TALAK

TALAK
Part 164 TALAK


__ADS_3

Afriana sudah terlelap dengan tidurnya, dengan barat hati aku tinggalkan Afriana sendirian karena ibukku masih menemani bapak bersantai dengan mas keluargaku yang masih menginap. Aku keluar dari kamar ingin memanggil pak Catur, namun saat aku ingin memanggilnya kata ibukku pak Catur baru saja masuk ke rumahku, aku langsung menuju rumahku sendiri, rumahku sepi karena saudaraku semua nginep di rumah orang tuaku. Aku mengucap salam dan langsung masuk rumah untuk memastikan bahwa pak Catur benar-benar ada di rumahku, benar adanya pak Catur duduk di sofa ruang tengah dan menjawab salam dariku. Pak Catur langsung berdiri dan menghampiriku dengan senyum yang penuh arti, disaat pak Catur menghampiriku hatiku berdebar tidak karuan, aku benar benar gugup sampai-sampai aku hanya diam mematung, sampai aku tidak berani menandang wajah pak Catur yang sekarang sah menjadi suamiku. Kalau kemarin-kemarin hubungan hanya sebatas rekan kerja bahkan selama ini antara aku dan Pak Catur bersentuhan kukit hanya saat bersalaman itupun sangat jarang kita lakukan.


"Aku kunci pintu dulu." bisik pak Catur lembut.


Pak Catur langsung mengunci pintu, serta mematikan lampu, tanpa berkata apa-apa pak Catur merangkul tubuhku dan membimbingku untuk masuk ke kamarku, hari ini kamarku beda dari biasanya, semerbak wanginya melati dan mawar mendominasi kamarku, dengan seprei dan decorasi warna peach sehingga menambah suasana menjadi tambah romantis.


Aku dan Pak Catur duduk di ranjang dengan posisi berhadapan sedang aku masih menunduk tidak berani menatap pak Catur, hari ini pancaran wajah pak Catur tampak berbeda dari biasanya, wajahnya lebih cerah di tambah dengan senyumnya yang menawan selalu menghiasi wajahnya.


"Ijinkan kangmas untuk melihat bidadariku." bisik pak Catur lembut dengan dihiasi senyum yang merekah nan teduh.


Aku hanya mengangguk tanda persetujuan, pelan-pelan aku lepas hijabku yang masih melekat di kepalaku.


"Mas... ehmm... maaf...." ucapku terhenti, aku ingin mengatakan sesuatu tapi entahlah, rasanya begitu malu, ingin rasanya wajahku aku tutup dengan mangkuk bakso entahlah aku benar-benar malu dan gugup.


"Kangmas, sangat suka melihat wajah Dinda seperti ini, tambah manis dan menggemaskan, ingin rasanya memakan Dinda." bisik pak Catur lembut sambil membelai wajahku, mendapat sentuhan lembut dari Pak Catur tubuhku rasanya langsung panas dingin.


"Ehmmm maaf... Dinda harap kangmas tidak marah." ucapku sedikit ragu, memberanikan menatap wajah pak Catur.


"Marah untuk apa?" tanya pak Catur dengan menunjukan wajah gemasnya.


"Ehm... ehmm.... "


"Ehm... mau sekarang ?" goda pak Catur.

__ADS_1


"Bukan ehm... itu mas... ehm... hari ini Dinda lagi kedatangan tamu." ucapku lirih dan malu-malu, biarpun kami berdua sudah pernah menikah tapi aku tetap malu untuk mengatakannya.


"Alhamdulillah." pak Catur malah mengucap syukur.


"Mas tidak kecewa atau marah?" tanyaku penasaran.


"Kenapa harus marah Dindaku sayang, Dinda ingat tujuan kita menikah?" ucap pak Catur mesra dan menggenggam erat kedua telapak tanganku dengan senyum tulus penuh kasih sayang.


Aku hanya menganggukkan kepala" Bagaimanapun Dinda merasa tidak enak Mas."


"Mau yang enak?" goda pak Catur lagi.


"Iih... mas, yang enak apa coba?"


Aku dan Pak Catur duduk bersandar di ranjang, dengan posisi pak Catur memelukku dan sesekali mencium pipiku.


"Sayang, terima kasih sudah hadir dalam hidup kangmas, bisa bersama Dinda dan Afriana, itu sudah menjadi kebahagiaan tersendiri buat kangmas, kalaupun hari ini Dinda tidak kedatangan tamu kangmas tidak akan minta hak kangmas,sebab kangmas tidak ingin Dindaku kecapek-an." ucap Pak Catur lembut.


Aku mendengar ucapan dari Pak Catur benar-benar sangat terharu, betapa sayangnya pak Catur padaku dan Afriana. Dan betapa pengertiannya pak Catur padaku.


"Terima kasih Mas, tuntun Dinda untuk bisa menjadi istri yang sholehah dan kita bisa sama hidup bersama selamanya sampai Syurga." ucapku lembut dan menatap wajah pak Catur.


Mata pak Catur berkaca-kaca, tangannya membelai lembut punggungku kecupan manis di daratkan di keningku.

__ADS_1


"Kangmas bahagia sekali, ingatkan jika kangmas salah jalan, segera tegur jika mas salah dalam membawa arah perahu rumah tangga kita, mas hanya manusia lemah dan selalu khilaf, Dinda ingat waktu pertama kali bertemu di kantor pusat." ucap Pak Catur.


"Ingat, waktu itu Mas, seperti kurang sula padaku." ucapku.


"Bukan kurang suka, tapi waktunya yang belum tepat, sayang." ucap Pak Catur.


"Lalu kapan tepatnya ?" tanyaku sedikit menggoda.


"Tepatnya, tadi pagi jam sepuluh, setelah kangmas mengucap janji di depan bapak." jawab pak Catur dengan senyum mengembang.


"Mas...." rajukku.


"Apa sayang kan benar, baru tadi pagi kita halal, sudah malam kita istirahat, Dinda gak ganti baju nih, masa tidur mau pakai gamis panjang kaya gini." ucap pak Catur.


"Besok pagi mas mau sarapan apa?" tanyaku, sambil melepaskan pelukannya.


"Sarapan Dinda, mencium Dinda, memeluk Dinda."


"Mas, yang bener dong."


"Kita pikirkan besok saja, sekarang kita istirahat, supaya besok pagi subuh tidak kesiangan." ucap Pak Catur sambil terus memandangku.


Aku segera ganti baju tidur pemberian dari Pak Catur, baju tidur dari bahan sutra dengan warna peach. Mungkin karena terlalu lelah akhirnya tidak begitu lama kami berdua sudah terlelap dengan mimpi kita masing-masing.

__ADS_1


__ADS_2