TALAK

TALAK
Part 67 TALAK


__ADS_3

"Ibu Afifah, bagaimana dengan keputusan anda? apakah masih mau melanjutkan proses perceraian anda? Pak Ringgo bilang keberatan dengan gugatan cerai dari ibu?" tanya bu hakim padaku.


"Saya tetap melanjutkan gugatan perceraian saya,karena saya memang sudah yakin seratus persen dengan perceraian ini , dan saya tidak akan pernah menerima kembali saudara Ringgo apapun alasannya, karena saya sudah di buangnya dan Pak Ringgo bilang hidup dengan saya itu sengsara dan menderita." jawabku tegas.


"Astaqfirullah hal'adzim, Ibu, Afifah, selama dalam berumah tangga dan anda tidak di nafkahi, dari mana anda tetap bisa membiayai hidup keluarga anda?" tanya bu Hakim padaku.


"Semenjak saya lulus dari sekolah menengah atas, saya bekerja di pabrik rokok Cakra lima yang ada di kota Madiun, kurang lebih delapan tahun saya jadi karyawan biasa, dan dua tahuk saya menjabat kepala bagian, dan terakir saya terpilih sebagai sekretaris General menager sampai sekarang." jelasku panjang lebar.


"Bu, Afifah jika pak Ringgo mau berubah apa anda mau di ajak rujuk kembali oleh pak, Ringgo?" tanya bu Hakim padaku.


"Apapun alasannya saya tidak akan pernah mau untuk rujuk kembali dengan Pak Ringgo." jawabku tegas.

__ADS_1


"Ibu Afifah jika pak Ringgo meminta maaf, apakah ibu mau memaafkannya?" tanya bu Hakim padaku.


"Saya bisa memaafkan pak Ringgo namun saya tidak bisa untuk rujuk kembali dengan Pak Ringgo." jelasku tegas!.


"Soal anak bagaimana bu Afifah?" tanya bu Hakim padaku.


"Anak tetap menjadi tanggung jawab kedua orang tuanya yaitu saya selaku ibunya dan Pak Ringgo selaku bapaknya, bagi saya sekarang yang penting bisa bercerai sah secara hukum agama dan negara, karena kenyataannya pak Ringgo sudah menjatuhkan TALAK kepada saya srjak satu tahun yang lalu dan selama satu tahun tidak ada itikad baik dari Pak Ringgo, soal anak setiap dua minggu sekali atau tiga minggu sekali sebenarnya saya selalu mengantarnya kerumah kedua orang tua pak Ringgo, jika saya sibuk maka adik saya yang mengantarkannya, bagaimana dan apapun yang terjadi pak Ringgo tetap ayah dari anak saya dan anak saya adalah cucunya kedua orang tua pak Ringgo, karena saya tidak ingin disebabkan orang tuanya bercerai hubungan antara ayah serta kakek neneknya juga ikut bercerai." jelasku panjang lebar.


"Bagaimana pak Ringgo?, Ibu Afifah tetap pada pendiriannya tetap melanjutkan proses perceraian kalian." ucap bu Hakim.


"Pak Ringgo di dalam berkas ini di jelaskan jika kalian sudah punya rumah, jika pak Ringgo tidak bekerja darimana kalian punya cukup uang untuk membangun rumah?" tanya bu Hakim pada mas Ringgo.

__ADS_1


"Untuk... Untuk membangun rumah... menggunakan uang hasil kerja Afifah, ehhh... namun saya tetap membantunya dengan tenaga saya." jelas mas Ringgo sedikit terbata-bata.


"Pak Ringgo darimana kalian punya tanah untuk membangun rumah?" tanya pak Hakim pada mas Ringgo.


"Untuk tanah da... Da... Dari orang tua Afifah." jawab mas Ringgo sedikit terbata-bata.


"Baik, Pak Ringgo untuk saat ini sampai di sini dulu, sekarang saya tanya ke ibu Afifah," ucap bu Hakim " Ibu Afifah, sebagai seorang buruh pabrik biasa bagaimana anda bisa mengelola keuangan sehingga anda bisa membangun rumah dan mencukupi biaya hidup keluarga kecil anda , sedangkan pak Ringgo sama sekali bekerja juga tidak urun biaya untuk membangun rumah?" tanta bu Hakim padaku


"Untuk membangun rumah, alhamdulillah dengan sedikit demi sedikit saya nabung, dari uang tabungan yang sudah terkumpul saya belikan sapi yang saya titipkan ke pakde, istilahnya paron(bagi hasil), ketika sapi sudah besar sapi di jual, hasil penjuala sapi saya tabung, di samping dari sapi saya selalu menyisihkan uang gaji saya untuk di tabung, dan terakir untuk menggenapi uang untuk biaya membangun rumah saya pinjam di koperasi pabrik dan baru lunas lima bulan yang lalu untuk tanahnya memang benar infak dari kedua orang tua saya ." jelasku panjang lebar.


"Ibu Afifah, anda beli sapi apa pak Ringgo tahu?" tanya bu Hakim padaku.

__ADS_1


"Tahu bu, bahkan sebenarnya saya minta tolong ke pak Ringgo untuk merawat sapinya, namun pak Ringgo tidak mau merawat sapi karena kata pak Ringgo jika merawat sapi harus ngarit di saat panas maupun hujan dan dia bilang merawat sapi itu sangat berat serta sengsara sedang pak Ringgo tidak mau sengsara," jelasku panjang lebar.


"Baiklah, pak Ringgo, bu Afifah, sidang pertama kita tutup sampai di sini dulu dan sampai jumpa dua minggu lagi, bu Afifah jangan lupa pergi ke counter untuk minta jadwal sidang selanjutnya, wassalamu'alaikum." tutup bu Hakim sambil memukulkan palu pengadilan sebanyak tiga kali sebagai berakirnya proses sidang perceraianku yang pertama.


__ADS_2