
Ku ayunkan langkah kakiku menuju ruangan pak Catur, pagi ini meja pak Catur sangat berantakan, entah sampai jam berapa pak Catur bekerja sendirian di kantor. Segera aku rapikan kembali berkas - berkas yang ada di atas meja sebelum pak Catur datang, di layar komputer aku temukan sebuah notif jika pak Catur datang sedikit terlambat. Selesai merapikan meja pak Catur aku kembali ke ruanganku sendiri untuk melakukan pekerjaanku yang sudah menumpuk di atas meja.
Aku cek ulang jadwal pak Catur takut ada yang terlupa, jam 9 pagi pak Catur belum sampai di kantor, takut dia lupa kalau jam 10 pagi ada rapat aku segera menghubungi pak Catur lewat telepon. Beruntung pak Catur sudah dalam perjalanan menuju kantor, segera aku siapkan berkas untuk rapat nanti. Tidak lama pak Catur sudah sampai kantor, aku segera ikut masuk ke ruangannya pak Catur. Aku bacakan jadwal pak Catur hari ini secara terperinci tanpa ada yang tertinggal.
"Jika tidak ada yang penting saya permis dulu pak " ucapku.
"Sabtu, jangan lupa datang ke rumah mbak Priska, karena minggu mbak Irma serta mama, papa akan kembali ke Jakarta " pesan pak Catur padaku
"Baik, Pak " jawabku singkat dan sopan.
Aku kembali ke ruanganku untuk siap - siap ikut rapat, lima menit sebelum rapat di mulai aku dan Pak Catur berjalan menuju ruang rapat yang ada di lantai tiga.
Rapat berjalan sedikit alot karena ada beberapa masalah tentang stock bahan produksi rokok yang tersendat dari produsen tembakau.
Tiga jam telah berlalu, rapat akirnya selesai kami semua kembali ke ruangannya masing - masing, pak Catur melanjutkan kembali pekerjaannya, sedang aku juga melanjutkan kembali pekerjaanku.
Jam terus berjalan hingga tak terasa waktu sudah menunjukan pukul 5 sore yang artinya sudah saat nya untuj pulang, hari ini kerjaan ku tidak begitu banyak jadi aku berniat untuk pulang cepat. Saat aku mau pulang aku lihat pak Catur masih berkutat dengan komputernya, aku hampir pak Catur mungkin ada yang bisa aku bantu.
"Selamat sore Pak, sudah sore jika masih banyak kerjaan boleh saya bantu?" tanyaku berbasa basi untuk menawarkan bantuan.
"Terima kasih, kalau sudah selesai, Mbak, pulang saja dulu, oh ya besok jangan lupa datang ke rumah mbk Priska, karena lusa orang tuaku sudah kembali ke Jakarta " perintah Pak Catur sambil memandang ke arahku.
"Baik, Pak, pagi -pagi sekali saya datang, setelah mengantar anak saya pergi ke sekolah " jawabku
Kulangkahkan kakiku meninggalkan ruangan pak Catur dengan perasaan senang, tidak biasanya bisa pulang cepat.
Ku starter motor maticku, aku bonceng Afriana menuju ke sekolahnya, seperti pagi - pagi sebelumnya kegiatan pagi mengantar Afriana ke sekolah sebelum berangkat kerja. Biasanya jika hari sabtu aku sendiri yang jemputnya, namun hari ini aku harus memenuhi permintaan bos besar dari perusahaanku.
"Af, nanti siang bulek, Naf yang jemput ibuk mau kerja dulu, selesai kerja ibuk langsung pulang, mau di belikan apa nanti ?" tanyaku pada Afriana begitu Afriana turun dari motorku.
__ADS_1
"Ice cream saja buk, yang banyak " jawab Afriana senang.
"Baik, ibuk belikan nanti" jawabku
"Assalamu'alaikum ibuk" pamit Afriana sambil mencium tanganku.
"Wa'alaikum salam, barakaallah " sahut ku.
Afriana menuju kelasnya dan sudah berbaur dengan teman -temannya, sebelum pergi aku sempatkan menyapa para wali murid yang sedang sama - sama mengantar anaknya ke sekolah. Kami ngobrol sebentar karena anak kami satu kelas, banyak kegiatan yang melibatkan orang tua murid, sehingga kita wali murid tetap menjaga komunikasi walau lewat WhatsApp group.
Kutinggalkan sekolahan Afriana, aku menuju rumah bu Priska yang karak ya lumayan jauh, aku memerlukan waktu 30 menit untuk sampai, kalau bukan karena tuntutan pekerjaan ingin rasanya aku tidur di rumah melepas lelah.
Gerbang tinggi warna hitam sudah terpampang di depan mata, setelah aku pencet belnya tak lama pak Catur membukakan pintu gerbangnya. Aku masuk dan memarkir sepeda motorku di parkiran, aku turun pak Catur mengajak masuk ke ruang tengah dan di ruang tengah semua keluarganya sudah berkumpul di sana.
Mereka menyambut ku senang aku sapa mereka dan menyalami satu persatu.
"Duduk dulu, Fah " ucap bu Priska
"Kalau begitu, baiklah ayo, mbak Ir, ayo bantuin " pinta bu Priska.
Kami para perempuan masuk ke dapur, di dapur sudah ada mbak yang bekerja di rumahnya bu Priska. Semua bahan sudah tersedia disana, kami para perempuan bagi tugas supaya cepat matang masakannya. Setelah dua jam berkutat di dapur matanglah semua masakannya dan semua sudah tersaji di meja makan, meja makan bu Priska sangat besar muat sampai 12 orang.
Sepanjang hari aku masih penasaran dengan istrinya pak Catur dari aku datang sampai acara makan siang selesai istrinya tidak nampak, ah mungkin dia lagi sibuk pikirku.
"Fah, pinter kamu masak pas dengan selera kami, pantas bosmu ketagihan masakanmu " puji bu Irma.
"Dari dulu mbak, aku sering dapat masakan dari Afifah " timpal bu Priska.
"Kalau Begini aku yo kerasan di masak in terus " ucap bu Cakra "Bagaimana pah?" tanya bu Cakra pada pak Cakra
__ADS_1
"Sedap, pas buat mantu " ucap Pak Cakra asal.
"Jangan dengerin omongan mereka mbak, ya begini kalau lagi ngumpul" tambah pak Catur cuek.
Aku hanya senyum senyum tanpa menjawab karena penasaran aku memberikan diri bertanya tentang isrti pak Catur " Istri bapak tidak ikut kesini?"
Semua orang tidak ada yang menjawab ketika mendengar pertanyaanku hanya saling pandang, sedang pak Catur seperti kebingungan mau menjawab apa.
"Sebentar, jadi Afifah tidak tahu yang sebenarnya ?" tanya bu Cakra.
"Tahu apa bu?, maaf kalau pertanyaan saya lancang dan tidak sopan " ucapku merasa tidak enak.
"Bagaimana, sih ini! Sekertaris kok gak tahu tentang bos nya " seru bu Cakra sambil menggelengkan kepala.
"Sebenarnya istriku sudah pergi 7 tahun lalu" ucap Pak Catur wajahnya langsung berubah canggung.
"Maaf, saya tidak bermaksud... " ucapku belum selesai sudah di sahut pak Catur.
"Tidak, apa, kamu tahu itu lebih baik, toh kita kerja sama juga sudah lemayan, sengaja aku rahasiakan statusku karean aku tidak mau terganggu" terang pak Catur.
Selesai dari rumahnya bu Priska aku langsung pulang, menemani Afriana di rumah untuk mengerjakan PR nya sebelum pergi kerumah nenek kakenya orang tua mas Ringgo. Seperti Jadwal bisanya dua minggu sekali aku antarkan Afriana untuk bermain di rumah nenek kakeknya.
Lebih dari setahun mas Ringgo menggantung rumah tangga kita, sore ini sengaja aku datang agak siang untuk menjemput Afriana supaya bisa bertemu dengan mas Ringgo dan membahas tentang status rumah tangga kita.
"Mas, aku mau bicara" ucapku saat sudah duduk di kursi teras rumah mertuaku.
"Tidak ada yang perlu di bicarakan " jawab mas Ringgo ketus.
"Mas, apa maksudmu, aku ingin kejelasan rumah tangga kita mas" ucapku "Apa salah ?" tanyaku kesal.
__ADS_1
"Terserah kamu, aku sibuk gak ada waktu untuk bahas ini " jawab mas Ringgo langsung pergi meninggalkanku.
Aku berusaha untuk tetap sabar menghadapi kelakuan mas Ringgo yang seenaknya saja. Akirnya aku pamit pada mertuaku aku ajak Afriana untuk segera pulang, aku meninggalkan rumah mertuaku dengan perasaan jengkel. Di saat aku melewati pertigaan jalan ternyata di sana mas Ringgo sedang main karambol dengan teman - temannya di sebuah pos kampling . Melihat itu hatiku yang tadinya jengkel langsung meledaklah amarahku" Awas kau mas, kau sudah injak - injak harga diriku dan keluargaku, lihat saja nanti" gerurutuku dalam hati sambil mengendarai sepeda motor menuju rumahku.