
Begitu sampai lift aku ambil tasku kembali dari tangan pak Catur dengan sopan, berharap jangan sampai ada karyawan yang tahu tentang kelakuan pak Catur yang sedang membawa tas tentengku.
"Maaf, pak bukannya apa, rasanya tidak baik jika saya baru datang kok pulang lagi, takutnya karyawan lainnya iri." ucapku memberi alasan.
"Apa mereka tahu kalau kamu mau pulang? paling mereka mikir kita lagi ada rapat di luar." jawab pak Catur enteng.
"Pak, ada beberapa berkas yang harus saya selesaikan dan nanti siang kita ada rapat dengan Pt citra, apa bapak lupa." ucapku mengingatkan pak Catur.
"Sekarang baru jam setengah sembilan rapat jam dua siang, kamu masih punya waktu untuk istirahat kurang lebih lima jam, jadi kamu istirahat saja dulu di rumahku jika kamu tidak mau pulang kerumahmu." ucap Pak Catur sedikit memaksa.
"Hahh... !" seruku" Saya pulang kerumah saya sendiri saja pak, jangan bawa saya kerumah bapak." ucapku sepontan.
"Masuklah," perintah pak Catur padaku sambil membuka pintu mobilnya" Aku antar kamu pulang kerumahmu aku juga tidak akan mengajakmu pulang kerumahku, dan nanti siang kamu baru datang lagi ke kantor, tapi jangan berangkat sendiri tunggu aku jemput nanti." ucap Pak Catur yang sudah duduk di kursi kemudi.
Aku turuti perintah pak Catur, tanpa membantah aku duduk di samping kemudi seperti biasa, jujur saja mataku benar-benar ngantuk yang sudah tidak tertahankan efek berhari-hari tidak tidur. Begitu mobil mulai berjalan aku tutup mataku sambil mendengarkan merdunya lantunan musik lagunya siti nurhaliza yang berjudul wajah kekasih yang barusan di putar oleh pak Catur.
__ADS_1
Entah berapa lama aku tertidur di dalam mobilnya pak Catur, aku merasa ada yang menggoyang-goyangkan tubuhku dan mamanggil-manggil namaku.
"Fah, bangun nduk!" suara ibuku sambil menggoyangkan tubuhku.
"Heahhh...,! Seruku terkejut saat baru membuka mataku " Buk, ibuk kok bisa di sini?" tanyaku sambil mengerjapkan mata.
"Kamu sudah sampai rumah, cepat bangun kasihan bos mu duduk nunggu kamu sudah setengah jam, kamu gak bangun-bangun!" ucap ibuku sambil membantuku turun dari mobil.
"Mataku lengket buk, berhari-hari kurang tidur." keluhku sambil turun dari mobilnya pak Catur.
"Maaf pak, terima kasih sudah mengantar saya." ucapku saat masuk ke dalam rumah ibu dan Pak Catur sedang sibuk dengan ipadnya.
"Sama-sama mbak, mbak sekarang istirahat saja, soal meting nanti siang biar mbak Priska saja yang datang bersamaku, jaga kesehatan mbak, aku pamit kembali ke kantor dulu." pamit pak Catur dan langsung bangkit dari tempat duduknya.
"Maaf pak, anak saya merepotkan!" ucap ibuku.
__ADS_1
"Tidak, merepotkan kok bu, tadi mbak Afifah itu kalau gak di paksa pulang dia juga tidak akan mau pulang, bu kalau cuma di suruh paling jawabnya nanti -nanti, begitu terus sampai jam kantor selesai." ucap Pak Catur mengadu pada ibuku.
"Ada, apa-apa jangan lupa kabari aku mbak, misal besok masih tidak enak badan mbak libur saja." ucap Pak Catur sebelum meninggalkan rumahku.
Begitu Pak Catur meninggalkan rumah orang tuaku, aku langsung masuk kamar kosong yang ada rumah ibuku, dan kembali untuk memejamkan mata. Di luar sana entah apa yang terjadi selama aku tidur, aku baru terbangun di jam tiga sore saat aku membuka mata rumah ibuku sudah rame, ternyata sudah ada mas Jamal dan bapak yang baru pulang entah dari mana, Fauzan yang sedang mengotak atik motornya, ibuku, Nafisa serta Afriana yang sedang menonton TV di ruang tengah.
"Fah bangun, Fah, makan sana dari tadi kamu belum makan!" perintah ibuku.
"Buk, ibuk sakit ya?" tabya Afriana.
"Inggih buk," jawabkub" Ibuk cuma ke capek an saja Af bagaimana sekolahnya tadi?" tanyaku pada Afriana.
"Alhamdulillah buk, tadi waktu ulangan Agama Afri dapat nilai seratus dan waktu di suruh hafalan surat pendek Afri juga bisa cepat, dan Afri dapat nilai Sepukuh juga." cerita Afriana antusias.
"Alhamdulillah, anak ibuk tambah pinter." ucapku memberi pujian pada Afriana.
__ADS_1