TALAK

TALAK
Part 20 TALAK


__ADS_3

Begitu menerima pesan photo - photo lewat WhatsApp dari Nafisa hatiku sangat senang, di photo nampak ekpresi mereka bertiga yang sangat bahagia.


Mereka bertiga photo dengan berbagai macam pose yang berbeda - beda, sambil senyum - senyum aku memandangi dan membalas WhatsApp dari Nafisa dengan tanda love. Aku segera mengunggah photo Afriana, Fauzan dan Nafisa dalam WhatsApp storyku photonya aku kasih chapter, (senyummu adalah kebahagiaan ku dan tanda love).


Setelah memasamg WhatsApp story ku, akumelanjutkan lagi pekerjaanku agar sebelum mereka sampai rumah pekerjaanku sudah selesai toh tinggal sedikit lagi. Tidak lama mereka bertiga sudah sampai rumah dengan membawa dua bungkus sate ayam dan sapi. Aku segera kerumah orang tuanya dan ikut menyantap sate dari mereka bertiga, Afriana datang dengan wajah yang berbunga bunga, Afriana langsung menceritakan semua tentang aktifitasnya yang di lalukan di alon - alon kota tadi.


"Af, sudah malam, ayo pulang tidur, besok main lagi " ucapku pada Afriana


"Buk, besok main lagi ya ke Sun city, aku pingin renang lagi, rasanya sudah lama tidak ke sana " pinta Afriana padaku


"Jangan besok, ya, Af, ibuk kan mau bantu, Mbah, jemur padi, Pak lek besok juga lembur, kasihan bulek Naf sana mbah, bagaimana jika minggu depan" ucapku


"Baiklah, kalau begitu, besok kita jemur padi saja " ucap Afriana walau sedikit kecewa.


"Af, kalau kita gak bantu mbah dan bulek jemur padi , padinya nanti berjamur dan tidak bisa jadi beras, kalau tidak punya beras bagaimana kita bisa makan" ucapku memberi pengertian pada Afriana agar tidak cemberut.


"Baiklah, Buk, kalau gitu ayo pulang, udah ngantuk, gendong" ucap Afriana sedikit manja


"Sudah besar kok gendong to, Af, kasihan ibukmu, sini Paklek antar " ucap Fauzan


"Enggak mau Pak lek " jawab Afriana dan langsung naik di gendonganku


"Pamit dulu " pintaku pada Afriana


"Mbah, aku bubuk di rumah bersama ibuk " ucap Afriana


"Jangan lupa Pintunya di kancing semua,Fah" pesan ibukku


"Inggih, Buk " jawabku

__ADS_1


Aku langsung pulang sambil menggendong Afriana, sampai rumah langsung aku suruh Afriana untuk sikat gigi, cuci muka dan cuci laki sebelum tidur.


Tidak perlu waktu lama kami berdua sudah terlelap dalam mimpi, mudah bagiku untuk tidur sama sekali tidak mengalami masalah.


Namun sungguh berbeda dengan Pak Catur, pak Catur belum bisa memejamkan matanya, pak Catur masih bergelut dengan laptopnya di salah satu kamar yang ada di rumah bu Priska. Malam ini pak Catur memenuhi janjinya pada Rahma untuk menginap, karena paginya mau bersepeda dengan Pak anam.


Di saat selesai mengerjakan pekerjaannya pak Catur membuka aplikasi WhatsApp siapa tahu ada hal penting dari perusahaan ataupun dari keluarganya.


Saat membuka WhatsApp story pak Catur melihat unggahan Afifah yang berupa foto, Fauzan, Afriana dan Nafisa. Pak Catur hanya senyum - senyum saja, dan sama sekali tidak berniat untuk mengomentarinya, menurutnya tidak pantas mengomentari status orang yang sudah berkeluaraga.


Di taruhnya hp dan Pak Catur berusaha untuk memejamkan matanya, walau tidak mudah bagi pak Catur untuk segera tidur nyenyak. Keadaan seperti ini sudah di alami pak catur semenjak kepergian istrinya yang dalam keadaan mengandung anak pertamanya.


Jam 5, 30 pagi Pak Catur dan Pak anam sudah bersiap siap berangkat untuk bersepeda menuju sebuah desa yang menurutnya sangat asri.


Dengan bekal sebotol air minum dan memakai seragam oleh raga lengkap kusus sepeda mereka berdua mengayuhkan sepedanya dengan santai. Setelah hampir satu jam perjalanan mereka berdua berada di desa kemarin yang di tuju oleh pak Catur dan kakung, desa Randu ijo.


"Enggak, cuma pingin saja, didekat makam kan ada sungai, aku mau mancing di sana " ucap Pak Anam santai


"Mancing, memang mas bawa pancingan ?" tanya pak Catur lagi


"Bawa" jawab pak anam santai sambil tetap me gayuh sepedanya.


Sesampainya mereka di sungai mereka langsung turun ke sungai dan mancing di sana sampai 1 jam lamanya. Selama satu jam mereka tidak mendapatkan ikan, dan memang ada beberapa orang dan anak - anak sedang memamcing juga sebagai hiburan.


"Sejak kapan mas, di sini boleh mancing ?" tanya pak Catur pada pak Anam


"Dari dulu, cuma kamu gak tahu saja" jawab pak Anam yang sudah menggulung kalinya dan siap siap untuk pulang.


Di saat pak Catur dan Pak Anam menuntun sepedanya, pak Catur melihat Afifah, Nafisa dan Afriana sedang mengekuarkan padi dari dalam rumah untuk di jemur.

__ADS_1


Afifah menggunakan daster kebenarannya khas orang kampung lengkap dengan hijab instannya, penampilannya sangat sederhana jauh beda dengan saat bekerja di kantor. Tanpa di sadar pak Catur mengulas senyum, pak Anam yang melihat ekpresi adik iparnya langsung bertanya.


"Ada yang lucu, kok senyum - senyum sendiri ?" tanya pak Anam sambil menuntun sepedanya.


"Ah, enggak cuma lihat, Ibu - ibu itu lagi jemur padi kok kelihatan lucu " jawab pak Catur asal


"Mereka itu wanita tangguh, kamu kira jemur padi mudah, lihat mereka geret padi sekarung sendirian bukan perkara mudah, mereka tidak akut gatal, coba kamu ! Paling yo takut gatal !" ucap Pak Anam.


"Lagian di kota mana ada padi mas!" seloroh pak Catur asal "Mas, lihat dulu orang jemur padi ya, penasaran " ucap pak Catur dan berdiri agak jauh dari tempat Afifah me jemur padi


"Kamu sekalian belajar juga boleh, aku bilang ke mereka, kalau kamu mau belajar jemur padi" kelakar pak Anam yang menuruti permintaan Adik iparnya.


Dengan semangat Afifah menjemur padi tanpa memperdulikan keadaan sekitar, Afifah menuang padi di terpal dan meratakannya, setelah meratakannya Afifah menyapu padinya dan mengayaknya (di tapeni) agar hilang daun padi kecil -kecil yang ikut tergiling mesin, begitu pula Nafisa melakukan hal yang sama. Afriana bagian mengusir ayam yang datang karena mau makan padi.


Sekitar kurang lebih 45 menit mereka selesai, dan masuk rumah. Pak Catur pak anam segera pergi dari tempatnya.


Dalam perjalanan pulang pak Catur dan pak Anam ngobrol ringan tentang perpadian. Pak Anam yang melihat begitu antusiasnya pak Catur bertanya tentang perpadian sedikit heran.


"Kamu mau beli sawah apa? Kok nanyanya njlimet " ujar pak Catur sambil terus mengayuh sepedanya


"Kelihatannya asyik mas, lihat tuh bisa bermain di lumpur " ucap Pak Catur yang melihat orang yang sedang mencangkul sawah


"Mencangkul itu bukan pekerjaan ringan Ton, kalau gak terbiasa ya gak bisa " ujar pak anam


"Ajari Mas, Mas kan bisa Mencangkul " ucap pak Catur


"Nanti, aku bilang ke Kakung, kakung ahli dalam Mencangkul sawah " ucap Pak Anam


Mereka berdua terus melanjutkan perjalanannya untuk kembali kerumah, sambil menikmati pemandangan jalan desa.

__ADS_1


__ADS_2