TALAK

TALAK
Part 212 TALAK


__ADS_3

Pagi yang cerah namun tubuhku sedikit lelah setelah semalam begadang, ya sudah satu bulan ini aku begadang, namun semalam Ali begadang karena ada pekerjaan kantor, yang seharusnya menjadi tugas suamiku, namun karena suamiku skait akhirnya aku kerjakan sendiri. Selesai mandi aku segera kembali ke ruangan pak Catur untuk sarapan bersama.


"Mas, ayo sarapan." sapaku setelah selesai mandi.


"Siap, Sayang." jawab pak Catur langsung bangkit berdiri.


Pak Catur sudah agak mendingan dengan mesra pak Catur menggandeng tanganku untuk menuju ruang makan, kami berdua sarapan tanpa suara, aku suapi suamiku dengan penuh kasih.


"Sayang anak-anak tidak rewel kayanya sepi banget." celetuk pak Catur.


"Iya, semalam anak-anak tidur nyenyak, tidak ada yang rewel, bahkan Afriana dan mbak Qib juga ikut menjaga Afwa dan Afwi tanpa aku mintaq." jelasku.


"Syukurlah aku takut anak-anak rewel sayang tidak ada yang membantu." ucap Pak catur.


"Alhamdulillah orang yang bekerja pada kita semua baik-baik dan ringan tangan, mereka bekerja benar-benar ikhlas." terangku.


Selesai sarapan aku dan Pak Catur kembali ke ruang kerjanya, kali ini Aku membantu menyelesaikan pekerjaan pak Catur karena kondisi pak Catur yang belum stabil dan efek obat pemberian dokter sehingga membuat pak Catur harus banyak istirahat.


Lembar demi lembar pekerjaannya, aku selesaikan dengan tepat waktu, sedangkan Pak Catur hanya bagian ngecek, karena pak Catur tidak masuk kantor maka berkasnya di antar ke rumahku, dengan bimbingan pal Catur aku yang mengerjakan dan pal Catur tinggal tanda tangan dan membrnagi sedikit.


Kalau tadi pagi sekretaris pak Catur yang datang mengantar berkas, sekarang di jam makan siang ganti mbak Priska yang datang mengantar berkas sambil menjenguk suamiku.


"Assalamu'alaikum," Mbak Priska memberi salam saat masuk ruang kerja suamiku,


"Wa'alaikum salam, mbak." Aku dan Pak Catur menyambut ramah kedatangan mbak Priska, aku langsung bangkit berdiri dan kami berdua saling berpelukan.


"Kamu jadinya yang sibuk Fah, bagaimana anak-anak?" tanya mbak Priska.


"Alhamdulillah anak-anak anteng, dari semalam juga tidak nangis." sahutku, kami berdua melepas pelukan dan kami duduk di sofa bareng pak Catur.

__ADS_1


"Bagaimana kami Ton?" tanya mab Priska pada suamiku.


"Alhamdulillah mbak sudah baikan," jawab pak Catur sambil menjabat tangan mbak Priska" Berkas yang kemarin sudah selesai dan tolong besok mbak gantikan aku untuk meting dengan investor dari luar negeri." pinta pak Catur.


"Ton justru itu aku kesini, besok aku ada meting juga dengan staf HRD, aku tidak bisa datang, dan untuk investor aku kurang begitu paham kamukan tahu kemampuanku." tolak mbak Priska halus.


"Lalu? kan gak mungkin jika tiba-tiba aku batalkan, gak etis sulit sekali untuk mendapatkan investor dari luar negeri." ujar pak Catur.


"Aku punya usul bagaimana jika istrimu saja yang berangkat meting." usul mbak Priska.


"Aku! Oh tidak mbak saya tidak bisa." Aku langsung menolaknya.


"Ton, tolong pertimbangkan, ini menyangkut kelangsungan hidup para keluarga besar Cakra, coba bayangakn ada berapa ribu keluarga Cakra yang hidup dari pabrik." jelas pak Catur.


"Semoga besok aku bisa sembuh dan bisa meting dengan investor dari luar negeri." ucap Pak Catur.


Sebenarnya aku tidak tega, sekarang saja pak Catur masih pucat, ya memang sudah tidak demam namun tubuhnya masih lemas.


Aku sampai heran kenapa mbak Priska mengusulkan agar aku yang mewakili suamiku untuk meting dengan para investor luar negeri. Dari berkas kemarin aku baru tahu jika perusahaan yang baru dibangun memerlukan suntikan dana besar, tanpa aku ketahui ternyata pabrik baru pernah mengalami gagal produksi, dan tembakau juga ada yang gagal panen sehingga perusahaan mengalami kerugian di en bulan pertama.


"Saya akan coba untuk datang sendiri mbak, kasihan anak-anak." pak Catur memberi alasan.


"Aku yakin Ton istrimu mampu." Mbak Priska meyakinkan akan keraguan pak Catur yang di pancarkan dari kilat wajahnya.


"Sekarang gini saja kita pelajari bareng-bareng, kamu beri arahan pada istrimu, dalam waktu cepat istrimu bakal menguasai situasi." Mbak Priska tetap kekeh pada pendiriannya.


"Terlalu sulit bagi saya mbak." tolakku halus.


"Baiklah sekarang aku akan telpon mbak Irma dan papa, karena tadi pagi aku sudah berbicara dengan mbak Irma dan papa, mereka yakin akan kemampun Afifah." mabk Priska tetap kekeh dengan usualannya.

__ADS_1


Tanpa menunggu jawaban darunpak Catur mbak Priska sudah memencet nomor yang di maksud, dua nomor sudah terhubung nomor papa dan nomor mbak Irma.


Kami melakukan panggilan video call membahas siapa yang akan hadir dalan meting besok, karena gak mungkin meminta bantuan papa atau mbak Irma, karena jadwal mereka juga padat.


[Fah, papa yakin kamu mampu mewakili suamimu] suara papa di balik layar.


[Maaf, Pa, saya sama sekali tidak paham dengan perusahaan] kilahku.


[Iya, Fah, mbak yakin kamu bisa, kalau Priska mampu gak perlu aku ngirim Tono ke Madiun, kamu tahu sendiri mbakmu Priska itu bagaimana, dia paling gak suka ribet] mbak Irma memperjelas.


[Sekarang perusahaan di kota Madiun ada di tangan kalian bertiga, dan ingat ada banyak nyawa yang harus di hidupi] pesan papa.


[InsyaAllah kami akan berusaha semaksimal mungkin] kami bertiga menjawab secara bersamaan.


Panggilan video call berakhir dengan sebuah ultimatum tanggung jawab.


"Bagaimana Fah, Ton?" tanya mbak Priska.


"Tolong panggilkan dokter untuk datang segera, aku ingin tahu kesehatanku." pinta pak Catur tenanng ya aku sebenarnya jika pak Catur bingung dengan situasi seperti ini.


"Baik, saya panggilkan, Astaqfirullah hal'adzim sudah jam dua kita belum makan siang maaf mas, seharusnya mas sudah minum obat!" begitu melihat jam aku baru sadar jika sudah jam dua siang dan belum makan, itu karena alarmku berbunyi yang artian aku harus menyusui kedua bayiku.


"Astaqfirullah hal'adzim." Mbak Priska dan Pak Catur juga baru menyadarinya.


"Kalian makan saja dulu aku susui kedua bayiku, setelah menyusui aku susul kalian." Aku segera pamit dan melangkah keluar menuju kamar anak-anak, untungnya anakku tidak ada yang rewel saat aku masuk kamar mereka berdua sedang bermain deanga mbak Rom, dan salah satu pekerjaku yang bagian bersih-bersih, karena mbak Qibtiyah pasti sudah berangkat menjemput Afriana.


"Assalamu'alaikum Jagoan bunda, pinter sekali tidak rewel, tahu saja kalau bunda lagi sibuk." celotehku begitu menghampiri mereka yang sedang berada di atas kasur lantai.


Aku segera menyusuai mereka secara bergantian.

__ADS_1


"Maaf beberapa hari ini aku sangat merepotkan kalian." ucapku sambil menyusui bayiku.


"Tidak masalah bu, sudah tugas kami." jawab mereka bedua tulus.


__ADS_2