
Minggu pagi aku sudah disibukan dengan persiapanku untuk pergi ke Jakarta, satu koper sedang untuk menyimpan perlengkapanku selama seminggu dan sekotak kardus indomie berisi kembang kates pesenan keluarga pak Catur juga sudah siap untuk aku bawa.
"Buk nanti jam berapa ibuk berangkat?" tanya Afriana yang sedang sarapan.
"Jam delapan ibuk berangkat, Af, kalau ibuk sudah punya uang banyak ibuk ajak Afri, ke Jakarta untuk bermain ke Dufan bagaimana?" rayuku.
"Mau... Mau... Mau buk, kata mbak Rahma Dufan itu bagus dan banyak mainannya, tapi...." ucap Afriana berhenti.
"Tapi kenapa, Af ?" tanyaku.
"Nanti uang ibuk habis kalau main ke Jakarta, kota Jakarta kan jauh, kalau uang ibuk habis Afriana gak bisa sekolah sampai kuliah dong." ucap Afriana sedih.
"Af, doakan rejeki ibuk banyak biar, ibuk bisa buat rumah yang bagus untuk kita dan kamu bisa sekolah sampai kuliah, ya sudah kalau ibuk tinggal Afriana harus nurut sama mbah, paklek dan bulek ya, sebentar lagi ibuk berangkat." ucapku.
"Iya buk, aku sayang ibuk." ucap Afriana dan kami berpelukan.
Kami berdua menghabiskan pagi dengan bercerita dan tertawa sebelum aku berangkat ke Jakarta. Jam delapan pagi lebih sepuluh menit mobil pak Catur sudah terparkir di depan rumah, pak Catur di antar oleh pak Anam dan bu Priska, karena hari minggu takut macet jadi kami memutuskan untuk berangkat lebih awal.
"Buk, Pak, aku berangkat dulu, ya nitip Afriana, maaf selalu merepotkan." ucapku saat pamintan pada kedua orang tuaku.
"Hati -hati, Fah, pulang pergi selamat, doa kami selalu untukmu, nduk" ucap kedua orang tuaku.
__ADS_1
"Terima kasih, Buk, pak" ucapku.
"Af, Ibuk berangkat dulu, jangan lupa belajar dan ngaji." pamitku pada Afriana dan memeluknya.
"Zan, Naf, titip Afriana, terima kasih." pamitku pada Nafisa dan Fauzan.
"Hati-hati mbak, jangan khawatirkan soal Afri." ucap Fauzan dan Nafisa.
Selesai berpamitan aku masuk ke dalam mobil pak Catur, pak Catur membantuku untuk memasukan koper ke dalam mobilnya, kami berempat berangkat Pak Catur yang mengendarai mobilnya, aku dan bu Priska duduk di jok belakang sedang pak Anam dan Pak Catur berada di jok depan.
Mobil melaju menuju kota solo dengan santai karena kami masih punya banyak waktu, kami sengaja mengambil penerbangan jam satu lebih tiga puluh siang hari supaya sampai Jakarta tidak kemalaman, di samping itu kata pak Catur, dia ingin menikmati kebersamaan bersama keluarganya lebih lama.
Jam sebelas siang kami sudah sampai bandara adi soemarmo solo, kami segera turun, pak Catur yang menurunkan koperku dan di taruh di atas trolli, sebelum Chek in kami makan siang dulu di sebuah restaurant yang ada di bandara adi soemarmo solo.
"Terima kasih, mbak, mas." ucap Pak Catur.
"Terima kasih, pak, bu." ucapku ramah.
"Hati -hati, Fah, kalau kamu takut naik pesawat pejamkan mataku, Fah cuma sebentar, paling satu jam sudah sampai, Ton, pastikan Afifah aman." pesan bu Priska.
"Tidak perlu di ragukan lagi pasti akan aku jaga sekretaris kesayangan mbak ini." ucap Pak Catur tersenyum bahagia.
__ADS_1
Kami berpisah pak Anam dan bu Priska kembali ke kota madiun, sedangkan aku dan Pak Catur masuk ke ruang tunggu untuk melanjutkan perjalanan menuju kota Jakarta dengan pesawat garuda. Ini pertama kalinya aku naik pesawat grogi itulah yang aku rasakan entah bagaimana nanti, kami berdua hanya diam pak Catur fokus dengan ipadnya saat menanti keberangkatan kami.
Sebuah pengumuman dari bandara telah terdengar bahwa penumpang di suruh segera masuk ke dalam pesawat karena pesawat akan segera terbang. Aku dan Pak Catur duduk di bangku depan di kelas exclusive, rasanya benar -benar grogi sampai keluar keringat dingin.
"Jangan takut mbak, hanya sebentar kok, satu jam kita sudah sampai, pejamkan mata dan rilek jangan tegang." nasehat pak Catur.
"Terima kasih, pak, memang ini pertama kalinya saya naik pesawat, biasanya kalau ke kantor pusat selalu naik kereta api." ucapku jujur.
"Mulai sekarang, mbak harus membiasakan diri untuk naik pesawat karena perjalanan bisnis kita tidak hanya dalam negeri, tapi kita juga akan ke luar negeri, jangan lupa baca doa." pesan pak Catur.
"Iya, pak." jawabku singkat aku tetap berusaha membuka mata, agar tidak terlihat ndeso.
Pesawat mulai bergerak untuk take of, aku berusaha untuk tenang, dan tetap membuka mata, alhamdulillah sampai di atas awan, aku, tetap bisa membuka mata ternyata naik pesawat tidak jauh beda dengan naik kereta api, perjalanan kami memakan waktu kurang lebih satu jam sepuluh menit untuk bisa sampai di bandara soekarno -hatta.
Begitu pesawat sudah mendarat dengan selamat dan para penumpang segera turun dari pesawat, aku tenteng kembang kates yang ada di dalam kardus indomie, pak Catur menenteng tasnya sendiri, dalam hatiku Berkata " Ya ini namanya sekretaris modern berangkat rapat bawa kembang kates batinku sambil senyum tipis-tipis.
Di luar bandara aku melihat ada bu Irma sudah mulai melambai -lambaikan tangannya, Kami berdua menuju tempat bu Irma menunggu.
"Selamat datang adik -adiku." sapa bu Irma pada kami.
"Terima kasih, mbak" ucap pak Catur.
__ADS_1
"Terima kasih bu." ucapku sopan.
Kami bertiga langsung menuju mobil bu Irma yang ada di parkiran mobil yang ada di bandara soekarno hatta.