
Perjalanan menuju pabrik sangat lama entah kenapa pak Catur mengemudikan mobilnya dengan pelan sekali, sehingga dari kantor menuju lokasi pabrik memakan waktu satu jam lebih, padahal dengan kecepatan normal tidak perlu waktu sampai satu jam.
"Kamu, bisa nyetir mobil mbak?" tanya pak Catur sambil menoleh ke arahku untuk mencairkan suasana.
" Bisa pak, tapi gak lancar -lancar amat " jawabku apa adanya.
"Kenapa?" tanya pak Catur lagi.
"Ya, kan saya tidak punya mobil, kemana mana juga naik motor, kecuali jika ada acara keluarga dan jauh baru nyewa mobil" jelasku apa adanya.
"Terus kapan belajarnya" tanya pak Catur
"Beberapa tahun lalu sejak mas ipar saya beli mobil, mbak saya ngajari saya nyetir dari situ saya bisa " jelasku.
"Berapa jumlah saudaramu?" tanya pak Catur lagi.
"Ni orang kenapa juga introgasi orang kaya, maling yang baru ketangakap saja" batinku.
"Saya empat bersaudara dan saya, nomor tiga dari, dua laki - laki dan dua perempuan" jawabku
"Mbak, pergi ke sawah juga atau apalah yang berurusan dengan pertanian?" tanya pak Catur.
"Ke sawah?, saya sering ke sawah bantuin orang tua jika saya ada waktu, menurut saya ke sawah itu lebih menyenangkan dari pada jalan - jalan ke mall, itu buat saya, karena saya tidak punya banyak uang untuk di habiskan, di sawah lebih segar udaranya " jekasku.
"Contoh?"
"Contoh, apa pak ?" tanyaku.
"Contoh, apa yang mbak lakukan saat di sawah?" ucap Pak Catur sambil menoleh ke arahku.
"Ohhhh, menanam padi, menyiangi padi, memanen padi, semua bisa kan dari kecil sudah terbiasa ke sawah, apa lagi saat memetik sayuran wah seneng banget, pak " ucapku.
"Pas, deh" celetuk pak Catur.
"Pas kenapa pak ?" tanyaku penasaran.
__ADS_1
"Pas, untuk proyek kita tentang holtikultura, jadi saya bisa sharing denganmu mbak " jawab pak Catur lagi.
"Saya akan bantu semampu saya pak " jawabku.
Sepanjang jalan perjalanan pak Catur terus bertanya banyak hal, tidak seperti biasanya dia banyak bicara hari ini, biasanya hanya Bicara sepatah atau dua patah kata yang penting - penting saja. Soal keluarga pak Catur tak pernah sekalipun bertanya atau ingin tahu, pak Catur lebih ke arah jaga jarak.
Mobil sampai di lokasi pabrik, setelah pak Catur memarkir mobilnya, kami turun dari mobil, saat melihat kami para pekerja menyambut dan menyapa kami dengan sebuah senyuman ramah. Pak Catur menanyai beberapa pekerja tentang kecelakaan beberapa waktu lalu, dan para pekerja membenarkan.
"Apa, penyebab kecelakaan kemarin lusa pak?" tanya pak Catur.
"Saya, kurang paham pak, penyebab ta juga tidak wajar, saya periksa semua alat baik -baik saja, entah kenapa tiba- tiba mesin molennya bisa lepas dan mengenai pekerja" jawab mandornya, sama dengan jawaban pekerja lainnya.
"Apa, bapak menemukan sesuatu yang janggal pak?" tanyaku.
"Kata warga sekitar daerah sini agak wingit jadi saya kira wajar saja bu kejadian seperti itu" jawab mandornya.
"Bapak hati - hati dan jangan lupa berdoa, ada yang usil" nasihatku.
Pak Catur dan mandor langsung menatapku dengan penuh tanya "Maksudnya ?" ucap Pak Catur dan mandor bersamaan.
"Hanya praduga saja" jawabku sekenanya.
Pak Catur mengajak ku berkeliling lokasi pabrik sambil mengecek kwalitas bahan bangunan yang di gunakan oleh pihak kontraktor.
"Mbak, apa maksud kata mbak, tadi? Saya rasa mbak tahu sesuatu?" tanya pak Catur curiga.
"Ya, seperti yang pekerja tadi katakan namanya juga tempat wingi pak, pasti hal - hal aneh bakal terjadi " jawabku.
"Baiklah, sekarang kira lihat lahan yang akan kira buat taman" ucap Pak Catur.
Aku mengikuti kemanapun langkah pak Catur pergi, kami menaiki mobil menuju lokasi yang di maksud pak Catur. Tanah masih sama dengan beberapa waktu lalu, karena memang belum di mulai pembangunannya. Pak Catur menghentikan mobilnya di pinggir jalan dan kami berdiri di pinggir mobil sambil melihat suasana hutan yang masih alami.
"Rasanya damai melihat alam, saya ingin membangun villa di sini, kalau liburan tidak perlu jauh - jauh" ucap Pak Catur.
"Bagus, saya bisa pinjam gratis" seruku spontan.
__ADS_1
"Boleh juga, tadi ke kantor Pengadilan Agama ada urusan apa mbak?" tanya pak Catur.
Pak Catur menatap ke arahku yang berdiri tidak jauh dari Pak Catur, aku terkejut mendapat pertanyaan dari Pak Catur.
"Ada sedikit masalah keluarga " jawabku.
"Mbak, tidak bercerai kan?" tanya pak Catur langsung pada inti.
Mendengar pertanyaan dari pak Catur aku semakin terkejut" E... I... Saya tadi memang e... Iya" jawabku gugup.
"Apa karena mbak terlalu sibuk dengan pekerjaan sehingga menghancurkan keluarga mbak?" tanya pak Catur lagi menatap ke arahku penasaran.
"Ti... Tidak, pak, sudah lama kami berpisah, karena suatu hal maka saya mengajukan gugatan tadi. Berhubung bapak sudah tahu maka saya minta ijin sekalian untuk ambil cuti saat sidang nanti" ucapku.
"Baiklah, saya ijinkan" jawab pak Catur
"Dari mana bapak tahu saya dari kantor Pengadilan Agama tadi?" tanysku pada pak Catur.
"Tadi Aku berangkat agak siang dan melihat kamu belok ke Pengadilan Agama, tadi siapa yang ngantar?" tanya pak Catur.
"Mas Jamal, mas saya yang nomor satu" jawabku.
"Berarti kita sama, sama - sama singgel " ucap Pak Catur.
"Bapak tidak menikah lagi?" tanyaku memberanikan diri, karena selama ini kita Bicara hanya sebatas tugas kantor saja.
"Belum menemukan yang tepat" jawab pak Catur.
Kami berdua bercakap cakap banyak hal dari masalah pekerjaan, masalah keluarga, dan Pak Catur tidak sekaku dulu lagi, entahlah tiba - tiba pak Catur berubah jadi manis dan ramah seolah kita kawan yang sudah lama berteman.
Kita berdua bersendau gurau menikmati sejuknya semilir angin sore di pinggiran hutan yang begitu asri. Jika selama ini pak Catur menampakan wajah datarnya kali ini wajah pak Catur juga sudah berubah penuh warna.
Senyum manis pak Catur menghiasi bibirnya, serta pancaran kebahagiaan dapat aku lihat dari ekpresi wajahnya. Tanpa aku minta sekalipun pak Catur sudah dengan sendirinya menceritakan tentang perjalanan hidupnya yang penuh liku - liku. Pak Catur juga menceritakan tentang penyebab kematian mendiang istrinya, hingga proses penyembuhan saat depresi. Aku menanggapinya dengan sebuah senyuman karena tidak tahu harus menjawab apa.
Sore ini udaranya juga sangat sejuk, daun dan ranting bergoyang seolah ikut merayakan atas perubahan sikap pak Catur yang sangat drastis. Gemrisik daun yang saling bersahutan, kicauan burung yang sedang bernyanyi serta merahnya senja sore yang sudah berada di ufuk barat membuat semua terasa sangat berbeda nan Indah.
__ADS_1
"Sudah sore Pak?" ucapku.
"Sebentar lagi" jawab pak Catur dengan senyuman yang berbeda dari biasanya.