TALAK

TALAK
Part 204 TALAK


__ADS_3

Malam ini aku hanya tidur ayam, karena baru saja sedikit terlelap perutku kembali kontraksi ringan hingga aku terbangun lagi, adzan subuh berkumandang mama dan mbak Romlah sudah kembali ke kamarnya setelah pak Catur sudah terbangun dari tidurnya. Pak Catur dengan sabar menuntunku ke kamar mandi untuk mandi dan mengambil air wudhu, dinginnya AC dalam kamarku masih belum bisa menyejukkan hawa panas yang aku alami. Selesai membersihkan diri aku dan pak Catur sholat berjamaah di dalam kamar, setelah sholat berjamaah kontraksi semakin sering, akhirnya pak Catur menghubungi dokter, dan dokter segera menyarankan untuk ke rumah sakit secepatnya.


Pagi ini keluargaku menjadi heboh karena kontraksi di perutku yang semakin sering, mama dan mbak Romlah bersiap-siap ikut mengantarku ke rumah sakit, mbak romlah dengan cekatan memasukan peralatan bayi yang sudah disiapkan ke dalam mobil. Afriana yang mau berangkat sekolah juga ikut-ikutan panik, sebab Afrianz ingin segera melihat adiknya, dengan menahan rasa sakit karena kontrak si aku berusaha memberi pengertian pada Afriana, akhirnya Afriana nurut dab mau berangkat sekolah. Panik, ya itulah yang dialami oleh suamiku, dia menjadi orang yang paling panik menjelang persalinannku. Kali ini pak Catur tidak nyetir sendiri kami menggunakan jasa sopir yang bekerja pada kami. Sesampainya di rumah sakit pak Catur langsung melakukan administrasi pendaftaran, tanpa nunggu lama aku sudah di dorong dengan kursi roda menuju ruangan khusus ibu hamil, aku menempati kamar VVIP, pak Catur dengan setia berada di sampingku sedangkan mbak Romlah dan mama menunggu di luar.


Dokter langsung memeriksa keadaanku dan bayiku " Alhamdulillah, sekarang baru pembukaan satu," ucap Dokter " Sekarang apa yang ibu rasakan?" tanya dokter padaku.


"Kontraksinya lebih sering dari yang semalam dok." jawabku jujur.


"Sabar bu orang melahirkan bayi kembar dan tunggal itu berbeda, posisi bayi sudah bagus kepalanya sudah berada di bawah, pesan saya ibu yang santai jangan sampai stress supaya proses persalinan lancar, bapak tolong tetap temani ibu, dan biarkan ibu jalan-jalan walau hanya di dalam kamar, kalau cepat inshaallah nanti sore sudah lahir." pesan dokter sopan dan ramah.


"Terima kasih." dok jawab pak Catur.


Dokter neninggalkan kamar kami, setelah dokter pergi mama dan mbak Romlah masuk.


"Bagaimana keadaan Afifah ?" tanya mana pada kami cemas.


"Alhamdulillah, semua baik sekarang baru pembukaan satu, minta doanya ma semoga proses persalinan Afifah lancar." ucap Pak Catur sendu memeluk mama, aku dapat melihat butiran bening jatuh dari pelupuk matanya.


"Mama selalu mendoakan kalian." sahut mama lembut dan membelai lbut punggung suamiku.

__ADS_1


Pak Catur tidak menjawab ucaoan mama, setelah memeluk sesaat pak Catur mengurai pelukan makanya dan kembali berada di sisiku, dengan telaten pal Catur mengusap keringat yang ada di tubuhku.


"Mama sudah ngabari keluarga kita, nanti siang papa akan datang, namun mbak Irma belum bisa datang, dan untuk ibu kalian sekarang sudah perjalanan ke sini." terang mama dengan senyum yang mengembang penuh kebahagiaan.


"Mbak Rom, sudah waktunya pulang mbak boleh pulang biar kami yang menjaganya." ucap Pak Catur, dia masih ingat jam kerja perawat yamg bekerja pada kami.


"Iya, pak, saya nunggu mbak Inayah datang, sekarang mbak Inayahnya sudah sampai rumah sakit, dalam perjalanan ke sini." terang Romlah sopan.


Aku sudah tidak begitu peduli lagi dengan keadaan sekitar karena keadaanku sekarang jauh berbeda saat aku mau melahirkan Afriana, dulu aku merasakan kontraksi tapi tidak sehebat ini. Bahkan dulu aku benar-benar merasakan kontraksi ketika sudah pembukaan enam.


Jam terasa lambat sekali, sebab kontraksi yang aku alami, aku hanya bisa meringis menahan sakit saat kontraksi, sesekali saat kontraksi aku memegang erat lengan suamiku, wajah mama menampakkan rasa khawatir. Tidak begitu lama Inayah sudah datang menggantikan tugas Romlah, sekarang di kamar ada mama Inayah, walau ada Inayah dan mama pak Catur tetap menjagaku sendiri sebentarpun beliau tidak meninggalkanku.


"Wa'alaikum salam." sahut kami semua.


Ibuku langsung memelukku, begitu pula bapakku memberiku dukungan serta doa, karena di dalam kamar tidak boleh terlalu banyak orang, mama dan mbak Inayah memilih keluar, sekarang aku di temani ibukku, bapakku dan suamiku hingga beberapa saat. Dalam satu hari ini antara mama dan ibukku bergantian membantu suamiku dalam menjagaku, sedang bapakku memilih pulang. Kontraksi demi kontraksi aku alami hingga pukul empat sore kontraksi semakin sering. Melihat keadaanku yang menahan rasa sakit sebab kontraksi suamiku segera memanggil dokter, padahal jam tiga tadi baru saja diperiksa. Tidak menunggu lama dokter dan suster datang ke kamarku untuk melakukan pemeriksaan, dokter mengatakan baru pembukaan tujuh yang artinya harus menunggu kurang lebih dua jam lagi.


"Kami akan memeriksa setiap setengah jam , bila kuat ibu bisa jalan-jalan, namun jika tidak kuat ibu berbaring saja, mana enaknya." pesan dokter ramah dan lembut.


Kami mengikuti segala saran dan arahan dari dokter, aku melihat wajah suamiku yang begitu kelelahan penuh kecemasan. Jam lima sore mbak Priska beserta papa datang menjengukku, memberiku dorongan semangat.

__ADS_1


Proses persalinanku kali benar-benar membutuhkan perjuangan yang sangat hebat. Kontraksi l yang aku rasakan semakin frekuensi semakin sering akhirnya setelah di periksa lagi sudah pembukaan delapan, dokter segera memindahkanku ke ruang bersalin, aku hanya di samping oleh pak Catur, aku sudah tidak begitu tahu apa yang telah di lakukan dokter terhadapku, yang aku tahu ada suamiku di sampingku, dan rasa ingin melahirkan semakin kuat.


Aku hanya mendengar percakapan dari dokter dan timnya, sudah pembukaan sepuluh, dokter memberiku instruksi untuk proses persalinan.


"Tarik nafas lepaskan, kepalanya sudah kelihatan bu, ayo tarik nafas dan lepaskan, sedikit lagi" instruksi dari dokter aku mengikuti dengan tangan tetap berpegangan kuat pada suamiku agar aku tetap kuat, tidak begitu lama aku mendengar suara tangisan bayi, kini aku sudah lemas namun aku masih ingat jika ada satu nyawa lagi yang harus aku perjuangkan.


"Alhamdulillah, ayo bu masih satu lagi, Tarik nafas lepaskan, ini kepalanya juga sudah kelihatan." aku mengikuti instruksi dari dokter, dengan tenaga yang tersisa dan doa dalam hati aku kembali berjuang untuk melahirkan anakku, suara tangisan kembali terdengar.


"Alhamdulillah, selamat bu anak bapak dan ibu selamat." ucap Dokter.


Pak Catur langsung menciumi wajahku sedang aku sudah sangat lemas kehabisan tenaga.


"Alhamdulillah, terima kasih sayang, kamu ibu yang sangat hebat, anak-anak kita selamat." bisik pak Catur padaku.


Aku memejamkan mata karena benar-benar lelah dan ngantuk berat.


"Bapak, kita bersihkan ibu dulu." pinta suster pada pak Catur agar melepaskan pelukannya.


"Baik sus." sahut pak Catur sedang mataku benar-benar lengket.

__ADS_1


"Ibu jangan tidur dulu kita bersihkan dulu." perintah suster padaku.


__ADS_2