
Tepat jam dua belas malam bapakku membangunkan aku ibukku dan adikku Fauzan, bapak jarang mengajak Nafisa, karena Nafisa sedang hamil muda dan kandungannya juga kandungan lemah. Kami berempat melaksanakan sholat sunah tahajud, sholat sunah khajad, dan sholat sunah taubat, semua di lakukan dua rekaat dan di tutup dengan satu rakaat witir, jujur saja ketika harus sholat berjamaah dengan bapak, maka aku harus benar kuat lahir batin terutama harus kuat nahan kantuk karena pasti lama dan di tambah dzikir bapak juga lama, bayangkan saja jam dua belas malam mulai sholat dan jam dua baru selesai, namun jika bapak harus ke pasar maka bapak hanya satu jam saja.
"Dokumenmu jangan sampai ada yang tertinggal, Fah, coba cek sekali lagi." pesan bapakku sambil sarapan.
"Semoga sidangnya lancar mbak." doa dari Nafisa yang sudah siap-siap untuk berangkat ke sekolahan bersama Fauzan dan Afriana, sedang Afriana sudah di depan bersama Fauzan.
Pagi-pagi sekali jam setengah delapan mas Jamal dan mbak Yah sudah sampai di rumah kedua orang tuaku, karena aku sudah pesan akan berangkat lebih pagi agar mendapat urutan awal, jam delapan kurang seperempat aku, bapak, mas Jamal, dan mbak Yah berangkat ke pengadilan Agama bersama-sama. Aku di bonceng oleh bapak sedang mas Jamal berboncengan dengan mbak Yah. Kami berempat menempuh perjalanan ke pengadilan agama kurang lebih tiga puluh menit.
Sepeda motor kami memasuki kantor Pengadilan Agama, setelah memarkir motor dengan baik, bapak, mas Jamal dan mbak Yah duduk di bangku ruang tunggu sedang aku langsung ke konter untuk mengambil nomor urut sidang, alhamdulillah aku mendapat urutan sidang nomor dua, setelah ambil nomor aku ikut duduk gabung dengan bapak, mbak Yah dan mas Jamal.
"Inshaallah masih aman, Fah namun setelah sidang kita tidak tahu, tetaplah berdzikir Fah." pesan bapakku padaku.
"Inggih pak." jawabku.
"Nanti kira-kira pertanyaan apa yang di lontarkan oleh bu Hakim padaku ?" tanya mbak Yah, sedikit gusar.
"Nggak tahu, mbak." ucapku.
"Semoga aku bisa menjawab dengan benar." doa mbak Yah sedikit gugup.
Saat menunggu jadwal sidang kami berempat ngobrol ringan, sambil ngobrol aku ngecek gawaiku karena dari tadi seperti ada beberapa pesan masuk ke gawaiku, aku buka gawaiku ternyata benar asa beberapa pesan masuk dari, pak Catur, bu Priska, mbak Us dan Fauzan.
__ADS_1
[Semoga sidangnya lancar, sukses tiada halangan suatu apapun, semoga selalu dalam lindungan Allah SWT, aamiin yarobbal'alamin] pak Catur
[Tetap berdoa, Fah, doaku selalu untukmu adikku, sabar, ikhlas, semoga lancar tiada halangan suatu apapun, aamiin yarobbal'alamin,] mbak Us Mbakku yang nomor dua.
[Aku akan selalu berdoa untuk kesuksesan sidangmu, mbak semoga lancar, aamiin yarobbal'alamin ] Fauzan.
[Fah, semoga kali ini sidangmu yang terakir semoga lamcar tiada halangan suatu apapun, aamiin yarobbal'alamin ] bu Priska
[Jika sudah selesai kabari aku segera] mbak Us.
[Aku kan selalu berdoa untukmu mbak Fah, maaf aku tidak bisa menemanimu dalam persidanganmu hari ini] pak Catur.
[Doaku untukmu, Fah, semoga sidangnya sukses, segera lepas dari Ringgo, setelah sidang semoga segera ada yang melamar, aamiin yarobbal'alamin] mbak Rani.
Begitu selesai membaca pesan WhatsApp aku benar-benar terharu, di saat aku terpuruk banyak sekali orang-orang yabg peduli padaku dengan tulus, bahkan mbak Rani dan juga Nina juga mengirim pesan padaku.
Jam sembilan kurang seperempat aku melihat mas Ringgo juga sudah datang di kantor Pengadilan Agama, mas Ringgo datang hanya bersama dengan temannya, aku tidak melihat tetangga atau kerabat mas Ringgo yang datang bersamanya untuk menjadi saksinya.
"Mungkinkah mas Ringgo tidak membawa saksi, semoga dengan tidak ada saksi dari pihak mas Ringgo tidak menghambat jalannya sidang nanti." gumamku dalam hati.
"Ringgo juga sudah datang Fah." ucap mas Jamal memberitahuku.
__ADS_1
"Iya, mas aku sudah tahu, kayaknya mas Ringgo tidak membawa saksi, mas." tebakku
"Kelihatannya begitu, Fah."ucap mbak tak ikut menimpali.
"Kira-kira, giamana ya mas!" keluhku sedikit bimbang.
"Biasanya bisa lama bisa cepat mbak." celetuk orang yang duduk di sebelahku karena tdak kami juga sempat ngobrol.
"Maksudnya giamana, mbak?" tanyaku penasaran.
"Jika pasanganmu, menyerah hari ini bisa sidang putusan namun jika pasanganmu minta waktu lagi untuk bawa sidang laming tidak dua kali sidang lagi." jelas orang yang berada di sebelahku.
"Begitu ya, bu, Ibu dapat informasi dari mana?" tanyaku penasaran.
"Aku kan istrinya pak modin, mbak kebetulan ini juga nganterin tetangga yang lagi gugat cerai juga," jawab wanita yang ada di sebelahku dengan ramah " Jangan khawatir mbak inshaallah hari ini sidang putusan, buat sidangmu, aku pamit dulu ya assalamu'alaikum, semoga lancar sidangnya." pamit perempuan yang duduk di sebelahku.
"Aamiin yarobbal'alamin." jawabku, mbak Yah, mas Jamal dan bapak secara serempak.
Jam sembilan tepat sidang pertama telah di mulai, peserta sidang masuk seorang diri, sepertinya pasangannya tidak datang, setelah dua puluh menit kemudian dari pengeras terdengar menyebut nomor urutku.
"Peserta sidang dengan nomor urut dua nomor kasus xxxxxxx, dengan nama penggugat ibu Afifah Nur laila dan bapak Ringgo, harap segera memasuki ruang sidang nomor tiga dan para saksi di mohon ikut masuk juga." panggilan dari operator pengadilan.
__ADS_1
Aku, bapak, dan mbak Yah ikut masuk bersamaku, sedang di belakang kami mas Ringgo masuk seorang diri. Sedangkan mas Jamal tetap duduk di bangku ruang tunggu.