
Di luar aku mendengar pintu gerbang di buka berarti pak satpam sudah kembali dari masjid untuk melaksanakan sholat jumat. Karena sudah masuk waktu dhuhur aku ajak anak-anak dan penghuni rumah untuk sholat dhuhur berjamaah mumpung si kembar masih tertidur dengan pulasnya maka semua bisa sholat bareng di mushola kecil yang ada di dalam rumahku dan aku yang menjadi imam untuk mereka seperti biasa. Selesai sholat dhuhur berjamaah aku menemani Afri dan Rahma untuk makan siang di meja makan.
"Tante pisangnya banyak sekali?" tanya Rahma begitu melihat ada beberapa sisir pisang matang yang ada di atas meja.
"Iya tadi Tante beli di pasar, mbak Rahma mau boleh ambil tapi nanti setelah makan." nasehatku.
"Di pasar mana buk belinya, apa di pasar tempat mbah jualan?" ganti Afriana yang bertanya.
"Tadi di pasar besar, Ibu sama mbak Qib pergi ke pasar," ujatku sambil meladeni mereka bedua untuk makan" Mbak Rahma mau makan apa?" tanyaku
"Aku mau makan lele goreng Tante." jawab Rahma girang.
"Aku, juga sama dengan mbak Rahma." pinta Afriana.
"Siap tunggu sebentar aku buang durinya dulu." Aku segera membuang duri lele " Sambelnya banyak apa sedikit, komplit pakai lalapan gak mau sayur asem?" Aku menawarkan pilihan pada Afriana dan Rahma.
"Aku lele sama sayur asem buk." pinta Afriana.
"Aku pakai lalapan tapi sambalnya sedikit saja." pinta Rahma.
"Baik, aku ambilkan." dengan cekatan aku ambilkan makan mereka berdua, selagi aku ada waktu aku selalu menyempatkan diri untuk memperhatikan Afriana aku tidak ingin terjadi cemvuru sosial antara Afriana dan so kembar.
Makan siang kali ini sangat menyenangkan bisa makan bersama dengan Afriana, apalagi ketambahan Rahma karena jarang sekali bisa makan bareng mereka bedua. Afriana dan Rahma makan dengan lahapnya hingga mereka berdua minta tambah nasi dan lauknya.
"Alhamdulillah, sudah kenyang!" seru Rahma yang sudah kenyang.
"Alhamdulillah!" seru Afriana juga
"Kaluan jika sudah piringnya di cuci sendiri ya, supaya jika besar bisa mencuci piring." nasehatku.
__ADS_1
"Baik, buk." sahut Afriana langsung turun dari kursinya menuju wastafel yang ada di dapur,.
Di dapur ku aku buat dua model wastafel yang satu untuk orang dewasa yang satu agak pendek untuk anak-anak mencuci tangan dan buat Afriana mencuci piring. Di rumahku biar ada pekerja namun aku tetap mengajari Afriana untuk mandiri, seperti halnya aku selalu menyuruh Afriana untuk mencuci piringnya sendiri jika habis makan dan juga menyuruh mencuci sendiri kotak bekalnya, dan jika hari libur akupun menyuruh Afriana untuk nenyapu kamarnya sendiri, bersih atau tidak itu tidak menjadi soal karena aku berusaha untuk mendidik Afriana untuk bertanggung jawab dari hal-hal kecil. Aku sengaja mendidik Afriana untuk mandiri sebab aku bukan berasal dari keluargan mampu, dulu kedua orang tuaku begitu keras dalam mendidikku agar aku bisa mandiri.
"Ibuk, sudah." lapor Afriana.
"Aku juga sudah tante!" lapor Rahma girang.
Baiklah kalian istirahat saja dulu dan jika sudah kalian tidur siang dulu, agar nanti sore punya tenaga untuk bermain bersama." nasehatku pada mereka sambil membereskan meja makan.
"Gak ngantuk buk." sahut Afriana.
"Aku juga tidak ngantuk tante." Rahma ikut mebyahut.
"Baiklah kalian bermain tapu jangan rame adik lagi tidur." nasehatku.
"Itu adik sudah bangun di gendong mbak Romlah." tunjuk Afriana pada mbak Romlah yang sudah menggendong Afwa.
"Hanya mas Afwa yang bangun mas Afwi nya belum." sahut mbak Romlah sopan.
"Dik Afwa ayo kita main, atau mbak gendong saja." ajak Rahma senang.
"Dia baru bangun, pasti belum mau untuk kamu gendong mbak Rahma, biar aku gendong saja dulu," nasehat mbak Romlah pada Rahma yang sudah sangat antusias untuk bisa bermain dengan si kembar.
"Afwa biar aku susui dulu mbak."aku mengambil Afwa dari gendongan mbak Romlah" Sini sayang ayo minum susu dulu biar tambah kuat dan pintar anak bunda kaya kak Afriana." Aku memuji anakku sendiri yang masih bayi.
"Buk aku dan mbak Rahma mau ke kamar dulu mau mainan." Afriana sudah pamit dan segera menghilang dari hadapanku menuju kamar anak-anak.
Aku hanya mengangguk tanda setuju, semakin hari si kembar nyusunya semakin kuat, dan kini karena gigi ya mau tumbuh saat nyusu kadang dia menggigit sehingga kadang aku merasa kesakitan. Setelah selesai Afwa nyusu kini giliran Afwi, ya Afwi baru bangun dari tidurnya. Kini ganti Afwi yang aku susui sedang Afwa sudah berada di kamar anak-anak ikut bermain dengan kedua kakaknya entah mereka sedang melakukam apa aku tidak tahu.
__ADS_1
"Mas Afwi, sudah selesai, yuk kita bermain dengan mbak." ucapku sambil menggandeng Afwi yang sudah bisa berjalan.
Aku ajak Afwi untuk ikut gabung dengan kedua kakaknya yang sedang bermain di kamar anak.
"Hai kakak semua ,aku sudah kennyang, sekarang aku boleh tidak ikut bermain." Aku menirukan suara balita khas dengan bahasa chedalnya.
"Sini, dik ayo mainan sama mbak." ucap Rahma, lalu menghampiri Afwi yang berada di gandenganku.
"Ya ya ya ya Na Na Na ." jawaban Afwi dengan khas chedalnya.
"Adik ngomong apa tante?" tanya Rahma penasaran dengan gaya bahasa kedua balitaku.
"Adik mau ikut bermain dengan mbak Rahma." jelasku pada Rahma.
"Ayo dik." ajak Rahma gembira.
Rahma menggandeng Afwi menuju matras tempat mereka bermain, supaya tidak mengganggu orang lain aku ajari semua anakku untuk mengemasi mainannya jika tidak di pakai, aku ajari mereka until mengeluarkan mainan yang perlu saja sehingga mainannya tidak mudah rusak dan juga tidak berantakan. Kini kamar anak-anak semakin rame setelah ketambahan Rahma, aku di bantu oleh mbak Romlah untuk mengawasi dan membimbing mereka dalam bermain. Rahma yang notabennya tidak memiliki adik kecil sangat antusias bermain dengan si kembar dan Afriana.
"Buk, besok suruh bupuh Yah kesini bersama mbak Zahra dan juga bulek Nafis dan adik Zula biar rame mumpung mbah Rahma ada di sini kan senin libur tanggal merah." pinta Afriana.
"Besok pagi mbak Zahra masih sekolah to Af." ujarku.
"Besok pulang sekolah saja suruh kesini." pinta Afriana.
"Iya tante, aku juga mau main sama mbsk Zahra, aku mau bubuk sini." ucap Rahma yang begitu bahagia.
"Iya, nanti coba telpon bupuh Yah dan bulek Nafis, besok mereka ada acara apa tidak." sahutku sambil terus bermain bersama mereka.
"Yeahhh, asyiiik, telpon sekarang saja buk!" seru Afriana girang.
__ADS_1
"Kalau begitu, Af, tolong ambilkan HP ibuk di kamar kita telpon bupuh Yah dan bulek Nafis." ujarku.
Afriana mengangguk dan dia langsung melangkah meninggalkan kamar anak menuju kamarku.