TALAK

TALAK
Part 157 TALAK.


__ADS_3

"Ibuk, ini kalau beli dari pasar adiknya gak besar-besar, kecil teros dong gak bisa di ajak bicara." celoteh Afriana.


"Beli boneka yang buuuesarr dong Af, yang segede ibuk." ucapku.


"Aku ya gak kuat gendong buk, kalau besar, aku pinginnya adik yang kecil-kecil bisa nangis oek, oek." celoteh Afriana.


"Ya adiknya bulek Nafisa saja Af," sahutku" Emange ayah bilang apa sama Afri?" tanyaku pada Afriana.


"Ayah, gak bilang apa-apa, buk." ucap Afriana


"Beneran gak bohong?" tanyaku sambil menggelitik tubuh Afriana " Hayo bilang jujur ke ibuk."


"Ampun ibuk, ibuk, ibuk, iya ya." teriak Afriana sambil cekikikan.


Kami berdua cekikikan bersama sampai-sampai ibukku masuk dan melihat kami berdua.

__ADS_1


"Kalian itu kenapa, malam-malam jangan banyak tertawa, pamali." nasehat ibukku" Dah ceperan tidur, sudah malam.


"Ibuk itu lo mbah, masa aku di gelitiki, aku-kan pingin adik kaya bulek Nafis, biar rame, biar aku ada temannya." Afriana mengadu pada ibukku.


"Beli saja di pasar, Af." celetuk ibukku menggoda Afriana.


"Mbah sama ibuk sama saja masa adik bisa beli di pasar, wong kata bulek Nafis dan ayah gak bisa kok." sanggah Afriana.


"Ayo tidur dulu sudah malam, besok kesiangan, berdoa dulu." perintahku.


"Buk, bagaimana persiapannya?" tanyaku pada ibukku.


"Semua sudah siap, cuma ibuk tadi sudah rundingan dengan bapakmu, alangakah baiknya kita mengabari orang tua Ringgo, jika kamu berkenan kamu bisa bersama dengan kami namun jika tidak berkenan biar ibuk dan bapak saja yang kesana, bagaimanapun mereka masih ada hubungan darah dengan Afriana, tidak baik kita memutuskan hubungan darah." nasehat ibukku bijak.


"Entahlah buk, Fah, sendiri belum siap, masih malas untuk ke sana, bukannya apa buk." ucapku menggantung.

__ADS_1


"Ya, ibuk tahu, tidak apa ibuk dan bapak tidak memaksamu, cuma ibuk pesan, berdamialah dengan keadaan, jangan menyimpan dendam agar hidupmu kelak lebih bahagia, dan berkah, sekarang tidurlah." nasehat ibukku lembut.


Aku tidak menjawab aku mencoba untuk memejamkan mata, sudah enam bulan lebih aku tidak lagi datang ke rumah orang tua mas Ringo, dan sudah tiga bulan Afriana, oleh keluargaku juga tidak diantar ke rumah orang tua mas Ringgo, semua ini dilakukan demi keselamatan Afriana dari ancaman mas Ringgo. Dan aku ingat sudah tiga bulan aku juga tidak lagi memberi uang untuk orang tua mas Ringgo. Bagaimana kedaannya sekarang aku juga tidak tahu, bukannya aku tidak ingin tahu aku lebih menyibukkan diriku untuk menata hati dan pikiranku serta Afriana putriku. Lamunanku buyar saat ada notif dari gawaiku, aku lupa belum aku matikan, aku raih gawaiku yang aku letakkan di bawah bantalku sebelum mematikan gawaiku aku lihat dulu siapa yang beekirim pesan, ya sebuah nama yang akhir-akhir ini membuat damai hatiku.


[Dindaku, jangan terlalu banyak pikiran, beristirahatlah] pak Catur.


[Terima kasih, Kangmasku, bagaimana masih bekerja atau sudah selesai? Ingat pesan mbak Priska jika tidak selesai] aku.


[Alhamdulillah, baru selesai, jangan khawatir dindaku, inshaallah semua akan baik-baik saja dan pernikahan kita tidak akan tertunda, tidurlah Dindaku, sampai jumpa besok, dan setelah tiga hari kita tidak boleh bertemu pagi] pak Catur.


[Baik, kangmas selamat istirahat, jangan terlalu capek, inshaallah semua baik-baik saja] aku.


Selesai membalas chat dari Pak Catur aku matikan gawaiku dan aku simpan kembali di bawah bantal. Dengkuran halus dari Afriana dan juga ibukku membuatku tersenyum, mereka yang menjadi kekuatanku selama ini, Ibu yang selalu menasehatiku merengkuhku, anakku yang menjadi kekuatanku untuk bertahan selama ini, bertahan dengan pernikahan yang tidak sehat, namun takdir berkehendak lain, pernikahan yang Aku bangun hampir sepuluh tahun telah hancur dengan kata TALAK."Ya Allah Ridhoi pernikahan Hamba kali ini, mampukan hamba untuk bisa menjalaninya dengan ikhlas." doaku dalam hati.


Kegagalan pernikahanku sebenarnya menorehkan trauma tersendiri di dalam hatiku yang paling dalam, namun aku berusaha untuk tegar dan kuat di hadapan semua orang terutama di hadapan keluargaku, karena aku tidak ingin mereka terlalu mengkhawatirkan keadaanku. Aku berharap pernikahanku kali ini bisa langgeng, menua bersama, bisa menghadapi semua bersama-sama.

__ADS_1


__ADS_2