
"Terima kasih mama, mama sudah menerima kehadiran keluarga kami dengan iklhas, semoga keluarga kita selaku dalam lindungan Allah SWT." sahutku lirih, aku benar-benar terharu, tidak pernah terbayang olehku jika aku bakal hamil secepat ini, mengingingat aktifitasku yang sangat padat.
"Benar-benar hari yang membahagiakan, adikku, selamat Ton." Mbak Irma memeluk dan memberi ucapan selamat pada pak Catur dan juga padaku, begitu pula mbak Priska, entah siapa yang memberitahu papa, sehingga papa juga datang ke kamar untuk memberi ucapan selamat serta doa.
"Ma, Pa, sebaiknya kita tinggalkan mereka biar Afifah istirahat, kasihan kalau kecapekan." usul mbak Irma.
"Baiklah, istirahat sayang, kami keluar dulu, Ton, jangan macam-macam, jangan sampai membuat putri mama ini kelelahan." nasehat mama namun penuh ancaman.
"Baik, Ma, jangan khawatir akan Aku jaga Putri dan cucu Mama dengan baik." jawab pak Catur senang sambil memeluk mama.
Mama, papa mbak Priska dan mbak Irma meninggalkan kamar kami dengan diantar oleh pak Catur sampai pintu hotel dan juga sekalian mengunci pintu kamar hotel, waktu ternyata sudah menunjukkan pukul dua belas malam lebih, tandanya sudah sangat larut. Selesai mengantar dan mengunci pintu pak Catur menghampiriku yang masih terbaring di atas ranjang.
"Sayang diminum dulu vitaminnya!" perintah pak Catur sambil menyodorkan vitamin dan juga air mineral padaku.
"Terima kasih, Mas." aku segera meraih vitamin dan juga air mineral dari tangan pak Catur, setelah selesai memakan vitamin aku tetap duduk, setelah mengembalikan gelas di atas meja pak Catur menghampiriku yang bersandar di atas ranjang.
"Sayang, gak merasa muak atau kepingin sesuatu gitu?" tanya pak Catur sambil memegang tanganku dan menatapku dengan tatapan teduhnya.
__ADS_1
"Enggak, Mas, cuma akhir-akhir ini Aku mudah capek saja, aku pikir capek karena siang malam bekerja." sahutku enteng.
"Mas minta maaf tidak seharusnya mas tetap meminta Dinda untuk bekerja, mas benar-benar minta maaf sayang." ucap Pak Catur tulus penuh penyesalan.
"Mas, tidak ada yang perlu dimaafkan, Dinda juga minta maaf karena Dinda masih sering lupa dengan status Dinda. Dan mas jangan merasa bersalah begitu bikin hati Dinda teriris-iris." ucapku lembut, entah apa yang di rasakan oleh pak Catur dari matanya keluar butiran bening penuh penyesalan. Aku hapus airmata pak Catur dan juga aku beliau lembut pipi pak Catur dengan tangan kananku.
"Maaf, mas masih terbawa rasa trauma dari masa lalu, tapi mas juga bersyukur sekarang mas memiliki Dinda." ucap Pak Catur dengan tatapan tulus dan membelai lembut kepalaku" Sekarang sudah malam tidur dulu Dinda, selamat malam sayang, baik-baik di dalam perut bunda ya, maafin ayah sudah membuat bunda kecapek an, oh ya dedek mau manggil bunda apa ibuk seperti mbak Afri, oh ya sayang besok kita ketemu mbak Afri ya, sekarang tidur dulu temani ayah dan bunda ya sayang." celoteh pak Catur sambil terus membelai dan mencium perutku dengan lembut.
Pak Catur menidurkanku seperti menidurkan anak kecil, dibelai di cium, ya pak Catur semakin sering menciumku begitu tahu aku sedang hamil. Tidak butuh lama kami berdua sudah terlelap dan berkelana ke alam mimpi. Karena ada sebuah suara aku terbangun aku mencari pak Catur ternyata pak Catur sudah tidak ada di sampingku, mataku tertuju ke lantai, ya di lantai aku melihat dan mendengar suara pak Catur yang sedang khusuk dzikir, pak Catur terus berdzikir hingga adzan subuh berkumandang, tidak hanya dzikir aku juga mendengar setiap doa yang pak Catur ucapkan. Begitu adzan subuh berkumandang pak Catur bangkit berdiri dan menghampiriku yang sedang berbaring, namun aku pura-pura tidur dengan lembut pak Catur membangunkanku dan mengajakku untuk sholat subuh berjamaah, dengan sabar pak Catur menuntunku menuju kamar mandi bahkan pak Catur mengikutiku di dalam kamar mandi tanpa canggung, berkali-kali aku tolak namun pak Catur tetap menungguku hingga aku sekesai berwudhu, selesai sholat subuh karena masih lelah dan juga ngantuk aku tidak tadharus Al qur'an, aku kembali berbaring di atas ranjang sedangkan Pak Catur tadharus Al qur'an hingga satu juz, selesai tadharus pak Catur menyusulku berbaring di atas kasur, aku melihat jika pak Catur sebenarnya juga kelelahan, akhirnya kami kembali terlelap dalam mimpi lagi. Jam delapan pagi aku membuka mata namun pak Catur madih terlena dalam mimpinya, aku bangkit dari ranjang mau ke kamar mandi, karena kasur ya bergerak akhirnya pak Catur terbangun.
"Dinda mau kemana?" tanya pak Catur padaku dengan keadaan nyawa belum benar-benar terkumpul.
"Mas antar." pak Catur langsung bangkit dari tidurnya, pak Catur benar-benar mengantarku ke kamar mandi serta menungguku sampai aku menyelesaikan aktifitasku di kamar mandi.
Setelah aku selesai mandi, serta menyelesaikan semua aktifitasku di kamar mandi pak Catur tetap menuntunku hingga sampai kembali di atas ranjang.
"Mas, mas tidak perlu repot-repot melayaniku seperti ini, kalau cuma begini aku masih bisa sendiri." ucapku lembut.
__ADS_1
"Apapun yang mas lakukan, mas ingin menjaga berlian mas, Dinda ingat tentang depresi yang pernah mas ceritakan ke Dinda dulu, mas pernah kehilangan berlian karena keteledoran mas dan sekarang mas akan menjaga berlian itu segenap jiwa raga mas agar mas tidak kehilangan lagi." ucap Pak Catur bersungguh-sungguh.
"Mas, mas ingat apa yang kita miliki di dunia ini adalah milik Allah SWT, dan kita harus iklas apabila miliknya diambil lagi, mas jangan terlalu terlena dengan keduniawian mas, maaf, jika kata-kata Dinda menyinggung hati mas." nasehatku lirih dan lembut.
"Inshaallah, maafkan, mas," sahut pak Catur lembut " Dinda nggak apa gitu, nyidam apa barangkali?" tanya pak Catur padaku.
"Dinda cuma pingin ditemani mas saja." sahutku manja.
"Baiklah, hari ini kita tidak usah pulang ke rumah akan mas perpanjang nginapnya dan mas akan menemani Dinda sepanjang hari di sini." ucap Pak Catur senang.
"Mas, kita pulang saja ya, gak enak sama keluarga yang lain, lagian jika kita tidak pulang aku takut mas khilaf, malah membuatku tambah capek, bagaimana coba?" tanyaku pada pak Catur.
"Baiklah, namun kita check out setelah dhuhur saja, mas masih sangat capek dan juga ngantuk, mas mau tidur lagi sayang, sayang temani ayah tidur ya." ucap Pak Catur.
"Mas, lapar." keluhku.
"Astaqfirullah hal'adzim, kita belum sarapan, maaf sayang mas lupa, Dinda mau makan apa sayang, kita makan di sini saja jangan kekuar, mas panggil petusa restaurant ." ucap Pak Catur langsung menelpon nomor restaurant yang tertera di dalam buku menu hotel.
__ADS_1
"Apa saja mas, yang penting bisa bikin kenyang." sahutku enteng.