TALAK

TALAK
Part 205 TALAK


__ADS_3

Kini aku sudah bersih dan juga sudah di pindahakan ke kamarku, di kamarku ada pak Catur dan mama yang sudah menunggu di dalam. Suster membantuku bersandar di ranjang karena aku harus menysusui kedua bayiku.


"Alhamdulillah, selamat ibu, Ibu memiliki dua anak kembar laki-laki, semuanya sehat dan normal, sekarang waktunya ibu untuk menyusuinya." ucap suster yang bertugas merawatku.


Pak Catur mendampingiku dalam menyusui anakku, pak Catur tak hentinya-hentinya mengucap syukur, begitu pula aku, pak Catur membelai lembut kepalaku dengan senyum yang merakah penuh kebahagiaan.


"Jagoan ayah, lihat sayang mirip sekali denganku." bisik pak Catur padaku sambil terus mengamati bayi dalam pangkuanku yang sedang menyusu.


"Iya, gak ada miripnya denganku." sahutku, ya memang benar anakku yang pertama lebih mirip dengan suamiku.


Tubuh mungil yang sudah dalam pangkuanku membuat rasa sakit yang aku rasakan langsung hilang, bahkan kini aku sudah kembali segar dan penuh kebahagiaan. Setelah yang satunya kini aku menyusui anakku yang kedua, kedua bayiku memiliki berat badan yang seimbang, serta kuat nyusunya, kali ini anaknya lebih mirip denganku.


Pak Catur terus menemaniku dalam menyusui kedua bayiku, dengan sabar pak Catur membantuku memindah posisi bayi. Kini bayiku sudah kenyang dan sama suster sudah dibawa ke ruangan khusus bayi. Sekarang hanya suamiku yang menenaniku di rumah sakit karena ibukku dan mama di rumah masak untuk brokohan(tasyakuran atas kelahiran anak).


"Mas, kapan aku boleh pulang?" tanyaku pada pak Catur.


"Kalau Dinda sehat besok siang sudah bisa pulang." jawab suamiku.


"Semoga besok bisa pulang, bagaimana dengan Afri?"


"Afri, sangat senang tadi kata mama Afri datang sebentar, karena sudah petang ibuk ngajak pulang, kata mama di rumah dia sangat antusias membantu orang-orang masak." jelas pak Catur.


Aku tahu sejak pagi sebelum pergi ke rumah sakit ibukku sudah belanja untuk brokohan, bukan hanya itu saja ibu sudah menyiapkan bahan masakan sampai setengah jadi, seperti kedelai dan kacang merah sudah direndam sejak pagi, daun pisang buat iwel-iwel juga sudah disiapkan, tepung ketan juga sudah siap, jadi bagitu anakku lahir tinggal masak saja untuk dibagikan ke tetangga tentu tidak banyak hanya tetangga kanan kiri saja.


Malam ini aku tidur di rumah sakit dengan ditemani oleh suamiku, setiap dua jam sekali suster datang membawa bayiku, agar aku menyusui kedua bayiku, setiap dua jam sekali bukan hanya aku saja yang bangun namun pak Catur juga ikut bangun menenaniku dalam menyusui bayiku.


Pancaran kebahagiaan mewarnai kehidupan rumah tanggaku, dua malaikat kecil telah hadir dalam keharmonisan rumah tanggaku yang aku bangun belum genap setahun. Allah begitulah cepat memberi amanah kepada kami dua orang putra sekaligus.


"Selamat pagi ibu Afifah." sapa dokter ramah.


"Selamat pagi dok." sahutku ramah.

__ADS_1


"Kita periksa dulu." ucap Dokter sambil mengeluarkan alat medis, dokter langsung melakukan pemeriksaan" Kesehatan ibu cukup baik dan kedua bayi ibu juga sehat maka hari ini ibu boleh pulang, selamat ibu." ucap Dokter ramah dan sopan.


"Alhamdulillah, Terima kasih dok." ucapku senang karena sudah boleh pulang.


Setelah melakukan pemeriksaan dokter menyuruh suamiku untuk mengurus administrasi, namun karena aku tidak ada temannya dan waktunya aku menyusui anaku pak Catur menungu hingga aku selesai menyusui dan sekalian menunggu ibukku datang, ibukku datang bersama dengan kedua susterku.


"Buk, saya urus administrasi dulu semua barang sudah saya rapikan, selesai mengurus administrasi Afifah sudah boleh pulang karena semua dalam keadaan sehat." jelas pak Catur pada ibuku yang duduk di sampingku.


"Baik, Le." sahut ibuku.


Sepeninggalan pak Catur aku beristirahat sambil mendengarkan cerita dari ibuku, tidak lama pak Catur telah kembali setelah selesai mengurus administrasi. Kami meninggalkan rumah sakit, kedua bayiku dalam gendongan kedua susterku, ibuku menggandeng aku sedang pak Catur dan sopir menenteng barang bawaan kemarin.


Jalanan kota Madiun yang tidak pernah padat sehingga dalam hitungan menit mobil yang kami tumpangi sudah sampai di kediaman kami. Begitu mobil masuk keluargaku menyambut dengan antusias, ada mama, papa, dan ternyata mbak Yah juga sudah sampai di rumahku juga.


Aku langsung di bawa masuk ke dalam kamar, kedua bayiku ditidurkan di box bayi yang ada di kamarku. Sengaja kedua bayiku tidur bersama dengan kami, sebab suamiku ingin lebih dekat dengan anak-anak.


"Alhamdulillah, Fah, selamat ya." Mbak Yah memelukku dan memberiku ucapan selamat.


"Terima kasih mbak, mas Jamal gak ke sini?" tanyaku.


Suasana hangat dan bahagia menyelimuti keluargaku, kini keluargaku di sibukan dengan persiapan acara sepasaran dan juga aqiqohan. Mas Dwi dan mas Tri langsung menelpon memberi ucapan selamat lewat video call.


[Ton, padahal bulan madu saja belum] seloroh mas Tri di seberang sana.


[Kelamaan] sahut mas Dwi.


[Alhamdulillah, di beri rejeki cepet] sahut pak Catur yang berada di sampingku.


[Fah, awas dengan si Tono] mas Dwi dan mas Tri bersamaan.


[Kenapa mas?] tanyaku.

__ADS_1


[Dia mau nambah lagi, dua kurang banyak] kelakar mas Dwi.


[Libur dulu mas] sahut pak Catur.


[Sekarang yo jelas libur, tunggu masa nifas habis ya kan?] seloroh mas Tri.


Mereka bertiga terlalu konyol kalau sudah ngobrol, yang diomongi juga gak terarah.


[Gini saja mas, ticketsnya bulan madu aku minta berlima, bagaimana?] tantang pak Catur.


[Terus?] mas Tri.


[Boleh, cuma lima saja kan, nanti kalau nambah aku gak mau, lima juga gak ngabisin gaji sebulan saja] mas Dwi sedikit menyombongkan diri.


"Ya, itung-itung hadiah untuk kedua jagoanku] mas Tri langsung setuju.


[Fah, maaf gak bisa datang ke Indonesia, semoga keponakanku menjadi anak yang sholeh] mas Dwi.


[Doa terbaik untuk kalian semua, segera kabari kapan bisa datang ke sini biar aku uruskan ticketnya dan juga hotelnya] mas Tri.


Panggilan video call berakhir karena mas Tri dan mas Dwi harus bekerja.


"Assalamu'alaikum ibuk, adik mana!" seru Afriana girang langsung menghampiriku dan memelukku yang sedang bersandar di ranjang.


"Wa'alaikum, kak Afri, adik lagi bubuk, Afri sudah sholat?" sahutku lembut.


"Sudah, ayah nama adik siapa?" kini Afriana bertanya pada pak Catur yang duduk di sebelahku.


"Mau di kasih nama siapa ya?, kak Afri mau kasih nama ke adik gak?" Pak Catur meberi kesempatan Afriana untuk memberi nama.


"Ehmmm... memang boleh ayah?" tanya Afriana meyakinkan.

__ADS_1


"Boleh, dong kan adiknya kak Afri juga." ucap Pak Catur lembut.


"Baiklah, tapi Afri lihat adik dulu boleh kan Buk, Yah?" Afriana langsung menuju ke box bayi" Ibuk adik lucu sekali tangannya gerak, yang satunya menguap kaya adiknya bulek Naf dulu " celoteh Afriana kegirangan.


__ADS_2