TALAK

TALAK
Part 156 TALAK.


__ADS_3

Sesampainya di rumah mbak Priska aku minta ijin untuk numpang mandi karena cuaca sangat panas, jadi badanku sudah pasti berkeringat dan lengket, bukan hanya di tumpangi mandi ternyata mbak Priska juga sudah menyiapkan baju ganti untukku satu set gamis lengkap, ya mbak Priska menyodorkan satu set gamis yang sangat bagus, dengan warna kombinasi biru laut dan navi, di saat menyodorkan gamis mbak Priska bilang jika yang memilihkan warna dan model adalah pak Catur sendiri, jujur bikin aku terbengong-bengong, kadang aku merasa bak seorang permaisuri tanpa aku minta pak Catur seolah mengetahui kebutuhanku. Tanpa banyak tanya aku terima gamis serta aku langsung mandi, pak Catur entah di mana dia, karena begitu sampai di rumah mbak Priska pak Catur langsung naik ke lantai atas untuk menemui kakung. Selesai mandi aku duduk di ruang tengah menanti mbak Priska maupun pak Catur datang, tidak betapa lama pak Catur datang bersama Rahma.


"Tante, kenapa Afriana tidak diajak ke sini ?" tanya Rahma langsung duduk di dekatku.


"Rahma, tadi tantekan kerja jadi, gak bisa ajak Afri dong, bagaimana pelajaranmu hari ini?" Aku balik tanta pada Rahma.


"Alhamdulillah, baik tante, tante tambah cantik deh." ucap Rahma dengan senyum yang mengembang.


"Rahma juga tak kalah cantik." pujiku pada Rahma.


"Fah, kesini." Mbak Priska memanggilku untuk masuk kamarnya.


"Iya, mbak, sebentar ya Rahma cantik, tante tinggal dulu." pamitku dan aku langsung berdiri menuju kamar mbak Priska.


"Aku bagaimana mbak?" tanya pak Catur.


"Kamu belum waktunya, tunggu saja di situ dan temani Rahma." perintah mbak Priska.


Aku masuk ke kamar mbak Priska, di sana sudah ada beberapa gaun pengantin, sesuai yang aku pilih beberapa waktu lalu.


Untuk menyingkat waktu aku langsung mencoba gaun pengantinnya dengan di bantu oleh mbak Priska, disaat aku mecoba gaunnya tak henti-hentinya mbak Priska ambil gambar. Selesai mencoba gaunnya aku dan mbak Priska segera menemui pak Catur yang ada di ruang tengah bersama Rahma.

__ADS_1


"Pas, cocok cantik banget." celetuk pak Catur sambil menatap kearahku penuh arti.


"Dari dulu." sahutku cuek.


"Semua gaunnya pas untuk Dinda, tidak sabar pingin segera melihat Dinda memakainya di pernikahan kita." puji pak Catur.


"Ton, Ton, sabar-sabar tiga minggu itu cepat, kalau kerjaanmu gak selesai jangan harap kamu bisa menikah." ancam mbak Priska.


"Iya, iya mbak, pasti beres kok, masa mbak meragukan aku sih." ucap Pak Catur sedikit bersungut-sungut.


Merdunya suara Adzan magrib dari masjid terdekat telah berkumandang, kami semua segera menuju mushola kecil yang ada di rumah mbak Priska, namun kakung pamit untuk pergi ke masjid bersama pak Anam karena habis isya' ada acara istighosah. Sholat magrib kali ini diimami oleh pak Catur sendiri dengan makmum aku, mbak Priska, pembantunya mbak Priska serta anak-anak mbak Priska. Selesai sholat magrib kami semua makan malam bersama dengan penuh suka cita.


"Paman aku ikut ngantar tante ya?" tanya Rahma pada pak Catur.


"Tadi sudah pamit, mama bilang boleh soale PR ku sudah selesai." ucap Rahma.


"Baiklah, tapi segera pulang ya, habis ini Paman mau ngelanjutin pekerjaan Paman, sedang tante Afifah pasti juga sudah capek, biar tante Afifah beristirahat, ok." nasehat Pak Catur pada Afriana.


"Beres, Paman."


Kami bertiga menuju mobil pak Catur setelah berpamitan pada mbak Priska. Seperti biasa sepanjang perjalanan Rahma bercerita apa saja, mulai tentang sekolahan, di rumah hingga di tempat ngajinya. Akhirnya ki berdua menjadi pendengar setia dari colotehan Rahma, tidak terasa mobil pak Catur sudah masuk di halaman rumah orang tuaku. Setelah menurunkanku dan mampir sebentar sekedar menyapa keluargaku dan Afriana pak Catur segera pamit pulang karana memang benar masih banyak kerjaan yang harus di selesaikan oleh pak Catur mengingingat cutiki lumayan lama, Rahma pun tidak membantah ajakan pak Catur. Di dusunku berita perniakhanku dengan Pak Catur bukan rahasia lagi, gossip yang beredarpun beraneka ragam, untungnya aku jarang di rumah, namun aku sangat khawatir dengan psikis Afriana, walau sampai saat ini Afriana bisa menerima kehadiran pak Catur dengan mudah, namun sebagai orang tua akupun sedikit banyak tetap khawatir dengan Afriana.

__ADS_1


Ketika suara Adzan isya' berkumandang semua keluargaku kembali ke mushola untuk melakukan sholat jamaah di mushola, aku tidak ketinggalan pula, akupun ikut sholat berjamaah di mushola, toh aku sudah mandi bersih dan suci. Seperti biasa sepulang dari mushola kami semua berkumpul kembali di rumah orang tuaku.


"Af, kita pulang yuk temani ibuk tidur di rumah." Aku mengajak Afriana lembut.


"Ibuk tidur sini saja." Afriana malah memintaku untuk tidur di rumah orang tuaku.


Demi Afriana aku mengalah, toh setelah menikah pikiran dan hatiku pasti bercabang dan waktu untuk Afriana juga bakal berkurang, yang harus aku perhatikan bukan hanya Afriana, namun pak Catur juga. Dari hati ke hati aku berbicara dengan Afriana, aku katakan srnua tentang pernikahanku, dan bakal ada pak Catur sebagai bagian keluarga nabtinya.


Tanpa banyak debat, Afriana bisa menerima kehadiran pak catur masuk dalam keluarga kita nanti apalagi pembawaan pak Catur yang sangat menyayangi kelurgaku, terutama Afriana.


"Buk kalau ayah sudah bisa tidur di sini, apa boleh Afriana tetap tidur di rumah mbah." pinta Afriana.


"Kenapa ?" tanyaku.


"Aku pingin adik, kayak yang di perut bulek Nafis." ucap Afriana tanpa dosa.


"Apa perlu ibuk belikan dari pasar, atau tunggu saja adik bulek Nafis, keluar dan ajak main bareng." nasehatku sambil rebahan.


"Kurang banyak, kata ayah aku boleh minta Tiga atau lebih." ucap Afriana polos seolah tanpa dosa.


"Ya, ayahMu bisa belikan dari plaza lawu." sahutku penuh menggoda agar Afriana tidak sedih " Atau kita ambil tanah lihat dari sawah belakang rumah, untuk bikin adik-adik-an." ucapku lagi.

__ADS_1


Afriana langsung tertawa mendengar jawabanku, dan bukan Afriana saja yang senang akupun tak kalah senang sebab Afriana bisa menerima situasi seperti dengan baik.


__ADS_2