
Sepulang mengantar Afriana ke sekolah, pak Catur kembali pulang kami sarapan bersama, karena acara di rumah orang tuaku sudah selesai aku dan Pak Catur pamit pulang, begitu pula mbak Yah, sedangkan mbak Us memilih ikut denganku karena ingin bermain kerumah yang kami tempati, mbak Us sengaja nginep karena mbak Us jarang ada waktu dan juga berada di luar kota.
"Silakan masuk mbak," ucapku ketika kami sudah keluar dari mobil.
"Mari masuk mbak," ucap Pak Catur " Ya Begini lah gubuk kami, semoga mbak senang," ucap Pak Catur lagi, kami bertiga duduk di ruang tamu.
"Terima kasih, maaf merepotkan kalian," ucap mbak Us sopan
"Bapak dan Ibuk mau minum apa?" tanya Qiptiyah pada kami sopan.
"Tidak usah, terima kasih, nanti biar kami ambil sendiri saja," jawabku halus " Mbak Qip, tolong bawa tas mbak Us ke kamar tamu, malam ini mbak Us nginep di sini besok baru pulang," perintahku sopan.
"Baik Buk," jawab Qibtiyah sopan dan ramah.
Hari ini karena hari jumat setelah mengantarku dan mbak Us, pulang pak Catur kembali menjemput Afriana pulang sekolah. Pak Catur senfaks tidak masuk kerja lagi karena setelah dhuhur akan datang seorang suster yang sudah di pesan oleh pak Catur untuk menjagaku. Sepulang dari menjemput Afriana pak Catur pergi ke masjid untuk melaksanakan sholat jumat, sedang aku di rumah bersama dengan mbak Us dan Afriana ngobrol di kamar Afriana, Afriana dengan antusiasnya memamerkan semua padabak Us.
"Bupuh, kalau mbak Nadzira pulang dari pesantren ajak kesini ya," pinta Afriana.
__ADS_1
"Iya, Af, kamu gak pingin masuk ke pesantren seperti mbak Nadzira, biar hafalan mu tambah mahir," tanya mbak Us pada Afriana.
"Sebenarnya ya pingin bupuh, kata ibuk kalau sudah lulus SD baru boleh menuntut ilmu di pesantren." celoteh Afriana senang.
Kami menghabiskan waktu bersama, sampai pak Catur pulang dari masjid, begitu pak Catur baru masuk rumah kami bertiga beranjak dan mengambil air wudhu untuk melaksana sholat dhuhur. Setelah sholat dhuhur aku tetap menghabiskan waktu bersama mbak Us dan Afriana di kamar Afriana, sedang pak Catur masuk ruang kerjanya untuk menyelesaikan pekerjaannya.
"Bu, ada tamu mencari bapak dan ibu katanya seorang suster." lapor Qibtiyah sopan padaku.
"Suruh duduk dulu mbak Qib, aku panggil bapak dulu." sahutku.
"Mas," Aku masuk ke ruanf kerja Pak Catur.
"Iya, sayang." sahut pak Catur mendongak ke arahku.
"Susternya susah sampai," ucapku.
"Baik kita kesana sekarang,"
__ADS_1
Aku dan pak Catur melangkah menuju ruang tamu, di sana ada dua suster dengam perawakan sedang dan berhijab.
"Assalamu'alaikum Bu Pak," sapa kedua suster hormat dan ramah.
"Wa'alaikum salam," sahutku dan Pak Catur bersamaan, Aku hanya mengangguk dan memberi senyum ramah pasa mereka.
"Sayang, ini suster yang mas kerjaan untuk menjaga sayang dan anak kita," terang pak Catur ramah." Mbak ini istri saya ibu Afifah, dan kalian harus menjaganya karena sekarang istri saya dalam keadaan mengandung, kalian kerjanya pakai sip sesuai jadwal yang ada, saya harap kalian benar-benar ikhlas dan bertanggung jawab, soal gaji sesui kontrak yang pernah kita tanda tangani." terang pak Catur.
"Baik pak, bu," jawab kedua suster sopan secara bersamaan.
"Nama mbak siapa?" tanyaku.
"Saya Inayah, biasa di panggil Ina" jawab suster sopan.
"Saya Romlah, biasa di panggil Rom," jawab Romlah tak sopan.
Dua suster yang di sewa pak catur semuanya berusia hampir empat puluh.
__ADS_1