
"Kalau Afri bersungguh-sungguh inshaallah bisa, sekarang sudah hampir magrib ayo mainannya dikemasi dan kita masuk rumah, nanti dicari ayah." perintahku pada semuanya yang ada di gazebo.
Kami bersama-sama mengemasi maianan lego, bahkan si kembar juga ikut mengemasinya, walau naruhnya asal. Aku bahagia sekali melihat mereka rukun, apalagi Afriana sangat bisa diandalkan dalam membantu menjaga kedua adiknya.
"Buk, benar ya nanti bilang ke ayah, Afri gak mau sekolah biasa." tengek Afriana.
"Iya, nanti bilang ayah." sahutku.
Aku dan Afriana menggandeng sikembar untuk masuk ke dalam rumah sedang mbak Qibtiyah dan Mbak Romlah membawa mainannya untuk di kembalikan di tempatnya. Sesampainya di dalam rumah aku langsung membantu si kembar untuk mencuci tangan, dan Afriana juga segera berwudhu karena waktu sudah menjelang magrib. Adzan magrib berkumandang kami semua berkumpul di mushola yang ada di rumah, jika sikembar tidak rewel kita bisa sholat berjamaah secara bersama, namun jika si kembar rewel biasanya mbak Inayah atau mbak Romlah yang jagain si kembar. Pak Catur walau kondisi kesehatan kurang baik beliau tetep berusaha menjadi imam sholat dalam keluargaku.
Kebiasaan dalam rumahku setiap hari hampir sama, perang ini setelah sholat magrib Afriana yang biasanya belajar kali tidak dia ngikuti kemana aku pergi dan kebetulan guru les Afriana juga lagi berhalangan untuk datang.
"Buk." rengek Afriana.
"Coba bilang sendiri ke ayah, biasanya juga bilang sendiri gitu." ucapku saat kami berada di kamar anak-anak.
"Kenapa ?" tanya pak Catur yang tahu akan gelagat kami.
"Ini, lho Yah, Afriana setelah lulus SD tidak mau sekolah di sekolah umum, Afri mau mondok saja." ucapku.
"Masyaallah, beneran Af?" tanya pak pak Catur pada Afriana.
"Iya, Yah, Afri kepingin jadi hafidzah sebelum kuliah." jawab Afriana jujur.
__ADS_1
"Ayah sangat setuju, Ayah ijinin tapi Afriana harus benar-bebar belajar jangan hanya buat mainan." pesan pak Catur pada Afriana.
"Terima ayah," Afriana sangat girang sekali" Sekarang Afri mau belajar dulu." Afriana langsung pergi menuju kamarnya untuk belajar.
Aku dan Pak Catur hanya geleng-gekebg kepala melihat tingkslsh konyol Afriana.
"Bund, bukankah guru les Afri tidak bisa datang lalu Afri belajar sama siapa?" tanya pak Catur padaku.
"Biasanya juga sendiri." sahutku
"Besok Ayah antar bunda ke dokter, semoga benar dugaan Ayah." ucap Pak Catur dengan wajah penuh harap.
"Bunda takut tidak bisa merawat dan menyayangi mereka dengan baik." keluhku.
"Haduh mas-mas." Aku sedikit kesal dengan suamiku.
"Ayah lupa, minggu ini kita jalan-jalan ya bund, mumpung kehamilan bunda masih muda."
"Ma ma ma nen nen nen." celoteh Afwa yang ingin minum Asi.
"Sini sayang Afwa, habis main sudah lapar ya." ocehku, aku mengulurkan tangan pada Afwa, Afwa langsung berjalan menuju ke arah ku dengan senyum memamerkan giginya yang baru tumbuh enam.
"Hua hua hua hua." tiba-tiba Afwi menangis begitu melihat Afwa sudah mulai minum Asi.
__ADS_1
"Afwi lapar?, gantian ya, sini gendong Ayah dulu, Jagoan tidak boleh cengeng ya." pak Catur merayu Afwi yang sedang nangis karena juga ingin minum Asi.
"Lihatlah Yah, aku gak bisa ngebayangin jika aku hamil lagi, mereka belum cukup untuk asinya, mereka masih terlalu kecil, setahun terlalu dekat, bunda benar-benar gak bisa ngebayanginnya." ocehku sambil memberi Asi pada Afwa.
"Tidak usah di bayangin cukup di jalani, enak kan." jawab pak Catur asal sambil menggendong Afwi.
"Ayah... Ayah." ocehku sedikit kesal.
"Ayah, kan selalu di sini bersama Bunda dan anak-anak." jawab pak Catur enteng seolah tanpa beban.
"Pa pa pa pa." kini Afwi sudah berhenti menangis dan sekarang mengoceh di gendongan pak Catur, dan juga dengan senyum gemasnya menunjukan giginya yang baru tumbuh delapan.
"Pinter Jagoan, Ayah, yuk panggil Ayah." oceh pak Catur sambil menggendong Afwi.
"Ayo sini sekarang giliran dik Afwi, mas Afwa bermain sama ayah dulu ya, sekarang ganti dik Afwi yang minum Asi." ucapku sambil memberikan Afwa pada pak Catur.
Menyusui si kembar saja sudah membuatku sangat rempong, karena mereka berdua akan selalu merebutkanku, lalu bagaimana jika aku benar-benar hamil bayiku bertambah kagi, entahlah terlalu ribet jika di bayangkan.
"Jangan melamun Bunda sayang, kita lihat saja besok bagaimana, bunda jangan stress memikirkan hal-hal tang akan mengganggu fikiran Bunda." nasehat pak Catur, sebenarnya otakku sudah tidak begitu nyambung ketika diajak ngobrol oleh pak Catur.
"Entahlah Yah, tapi kata orang tua dulu jika mimpi menangkap burung berarti akan mendapatkan momongan, itu menurut mitos orang jawa tapi Waallahu a'lam, boleh percaya boleh tidak." ucapku sambil terus menyusui Afwa.
"Kalau memang kita ketambahan rejeki momongan, kita wajib banyak bersyukur Bund, sebab di luaran sana banyak sekali orang yang mengharapkan hadirnya buah cinta dalam pernikahan mereka, namun sampai bertahun-tahun dan segala macam usaha di lakukan tidak membuahkan hasil." pak Catur menasehatiku agar aku tidak berkeluh kesah.
__ADS_1
Aku berpikir dan mencerna apa yang diucapan oleh suamiku tadi, ya memang benar adanya.