
Kini sepuluh bungkus sate sudah berpindah tangan, pak satpam menerima pemberian dari suamiku dengan girang, setelah memarkir motor kami berdua masuk rumah kini rasa kantuk mulai menyergap mataku, namun di balik rasa kantukku ada dorongan tertentu dari dalam tubuhku.
"Mas." panggilku manja.
"Mas tahu, sekarang kita masuk, dan bersihkan dulu." ucap suamiku seolah tahu akan kemauanku.
Kami bedua langsung menuju kamar kami, namun sebelumya aku sempatkan melihat kedua anak kembarku yang sedang terlelap di kamarnya sendiri sedangkan susterku tidur di kamar sebelahnya.
Malam semakin larut, ah sebenarnya bukan lagi semakin larut namun menjelang pagi, Karena jam satu malam aku dan suamiku baru saja selesai membersihkan diri setelah pulang dari makan sate. Malam ini tidak lagi kami gunakan untuk tidur namun kami melaksanakan ritual yang hanya boleh dilaksanakan oleh pasangan halal untuk mendatangkan pahala dan berkah dalam mengarungi bahtera rumah tangga kami.
Sebelum adzan subuh berkumandang kami memilih untuk segera mandi karena jika kami memilih tidur sudah dipastikan ketinggalan subuh karena kami belum tidur sama sekali. Suatu peristiwa yang belum pernah aku rasakan selama pernikahanku dengan Pak Catur, biasanya kalaupun bergadang itu karena di kecil rewel atau ada keluarga yang sakit, semalam kami benar-benar bergadang, mulai dari menyelesaikan pekerjaan kantor hingga menyelesaikan hasrat yang sudah menguasai tubuh kami.
Selesai melaksanakan sholat subuh aku berpesan pada semua penghuni rumah jika kami berdua mau istirahat dengan alasan habis nglembur mengerjakan pekerjaan kantor. Untuk kedua anakku aku sudah menyediakan Asi di dalam lemari es sehingga tinggal mengasihkan saja.
Kami berdua benar-benar kelelahan, ketika aku masuk kamar ternyata suamiku sudah terbuai dengan alam mimpinya, aku menyusul suamiku sebelum memejamkan mata aku pandangi wajah kelelahan dari seorang lelaki yang beberapa tahun ini memperlakukanku bak seorang permaisuri, seorang lelaki yang mencintai dan menyayangiku dengan tulus, seorang lelaki yang mampu membakut luka yang pernah di gore's kan oleh mantan suamiku, seorang lelaki yang selalu membuatku terbanng ke awan, seorang lelaki yang selalu membuatku bahagia aman dan nyaman saat bersamanya. Setelah puas memandanginya aku kecup pipi suamiku dan aku peluk erat tubuhnya lalu aku mulai memejamkan mataku.
Suara riuh anak-anak memecah keheningan dalam mimpiku, cahaya sinar matahari mulai menerobos masuk ke kamarku melalui setitik celah dining kamarku, aku buka mataku dan ternyata suamiku masih terbuai dengan alam mimpinya, aku raih handphonku di atas majas untuk melihat waktu, jam sepuluh siang, ya sekarang ternyata sudah jam sepuluh siang, ingin bangun tapi mataku masih ngantuk dan tubuhku juga masih pegal-pegal sebab semalam kami berdua bagai orang yang kalap, seperti orang yang baru bertemu setelah sekian lama berpisah, aku bergerak karena ingin ke kamar mandi.
"Tidurlah dulu sayang temani mas." pinta suamiku dengan mata masih tertutup dan suara berat khas orang yang masih ngantuk.
"Aku mau ke kamar mandi dulu mas." jawabku turun dari ranjang.
__ADS_1
Selesai dari kamar mandi aku melihat suamiku duduk bersandar di kepala ranjang.
"Bukannya mas mau tidur lagi?" tanyaku.
"Ya, tapi kok sudah jam sepuluh bagaimana dengan anak-anak?" tanya suamiku.
"Inshaallah anak-anak aman," jawabku sudah kembali naik di atas ranjang dan kbaki merebahkan tubuhku di atas ranjang.
"Capek?" tanyaku suamiku.
"Capek, tubuhku pegal-pegal semua." jawabku jujur.
"Maaf, sudah membuat Dinda sayang kecapek-an, bagaimana dengan kandungan Dinda?" tanyanya cemas, karena semalam suamiku benar-benar seperti di luar kendali.
"Kita tidur lagi nanti jam dua belas kita keluar." ucap Pak Catur sudah kembali berbaring dan memeluk erat tubuhku.
"Maafkan ayah sayang, semalam ayah sudah mengganggumu, mengusik ketenanganmu, eh tapi bukan ayah saja bunda juga lo, sampai ayah kuwalahan" bisik suamiku sambil membelai lembut perutku.
"Ih, ayah." cicitku aku benar-benar malu jika ingat peristiwa semalam.
"Semalam kita makan satenya terlalu banyak untung saja anak kita bandel."
__ADS_1
Rencana tinggallah rencana tadinya kami ingin kembali tidur namun faktanya kami berdua malah terlibat percakapan ringan hingga satu jam lamanya berbaring kami berdua tidak ada yang memejamkan mata.
"Lapar mas, aku mau makan ubi rebus." cicitku.
"Biar aku minta tolong pak satpam untuk membelikannya." jawab pak Catur.
"Enggak mau, aku maunya ubi dari ladang dan mas yang ngambil." pintaku tanpa dosa.
Suamiku mengernyitkan dahinya "Ladang siapa? Kita tidak punya Ladang lo sayang." jelasnya keheranan.
"Ladang di belakang rumahku atau kadang bapak." sahutku.
"Baiklah ayah ke sana tapi ayah makan dulu." suamiku akhirnya mengalah.
"Aku ikut, aku pingin lihat langsung ayah ngambil ubi di ladang." ucapku.
"Nanti bunda kecapek an." suamiku melarangku.
"Pokoknya aku ikut." kehamilanku kali ini lebih ke arah manja dan inginnya selalu di layani oleh suamiku sendiri.
"Baiklah, kita berangkat tapi jangan bawa anak-anak, selesai ambil ubi kita langsung pulang ya." akhirnya suamiku menyetujui permintaanku tanpa protes.
__ADS_1
Aku dan suamiku segera bergegas ganti baju, setelah berpamitan pada mbak Qibtiyah dan yang lainnya, kami berdua meluncur menuju rumah orang tuaku dengan mengendarai sepeda motor N-max, teriknya panas matahari tak menyurutkan niat kami berdua untuk menuju rumah orang tuaku.