TALAK

TALAK
Part 215 TALAK.


__ADS_3

Tiga hari lagi memang acara selapanan bayi kembarku, karena kami tinggal di kota dan perumahan maka kami menggunakan jasa catering, selain simpel dan praktis tidak mungkin di perumahan ada acara rewang. Untuk acara selapanan dikemas secara sederhana saja, namun acara khotmil Qur'an dan sholawat Nabi tetap menjadi agenda rutin dalam setiap acara tasyakuran keluarga kami. Hari ini papa dan mama datang, bekisu datang seperti biasa naik pesawat turun di solo, tidak mungkinkan turun di lanud iswahyudi.


Rumah kami sudah mulai rame dengan hadirnya mama, papa serta keluargaku. Biarpun acaranya sederhana pak Catur tetap mendecorasi rumah kami sedemikian rupa, dan tetap menyewa jasa decorasi. Dalam waktu hitungan jam taman belakang sudah berubah menjadi cantik dan indah.


"Mas apa tidak berlebihan?" tanyaku..


"Tidak sayang." jawab pak Catur enteng.


Akirnya aku mengalah, acara selapanan berjalan lancar seperti hal ya acara sepasaran kemarin, setelah acara selapanan dilanjut dengan telon-telon dan terakhir adalah piton-piton dalan artian tujuh bulanan atas kelahiran Pure kami.


Kebahagiaan yang selalu menyelimuti keluargaku sehingga membuat waktu sangatlah cepat, satu tahun telah berlalu kini kedua putraku merayakan hari kelahirannya yang pertama mereka menjadi anak yang sangat menggemaskan namun juga sangat aktif.


Bagaimana dengan kehidupan mas Ringgo mantan suamiku, ya aku tidak begitu ingin tahu tentangnya, hari ini tepat di hari ulang tahun putra-putraku orang tuaku membawa kabar tentang mas Ringgo.


"Fah, maaf mungkin ini sudah tidak pantas jika kamu tahu, namun bapak akan mengatakan bagaimanapun Ringgo ayah dari Afriana, Ringgo kemarin telah dikirim ke RSJ solo, alhamdulillah kami semua bisa melepaskan ilmu hitam yang bercongkol pada Ringgo dan keluarga Ringgo setuju jika Ringgo dikirim ke RSJ, semoga Allah mengampuni Ringgo dan Ringgo bisa bertaubat kejalan yang benar." bapak memberitahuku ketika kita berdua sedang duduk santai di teras belakang rumah setelah acara perasaan ulang tahun Afwa dan Afwi.


"Biayanya?" itulah kata yang terucap pertama kali dari bibirku ketika mendengar berita tentang mas Ringgo.

__ADS_1


"Alhamdulillah ada hamba Allah yang dengan iklas mau membantu penyembuhannya." jelas bapakku.


"Pak, apakah Fah berdosa selama Dua tahun ini Fah tidak pernah mengajak Afriana untuk menjenguk bapaknya?" tanyaku gamang, ya mungkin semua orang mengatakan aku jahat karena sejak resmi bercerai aku belum pernah sekalipun mengajak Afriana datang ke rumah orang tua mas Ringgo.


"Tidak, nduk, kami semua paham tentang situasin yang berlaku sekarang, lebih baik Afriana tidak tahu jika bapak kandungnya dalam keadaan ganguan jiwa, yang terpenting sekarang hidupmu sudah bahagia dan jangan pernah dendam dengan Ringgo dan orang tuanya, bagaimanapun suatu saat Afriana tetap membutuhkan bapak kandungnya untuk menjadi wali nikahnya" nasehat bapak gamblang dan seolah menyadarkanku.


"Inshaallah pak, terima kasih bapak sudah mengingatkan Fah." sahutku.


Selesai acara perayaan ulang tahun kedua anakku, kedua orang tuaku pamit pulang, Bukan hanya kedua orang tuaku seluruh keluarga dab tamu undangan pada pamit pulang. Kedua putraku sangat bahagia pak Catur benar-benar seorang kepala keluarga idamam pak Catur dengan senangnya bermain dengan kedua Putra kami dan Afriana. Setelah rumah kembali normal aku memandikan dan mengurus kedua jagoanku bersama suamiku.


"Mas, dari tadi kepalaku pusing, sekali habis ono aku mau tidur, tolong jags Afwa dan Afwi." pintaku pada suamiku.


"Ya Allah mas Afwa dan Afwi masih kecil." keluhku.


"Siaps tahu, toh selama ini kita tidak pakai pengaman." tambah pak Catur.


"Astaqfirullah hal'adzim Mas ." ucapku sambil geleng-geleng kepala.

__ADS_1


Karena pusing aku memilih tidur, aku biarkan pak Catur momong si kembar di sore yang cerah.


"Mas burungnya bagus sekali cantik banget!" seruku ketika ada burung cantik yang berhasil ditangkap oleh pak Catur di taman belakang rumah.


"Alhamdulillah kalau Dinda senang, kita rawat saja burungnya." pak Catur juga tak kalah senang ketika dapat menangkap burung itu.


Gaduh jeritan, canda tawa sudah mulai memekak telinga siapa pelakunya kalau buksn si kembar dan suamiku serta Afriana.


"Ya, Allah ramai sekali," gumamku, aku membuka mataku " Ya Allah ternyata tadi hanya mimpi, burung seperti nyata." gumamku dalam hati namun nyawaku belum benar-benar terkumpul. Karena lelah yang aku alami membuatku enggan untuk bangkit dari tempat tidurku, hingga kedua jagoanku menerobos masuk dalam kamar dari pintu berlari dan menubruk tubuhku yang masih berbaring di atas ranjang.


"Afwa, Afwi hati-hati jangan ganggu bunda dan adik!" seru suamiku yang juga ikut masuk ke kamar dan juga naik di atas ranjang bersama kami.


"Adik siapa Mas?" tanyaku penuh selidik.


"Tentu adiknya si kembar." jawab suamiku enteng.


"Dinda apa lupa?" tanya pak Catur padaku penuh teks teki.

__ADS_1


"Lupa apa mas?" tanyaku karena aku belum benar-benar bangun dari tidurku nyawaku belum terkumpul dengan sempurna.


"Sudahlah."


__ADS_2