TALAK

TALAK
Part 95 TALAK


__ADS_3

Jam sebelas malam Fauzan, ibukku dan Nafisa pulang dari dokter dengan menggunakan mobil tetangga, aku yang baru saja memejamkan mata terbangun kembali karena mendengar gaduh di luar. Aku segera menyambut kedatangan mereka bertiga, aku dapat melihat kecemasan pada hati Fauzan serta ibukku, sedang Nafisa malah terlihat tenang-tenang saja.


"Bagaimana, Naf?" tanyaku saat Nafisa duduk di ranjang kamarnya.


"Nggak apa-apa mbak, hanya kecapek-an, kandung anku sedikit lemah, " jawab Nafisa jujur" Aku mau istirahat dulu mbak, maaf mbak tadi mas Fauzan gak bisa jemput mbak." Nafisa meminta maaf padaku.


"Naf, tidak usah kau pikirkan yang penting kamu dan keponakanku sehat, sini aku pijitin berbaringlah!" perintahku pada Nafisa.


"Mbak, maaf." ucap Fauzan yang baru masuk kamar.


"Zan, apa benar kamu kirim pesan ke pak Catur, terus sejak kapan kalian akrab?" tanyaku pada Fauzan


Sedang Fauzan hanya cengar-cengir, sambil garuk-garuk kepalanya padahal tidak gatal.


"Zan!" panggilku.


"Sejak kita bertemu di alon-alon kita sudah kenal dan akrab mbak, maaf soalnya tadi aku bingung, tadi sebenarnya mau minta tolong mas Jamal tapi kejauhan, sedang bapak harus menemani Afri, ya sudah aku telpon langsung bos mbak itupun aku minta ijin ke bapak, mbak, kalau bapak gak ngijinin aku ya gak berani telpon, mbak, siapa tahu aku bakal dapat mas yang ganteng, baik hati, Sholeh dan duren sawit." ucap Fauzan ngelantur entah kemana.


"Dah, malam kalian cepat tidur, Fah biarkan Nafisa istirahat kamu cepetan tidur besok kerja." omel ibukku masih sama seperti dulu.


"Ya, Buk sebentar, Zan apa itu duren sawit memang ada jenis duren sawit?" tanyaku karena penasaran.

__ADS_1


"Besok aku jawab, sekarang mbak tidur, aku sudah capek." ucap Fauzan sambil mendorongku untuk keluar dari kamarnya.


"Jangan rame saja, cepetan tidur !" ganti bapak yang bersuara.


Aku melangkah menuju kamar ibukku, aku tidur bersama dengan ibukku dan Afriana. Aku masih terjaga belum bisa memejamkan mata sedang ibukku sudah terlelap dalam mimpinya.


Entah kejutan apa lagi yang akan aku terima dari Pak Catur, karena akhir-akhir ini Aku selalu mendapat kejutan darinya. Aku masih belum bisa mencerna kata-kata bapak, tentang pak Catur dan kakung yang pernah datang dan menemui bapak, sedang aku juga tidak punya keberanian yang lebih untuk menanyakan pada pak Catur sendiri.


Hari demi hari telah terlewati, selama hampir seminggu pak Catur selalu mengantarku pulang jika pulangku malam, namun jika aku pulang sore tetap bapak yang menjemputku.


"Kok sudah mau masuk to, Naf?" tanyaku saat melihat Nafisa yang sudah memakai seragamnya.


"Sudah baikan kok mbak, di rumah terus jenuh sudah seminggu gak ketemu anak-anak rasanya sudah sangat kangen mbak." jawab Nafisa sambil ngaca di depan lemari ruang tengah.


"Iya, mbakku sayang." jawab Nafisa.


"Mbak nanti kalau mbak pulangnya malam aku sudah bisa jemput kok, nanti aku telpon bos mbak." ucap Fauzan yang baru keluar dari kamarnya.


"Ya, Zan, mungkin hari ini pulang cepat, besok kan jadwal sidangku." jawabku.


"Semoga sidangnya cepat selesai mbak, tidak terjadi apa-apa." ucap Fauzan ikut perihatin.

__ADS_1


"Doakan saja, Zan," jawabku " Af! Ayo berangkat keburu siang!"


"Zan, kamu sekalian antar Afriana, ya, sedikit penting!" ucap bapak yang baru masuk ke dalam rumah.


"Inggih pak, ayo Af, paklek antar, pamit dulu." ucap Fauzan.


Afriana, Fauzan dan Nafisa berangkat duluan, bapak mrnyuruhku untuk menunggu sebentar karena aku berangkat sedikit telat aku kirim pesan pada pak Catur.


[Maaf, pak hari ini saya sedikit terlambat, ada hal penting] aku.


"Fah, duduk dulu!" perintah bapakku.


"Inggih, pak, apa ada masalah yang besar pak?" tanyaku penasaran.


"Bapak hanya ingin mengingatkanmu, Fah, bapak tidak tahu pastinya Ringgo masih terus mengganggumu, apalagi menurut mata-matanya masmu Ringgo semakin dendam kepadamu berkaitan dengan sepeda motor yang di gadaikannya, kalau bisa minta ijin bosmu untuk tidak lembur sampai keadaan aman." nasehat bapakku


"Apa yang harus, Fah lakukan pak?" tanyaku mulai sedikit bimbang.


"Nanti sore masmu Jamal akan ke sini kita adakan tirakatan nanti malam, supaya besok tidak terjadi apa-apa, agar keluarga kita selamat dari mara bahaya." nasehat bapak.


"Inggih pak, nanti saya coba bicara dengan bosku pak."

__ADS_1


Jam tujuh lebih lima belas menit aku baru berangkat ke kantor dengan di antar oleh bapak, pagi ini jalanan juga macet karena ada kecelakaan sehingga membuatku terlambat hampir satu jam.


__ADS_2