TALAK

TALAK
Part 160 TALAK


__ADS_3

Malam ini aku tidak bisa tidur, hingga jam dua belas malam aku masih terjaga, setelah selesai ikut membantu membungkusi tape ketan, bersama dengan mbak Yah dan mbak Us, sebenarnya pekerjaan sudah selesai namun namanya orang kampung jika mau punya hajatan, para bapak-bapak melek-an sekedar minum kopi dan ngobrol ringan kata orang sesepuh untuk jaga-jaga agar tidak ada gangguan dari bangsa halus. Akhirnya jam dua malam aku baru tertidur setelah setelah semua tertidur namun tidak dengan bapakku, beliau dan kawan-kawan tetap terjaga.


Adzan subuh berkumandang disaat yang lain pergi ke mushola untuk sholat subuh berjamaah aku tidak diperbolehkan untuk ikut sholat berjamaah, aku sholat di rumah selesai sholat, aku langsung menata tempat untuk acara khotmil Qur'an di bantu oleh Fuazan.


"Mbak Fah, sudah mandi? mereka sebentar lagi datang." ucap Fauzan sambil menata kabel dan microfon untuk khotmil Qur'an.


"Sudah, dari sebelum subuh, lihatlah baju saja aku sudah ganti masa belum mandi." jawabku sambil menata Al-Quran di atas bangku kecil.


"Besok jangan mandi mbak, biar gak hujan." ucap Fauzan.


"Hujan ya ngiyup Zan." sahutku cuek.


"Dibilangin ngeyel."


Di kampungku memang ada mitos jika pengantinnya mandi maka akan turun hujan lebat disaat acara berlangsung, namun itu entah benar atau tidak aku kurang paham, kenyataannya sampai sekarang mitos itu tetap dipercaya oleh masyarakat di kampungku sampai sekarang.


Jam 6,30. Pagi para undangan telah hadir terdiri dari tiga hafidzah dan dua orang biasa seperti aku, setelah bercakap-cakap sebentar untuk basa basi acara khotmil Qur'an di mulai, karena aku yang menjadi pengantin maka aku yang memulai melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran mulai dari suay Alfatihah lanjut surat Albaqarrah hingga selesai satu surat. Nafisa dan mbak Us ikut menyimak tidak ketinggalan pula anaku Afriana dia ikut menyimak dengan khusuk duduk di dekatku, sedang mbak Yah sibuk sendiri dengan ibu-ibu memasak di dapur. Merdu dan indahnya lantunan ayat suci Al-Quran menambah sausana semakin tenang dan damai.

__ADS_1


Jujur saja aku sedikit grogi untuk melantunkan ayat suci Al Qur'an di hadapan para hafidzah, mengingat aku jarang mengikuti acara khotmil Qur'an. Jam tujuh pagi sarapan dan jidangan makanan ringan sudah tersajikan di atas meja, biasanya mereka makan secara bergantian jadi acara khotmil Qur'an tetap berlanjut tanpa jeda.


Kesibukan di rumahku dan rumah ibukku tidak dapat dielakkan lagi apalagi hari ini h-1 acaranya sangat penuh, ada yang memasang decorasi untuk acara akad, ada yang hilir mudik membawa rantang berisi makanan untuk dibagikan kepada tetangga maupun kerabat. Di dapur para ibu-ibu di sibukan dengan acara masak, asap di dapur mengepul dengan riangnya, wajik, jadah, tetap menjadi menu utama dalam acara hajatan di kampung.


Alhamdulillah acara khotmil Qur'an berjalan lancar jam satu siang sudah selesai, dan aku lihat para tetangga kelihatannya juga sudah selesai membagikan makanan ke tetangga dan kerabat. Sekarang para ibu-ibu fokus untuk masak buat acara nanti sore,berkat kenduri bapak-bapak dan berkat untuk para undangan sholawat.


"Fah, tadi Bupuh Nyai bilang, beliau ingin menyumbang sholawat untuk besok pas acara akad, kira-kira dua belas santriwati yang di utus." ucap ibukku yang duduk di dekatku.


"Apa meraka tidak sekolah buk, santrinua Bupuh Nyai kan pelajar semua. " jawabku.


"Besok, kan hari minggu Fah." sahut ibukku.


"Sebenarnya bapak dan ibuk sudah menolak tapi Bupuh Nyai yang kekeh ingin menyumbang katanya bagaimanapun juga, dulu kamu kan juga santrinya di sana, itu sebabnya Bupuh Nyai kekeh, supaya pernikahanmu semakin berkah karena banyak yang mendoakan." nasehat ibukku.


"Baiklah buk, Fah, sebenarnya sungkan buk, soalnya Fah jarang sowan ke tempatnya Bupuh Nyai, apalagi sekarang mau menikah tidak sowan ke Bupuh malah di sumbang sholawat." ucapku.


"Rejekimu, Fah, di syukuri saja, berarti masih banyak orang-orang yang sayang padamu nduk." nasehat ibukku lagi.

__ADS_1


Saat sudah agak longgar aku buka gawaiku, banyak sekali pesan masuk dari teman pabrik dan kantor. Serta ada salah satu pesan dari Pak Catur dan mbak Irma.


[Subhanaallah, suara Dinda bikin kangmas tambah adem] pak Catur.


[Maksudnya] aku.


[Besok saja] pak Catur.


Dari kiriman mbak Irma aku buka ternyata video pak Catur yang sedang melantunkan ayat suci Al-Quran, pak Catur ternyata juga melantunkan ayat suci Al-Quran surat yang sama dengan yang aku baca, dari video aku melihat jika pak Catur didamping oleh kedua kakaknya mas Tri dan mas Dwi.


"Assalamu'alaikum." Nina dan mbak Rani datang, karena masih harus masuk kerja mereka datangnya agak sore.


"Wa'alaikum salam." sahut kami semua yang mendengar ucapan Salam dari mabk Rani dan Nina.


"Maaf, ya baru datang, habisnya bosmu gak ngasih ijin sih." gerutu Nina.


"Bukan bosnya tapi suaminya."celetuk mbak Rani.

__ADS_1


Kami semua ngobrol sambil melakuakan pekerjaan ringan seperti memasukan jajan ke dalam kotak jajan. Membungkusi makanan yang akan di sajikan untuk besok, atau sekedar menghiasi jajanan untul parcel oleh-oleh untuk keluarga mempelai lelaki.


__ADS_2