TALAK

TALAK
Part 48 TALAK


__ADS_3

"Astaqfirullah hal'adzim" ucapku karena terkejut ternyata yang jawab pak Catur "Maaf pak, bagaimana pak catur bisa di sini? Sejak kapan dan ada urusan apa pak Catur di sini ?" kuberondong pak Catur dengan berbagai macam pertanyaan.


"Lihat hp mu" jawab pak Catur santai.


Akupun langsung mengambil hp yang ada di dalam tas, Mas Jamal melihat kami berdua menjadi sedikit bingung, hanya melihat kami berdua tanpa bicara. Ternyata sudah lebih dari sepuluh pesan masuk dari Pak Catur di hpku, satu persatu aku buka dan aku baca semua pesan dari Pak Catur. Sedang pak Catur dan mas Jamal melanjutkan ngobrolnya.


[sudah selesai apa belum] pak Catur 10.10.


[Jika sudah selesai telpon balik] pak Catur 10.30.


[Hari ini ada yang urgent] pak Catur 10 .35.


[Kita harus melihat pembangunan pabrik baru] pak Catur 10.37.


[Ada sedikit masalah pada pembangunan pabrik baru] 10,45.


[Jika belum selesai aku susul ke sana kita langsung ke pabrik] 10.55.


[Aku sudah sampai di pengadilan Agama] 11.00.


[Aku tunggu di ruang tunggu] 11.15.


[Cari aku di ruang tunggu] 11,16.

__ADS_1


[Aku tahu kamu belum selesai] 11, 18.


Begitu banyak pesan singkat yang di kirim pak Catur kepadaku, karena dari tadi aku tidak buka hp maka aku tidak tahu jika berderet deret pesan sudah masuk.


"Maaf, pak dari tadi saya belum buka hp jadi saya tidak tahu" ucapku sopan"Ini mas saya, mas jamal" ucapku pada pak Catur.


"Kami sudah ngobrol dari tadi, tapi kami juga tidak tahu " ucap Mas Jamal" Maafkan adik saya pak, dia kadang sedikit ceroboh " ucap Mas Jamal sopan.


"Jangan panggil pak, mas, lawong saya lebih muda dari pada mas " ucap Pak Catur.


"Apa kita pergi sekarang pak?" tanyaku.


"Ya, sekarang, apa keberatan ?" tanya pak Catur.


"Masalah baju tidak masalah, tidak ada yang melarang kamu mau pakai baju apa saja boleh" ucap Pak Catur santai.


"Fah, kalau memang penting ayamnua biar aku yang beli, kamu berangkat kerja saja, toh aku juga mau kerumah bapak " ucap mas Jamal menawarkan diri untuk membantu.


"Terima kasih mas, ini uangnya dan tolong beli empat paket yang single" ucapku sambil menyodorkan uang tiga ratus ribu kepada mas Jamal.


"Banyak amat, Fah buat siapa?" tanya mas Jamal sambil memgernyitkan dahinya.


"Afriana satu, Nafisa itu sekarang apa yang di makan Afri selalu pingin, dan yang dua paket mas bawa pulang untuk Zahra dan masnya " ucapku.

__ADS_1


"Pantesan, ya sudah aku pulang dulu ada yang perlu di bawa pulang tidak ?" tanya mas Jamal.


"Tolong bawakan ini saja, taruh di atas TV nya bapak, nanti biar di simpan Nafisa dan tolong bilang ke Nafis untuk menyimpannya" ucapku sambil memberikan nap berisi berkas.


"Baiklah, aku pulang dulu, permisi mas " pamit mas Jamal sopan.


Mas Jamal meninggalkan kami berdua yang masih duduk di tempat duduk yang ada di pengadilan Agama.


"Bagaimana pak berangkat sekarang?, sekarang hampir jam dua belas siang apa sebaiknya kita berangkat setelah sholat dhuhur dan setelah kita makan siang ?" usulku.


"Kamu lapar ?" tanya pak Catur.


"Lapar, pak habis perang energi saya habis" ucapku sedikit kesal.


Aku tidak menyangka baru cuti setengah hari saja sudah di kejar- kejar dengan pekerjaan. Dulunya aku selalu mengira menjadi sekertaris itu menyenangkan namun faktanya aku jadi tidak sebebas dulu.


"Kalau kamu lapar kita makan dulu dan setelah sholat dhuhur kita langsung ke lokasi" ucap Pak Catur.


"Seriuskah masalahnya pak?" tanyaku.


"Kita lihat saja nanti, ayo " ajak Pak Catur.


Kami berdua berdiri, aku ikuti langkah pak Catur ternyata pak Catur menuju parkiran sepeda motor. Pak Catur langsung mengambil helm yang di simpannya di jok sepeda motor N max nya, kali ini bukan sepeda motor bu Priska entah sepeda motor siapa yang di bawa, namun jika di lihat sepertinya baru keluar dari dealer.

__ADS_1


__ADS_2