TALAK

TALAK
Part 159 TALAK.


__ADS_3

Seminggu sudah aku tidak masuk kantor, aku di rumah membantu orang tuaku untuk mempersiapkan pernikahanku, tentang keluarga mas Ringgo mereka semua sudah tahu tentang pernikahanku karena kedua orang tuaku yang memberitahunya, dan mereka merestuinya, kata bapak keadaan mas Ringgo tidak ada perubahan sebenarnya dalam hati kecilku aku sangat kasihan namun, aku juga harus melanjutkan kehidupanku karena masih ada Afriana yang harus aku perjuangkan dan menjadi masa depanku.


Hari ini aku mendapat kabar dari mbak Rani dan Nina, berita pernikahanku dan Pak Catur sudah menghebohkan seluruh karyawan pabrik, apa lagi semua karyawan diundang untuk menghadiri pesta pernikahanku di Sun Hotel kota Madiun, dengan dua seoson, mengingat karyawan pabrik ada lima ribu orang dan beberapa relasi bisnis pak Catur lainnya yang berada di wilayah dekat kota Madiun. Berita kehebohan itu bukan hanya hadir dari mbak Rani dan Nina pak Catur sendiri juga menceritakannya lewat telephone, bahkan beberapa karyawan yang sudah mengenalku langsung kirim pesan padaku untuk menanyakan kebenarannya tentang pernikahanku dan Pak Catur.


Dari beberapa WhatsApp storie teman-temanku juga mengungggah keterkejutan mereka akan pelaksanaan pernikahanku dengan Pak Catur. Biarpun kami tidak lagi muda acara pingitan tetap dilaksanakan sejak seminggu lalu antara aku dan Pak Catur tidak diperbolehkan untuk bertemu. Dan kami berdua berkomunikasi lewat WhatsApp, itupun lewat chat, bukan video call.


[Alhamdulillah, hari ini mama, papa serta seluruh keluarga daru Jakarta sudah sampai di kota Madiun, dapat Salam dari mas Dwi dan mas Tri] pak Catur.


[Alhamdulillah, Salam buat semuanya] aku.


Hari ini mbak Yah, mas Jamal, mbak Us sudah mulai menginap di rumah orang tuaku mereka semua ikut membantu mempersiapkan untuk acara pernikahanku, walau hanya acara akad nikah namanya juga orang kampung pasti banyak sekali yang harus dipersiapkan, seperti membuat jajajan khas kampung, mulai dari menggoreng rengginan, menggoreng emping belinjo, buat kacang telor, kembang goyang, untuk roti dan buah kami memilih memesan saja. Tiga hari menjelang hari pernikahsnku rumahku dan rumah orang tuaku sudah rame beberapa saudara dan tetangga mulai datang ikut membantu untuk memasak buat acara besok, disamping acara khotmil Qur'an di rumahku, kami harus masak untuk berkat kenduri minimal ngundang orang satu RT, serta membagikan makanan matang ke seluruh warga satu RT dan beberapa kerabat dekat yang rumahnya tidak jauh dari rumahku maupun orang tuaku.


"Manten jangan masuk dapur, nanti terbakar!" seru tetangga ketika melihatku masuk dapur.

__ADS_1


"Ya, kalau masuknya ke luweng api ya terbakar, yu." sahut mbak Yah sambil senyum.


"Mantene wes kaplak(tua)yu." kelakarku.


"Hus, pamali Fah, gak boleh begitu, yang namanya manten ya tetap manten." sergah tetangga yang sudah agak umur.


Mendengar jawabanku mereka yang ada di dapur orang tuaku tertawa renyah, di dapur orang tuaku banyak ibu-ibu yang dengan suka rela ikut membantu, ada yang mengaduk jenang merah, ada yang potong-potong kentang, ada yang goreng-goreng, ada yang memasukkan jajanan kedalam plastik. Ada yang goreng rempeyek, ada yang goreng krupuk udang, mereka yang di dapur sudah sibuk dengan sendirinya, dan canda tawa menambah ramainya dapur sehingga mereka tidak merasa lelah.


"Fah, besok khataman orang berapa?" tanya mbak Us padaku.


"Baiklah, jadi kita bisa menyiapkan berkat serta sovenirnya sekalian binat." ucap mbak Us.


"Padahal aku pinginnya simpel saja, lakok ternyata yo tetep ribet." keluhku.

__ADS_1


"Kalau bapak itu tetap gak bisa simpel Fah, lawong kita ini keluarga besar, separo dari penduduk RT di sini masih kerabat, jadi ya tetap harus kaya gini, cuma bedanya habis akad nikah kami gak perlu menerima tamu undangan." terang mbak Us.


"Ya, iya sih." sahutku sambil ikut membantu mbak Us menyiapkan souvenir buat undangan khotmil Qur'an dan undangan sholawat.


Anak-anak kecil bermain bersama, sehingga menambah meriahnya suasana di rumahku maupun di rumah orang tuaku. Para bapak-bapak juga sibuk dengan tugasnya masing-masing, ada yang sekedar bercerita sambil menikmati hidangan bersama bapak ada yang ikut menata lokasi, padahal rencana aku tidak menggunakan tenda ternyata di luar dugaan kerabat dari Pak Anam banyak yang ikut sehingga mendadak nyewa tenda, beruntung ada saudara yang menyewakan tenda jadi sangat mudah. Karena Nafisa sedang mengandung kami melarang Nafisa untuk membantu, Nafisa lebih banyak bersamaku karena aku sendiri tidak diperbolehkan untuk membantu.


"Sebulan lagi acara lagi, tujuh bulanannya Nafisa, wes makan enak teros." kelakar mbak Us.


"Berarti aku harus seterong, habis tingkepan, lahiran, sepasaran, telon-telon dan piton-piton la aku juga membayangkan seandainya pas anake Nafisa tuju bulanan ganti Afifah yang lahiran, masak-masak lagi teros pokoknya." kelakar mbak Yah.


Kami semua yang mendengar ucapan mbak Yah langsung tertawa dengan renyah sampai terpingkal-pingkal.


"Berati selama hampir dua tahun bikin iwel-iwel teros, dan apalagi jika ganti mbak Us atau mbak Yah yang hamil, wes bapak harus stok ketan satu ton buat iwel-iwel." seruku.

__ADS_1


Kami semua tambah terpingkal-pingkal saat mendengar kelakaran kami, bahkan yang di dapur mendengar kami ikut menyahut


"Ya, aku tak bagian masak enak minta jatah makam teros, biar beras ku utuh." kelakar tetanggaku.


__ADS_2