TALAK

TALAK
Part 41 TALAK


__ADS_3

Pagi sini badan terasa pegal sekali karena semalaman tidak bisa tidur untungbya kok hari sabtu, karena semalam tidak bisa tidur habis sholat subuh dengan Afriana aku rebahan hingga jam lima pagi aku beli sarapan ke tetangga sebelah yang jualan nasi pecel. Selama ini aku jarang sekali membeli nasi untuk sarapan biasanya aku masak sendiri sekalian untuk makan siang.


Selesai sarapan dan siap aku antara Afriana untuk pergi ke sekolah, selesai mengantar Afriana ke sekolah aku langsung pulang aku kunci rumahku dan kembali tidur karena rasa kantuk yang tidak tertahankan. Jam sebelas siang aku bangun saat aku buka pintu rumahku aku lihat Nafisa juga baru pulang dari ngajar, bapak sedang duduk di teras sambil mengasah sebilah sabit ibuku entah kemana.


"Baru pulang Naf ?" tanyaku pada Nafisa.


"Iya, mbak, tumben pintu rumah mbak tutupan kemana?" tanya Nafisa.


"Tadi aku tidur lagi, habisnya ngantuk banget" Jawabku " Ibuk kemana pak?" tanyaku pada bapak.


"Paling, juga tidur" jawab bapak santai


"Naf, kamu capek gak ? Kalau gak capek kita keluar soalnya aku gak masak" ajaku pada Nafisa.


"Mau... Mau, kalau gitu aku ganti baju dulu mbak" jawab Nafisa senang dan langsung masuk rumah untuk ganti baju.


"Semalam kamu lihat apa, Fah?" tanya bapakku.

__ADS_1


"Gak, ada pak, tapi semalaman aku mendengar suara desisan ular dari kamar sebelah, makanya aku ngantuk semalaman aku gak tidur " jawabku.


"Yo, wes gak po-po, perbanyak tirakat, jika sewaktu - waktu ada serangan kamu bisa selamat " pesan bapak " Dan lagi jika kamu melihat ular emas kecil jangan kamu bunuh, dan jangan kamu ganggu karena dia juga tidak akan mengganggu kamu, soal suara semalam dia hanya ingin mengingatkanmu agar kamu lebih banyak tirakat dan mendekatkan diri kepada Allah " pesan bapak lagi yang duduk di teras rumah sambil mengasah sabit.


"Inggih, pak " jawabku singkat.


Bapaku sering memberi pesan - pesan aneh dan tidak masuk akal, bahkan kadang aku tidak paham dengan ucapan bapak, memang dari kecil aku sering mengalami kejadian mistis namun aku sering mengabaikannya.


Kadang aku sendiri juga tidak enak ketika ada yang menebak benar siapa aku, bahkan kadang dari orang yang tidak aku kenal mereka langsung bertanya "Apa kamu keturunan Kyai Grinting ?" pertanyaan seperti itu sering aku dapatkan dari orang - orang tertentu.


Pada jamannya Kyai Grinting memang sangat terkenal kebaikannya dan kehebatannya dalam melawan dukun santet dan lelembut kiriman dari orang yang syirik. Cerita dari orang - orang yang pernah mengenal Kyai Grinting beliau memiliki kekuatan bisa memghilang atau pun terbang. Sebenarnya aku sendiri juga kurang percaya itu, namanya aku hidup di jaman modern ku pikir yang bisa terbang itu hanya pendekar - pendekar di film - film TV saja.


Sebenarnya akupun juga tidak percaya jika aku salah satu keturunan dari Kyai yang sangat di segani pada jamannya.


"Mbak Fah, ayo sudah siap belum ?" tanya Nafisa yang sudah berdiri di depan pintu kamarku.


"Ayo, kamu mau makan apa, Naf? hai keponakan bupuh kamu mau di belikan apa sama bupuh ?" tanya sambil menusap perut Nafisa.

__ADS_1


"Ikut permintaan, Afri, saja biasanya Afri, makan apa aku pingin " ucap Nafisa.


"Baiklah, pakai motorku saja, kamu sudah pamit sama Fauzan belum ?" tanyaku pada Nafisa.


"Sudah mbak tadi aku sudah telpon mas Fauzan, kalau deket bengkel dia mau gabung katanya, kan pas waktunya mas Fauzan istirahat " ucap Nafisa.


"Pak, Buk aku sama Nafis mau keluar, nanti mau di bawakan apa?" pamit ku pada orang tuaku yang sedang duduk di teras.


"Panas - panas kok ya mau keluar to nduk - nduk, mbok nanti saja agak sorean biar redup dulu mataharinya" ucap ibuku saat aku pamiti.


"Ngidam buk" jawabku asal.


"Mbok biarin to buk, wong mumpung libur" ucap bapakku " hati - hati cepat pulang " pesan bapaku" Belikan degan, kalau ada " pesan bapak.


"Aku yo belikan degan " pinta ibuku "cepat pulang adikmu lagi hamil "pesan ibuku.


Kami berdaua berboncengan sepeda motor menuju sekolahan Afriana untuk jemput Afriana dulu.

__ADS_1


__ADS_2