesampainya di kamar langsung aku rebahan dengan di temani oleh suamiku, malam ini aku masih teringat tentang ayam goreng tadi, sebuah ayam goreng kampung yang jarang ada di kota. Suamiku sudah terlelap dengan mimpinya namun aku tetap terjaga, apalagi ayam panggang tadi menari-nari dengan indahnya di otakku.

__ADS_1


Malam ini begitu sunyi, semua penghuni rumah sudah terbuai dengan alam mimpinya, tapu kini aku terjaga sendirian.


__ADS_2