
Di kala semua sudah mau tidur aku pamit, aku juga sudah ngantuk sekali, sebelum aku pulang bapak memberi banyak nasehat, bahkan dengan gamblang bapak menceritakan bagaimana ekpresi pak Catur ketika mendengar Afriana mengaji. Bapak juga menceritakan jika pak Catur sangat memuji Afriana, dan juga sangat bangga pada Afriana.
Aku rebahkan tubuhku di atas kasur usangku, walau sudah usang namun itu tempat ternyamanku, tempat di mana aku bebas melepas lelah. Seperti biasa sebelum tidur aku cek notif di aplikasi WhatsApp ku.
[Bahagianya memiliki putri yang sholehah] pak Catur.
Selesai membaca pesan dari Pak Catur aku berusaha mencerna maksudnya sambil mengerutkan keningku.
[Semoga suatu hari Allah meridhoinya, dan bapak mendapatkan Putri yang sholehah, aamiin yarobbal'alamin] aku.
[Selalu aku sematkan namanya dalam lantunan doa-doaku, semoga Allah SWT meridhoi, sehingga aku bisa mengikrarkan janji suci dengannya untuk memgarungi samudera rumah tangga bersamanya, aamiin yarobbal'alamin] pak Catur.
Aku baca lagi pesan yang baru masuk aku sungguh tidak paham dengan maksud dan tujuannya pak Catur mengirim chat begitu padaku.
[Aamiin yarobbal'alamin] aku.
[Afriana, sudah tidur apa belum mbak?] pak Catur.
[Sudah, dari tadi, maaf pak apa tadi bapak menjanjikan sesuatu pada Afriana?] aku.
__ADS_1
[Aku suka mendengar Afriana mengaji, sudah cantik pintar pula ngajinya, bacaannya juga sudah bagus untuk anak seusia Afriana] pak Catur.
[Apa bapak tadi mendengarkannya?] aku
[Ya, dan sampai di rumah tetap aku dengarkan Afriana mengaji] pak Catur.
[Maksud bapak?] aku.
Tidak berapa lama pak Catur mengirim sebuah rekaman suara, karena aku penasaran segera aku buka dan aku dengarkan ternyata benar suara Afriana yang sedang melantunkan ayat suci Al Qur'an surat Fussilat ayat satu sampai ayat dua puluh.
[Mbak, bagaimana mbak bisa mendidik anak di usianya yang baru delapan tahun tapi sudah hampir hatam Al-Quran, sedangkan mbak juga harus kerja, terus terang aku salut sama mbak?] pak Catur.
[Oh, ya pak, saya Mohon maaf, bukannya saya melarang bapak untuk dekat dengan Afriana namun saya harap bapak bisa membatasi diri, karena sebentar lagi bapak mau menikah dan saya juga tidak mau jika bapak terlalu dekat dengan Afriana istri bapak nanti salah paham, semua demi kebaikan pak] aku.
[Baiklah, namun tetap ijinkan aku untuk memenuhi janjiku tadi pada Afriana, karena tadi Aku sudah janji pada Afriana, dan maaf tadi Aku pulang juga tidak pamit pada Afriana, gak enak di mushola banyak orang] pak Catur.
[Bapak janji apa pada Afriana?, saya harap bapak tidak terlalu sering memberi hadiah pada Afriana, takutnya kebiasaan dan saya ucapkan banyak terima kasih pada bapak karena sudah sangat perhatian pada Afriana] aku.
[Janji akan menjadi ayah baru yang baik untuk Afriana] pak Catur dengan emot tertawa.
__ADS_1
[Apa...?] aku.
[Pak, tolong jangan aneh-aneh] aku.
[Bercanda, aku hanya bilang mau kasih hadiah tapi aku sendiri juga gak bilang mau kasih hadiah apa? Mau tanya 0ada Afriana sudah keburu adzan magrib] pak Catur.
[Sudah jangan dipikirkan soal hadiah untuk Afriana, lagian siapa yang gak suka jika sudah mengenal anak yang cantik, imut, pintar seperti Afriana, beruntung sekali Afriana pasti punya ibu yang cantik, pintar, dan manis yang pasti ibunya sangat sholehah] pak Catur.
[Untuk surat yang kamu minta besok aku buatkan, temui aku jika sudah sampai kantor karena ingin mencocokan datamu di kantor] pak Catur.
[Terima kasih untuk semua pak, selamat malam dan selamat beristirahat] aku.
[Wassalamu 'Alaikum] pak Catur.
Aku baca ulang pesan dari Pak Catur, aku berusaha untuk mencerna maksud dan tujuan pak Catur, namun aku tetap tidak paham, toh isu yang beredar di keluarganya pak Catur sudah mau menikah. Sebagai sekretarisnya kadang aku penasaran juga siapa kira-kira calon istri pak Catur, siapakah kira-kira wanita yang beruntung dan berhasil menaklukan hati pak Catur, namun kadang aku juga sempat terbawa perasaan dengan sikap pak Catur padaku dan juga Afriana akhir-akhir ini, perhatian pak Catur pada kami berdua semakin hari semakin inten. Bahkan Afriana semakin akrab dengan Pak Catur, keakraban mereka berdua seperti sudah lama kenal saja.
Aku berusaha untuk memejamkan mataku namun pikiranku masih terngiang tentang ucapan pak Catur tadi sore dan juga chatnya barusan.
"Ya, Allah sebenarnya apa maksud dari kata-kata pak Catur, ini hanya aku yang terbawa perasaan atau... Entahlah Hamba pasrah padamu, ya Allah, tuntunlah selalu hamba ke jalan yang Engkau ridhoi, aamiin yarobbal'alamin." doaku dalam hati.
__ADS_1