
"Ton, kamu yang nyetir mobilnya." perintah bu Irma sambil memberikan kunci pada pak Catur.
"Kok, mbak sendiri yang jemput sopir kemana?" tanya pak Catur pada bu Irma.
"Sopir tadi sudah jemput si Dwi, dan atas permintaan mama agar aku sendiri yang jemput kalian." ucap bu Irma santai.
"Mas Tri sudah datang apa belum mbak?" tanya pak Catur lagi.
"Sudah sejak kemarin Tri sudah sampai dengan anak dan istrinya." jawab bu Irma santai.
"Tumben pada datang semua, gak biasanya, sekarang juga bukan saatnya liburan sekolah kan, dan juga bukan ultah mama, papa kan?" ucap Pak Catur sedikit heran.
"Gak tahu, mama sama papa yang nyuruh semua ngumpul gitu, kangen kali." jawab bu Irma santai, yang sudah duduk di bangku belakang bersamaku.
"Mbak, kok duduk di belakang aku temannya siapa?" ujar pak Catur.
"Biasanya kamu juga sendiri gitu, jangan mentang- mentang kamu di Jakarta jadi manja, mbak Fah kamu temani bosmu itu, aku tak duduk di belakang capek mau istirahat." perintah bu Irma.
"Hah... Saya di sini saja bu." jawabku sopan.
"Aku bukan sopir." gerutu pak Catur.
"Mbak, Fah, tolongnya pindah di depan, sebelum dia kumat ngambek nya kaya si Aliya." ucap bu Irma.
"Baik, bu." jawabku singkat.
Dengan berat hati aku turuti permintaan bu Irma, akirnya aku pindah duduk di bangku depan sebelahnya pak Catur.
__ADS_1
"Aliyah, kok gak ikut mbak?" tanya pak Catur.
"Aliya lagi main sama anaknya Tri, dan anaknya Dwi, jadi gak mau yang ikut milih main, mas Sam lagi ngantar ibu ke dokter, jadi aku ya berangkat sendiri jemput kalian." terang bu Irma.
"Oh... Pasti rame di rumah mama." ucap Pak Catur sambil nyetir mobil.
Perjalanan yang kami tempuh untuk menuju bintaro tempat keluarga pak Catur tinggal memerlukan waktu kurang lebih empat puluh menit dari bandara.
Pak Catur mengemudikan mobilnya dengan santai membelah ramainya jalanan tol serpong di sore hari, dalam perjalanan aku hanya diam kadang hanya senyum -senyum saat mendengarkan obrolan dari Pak Catur dan bu Irma tentang keluarganya.
Empat puluh menit berlalu mobil alpaard hitam yang kami tumpangi sudah terparkir rapi di halaman rumah orang tua pak Catur, rumah dua tingkat yang cukup besar dan luas, beberapa mobil berjajar rapi di halaman rumah orang tua pak Catur.
"Silahkan masuk mbak." ucap Pak Catur dan bu Irma begitu kami turun dari mobil.
"Pak tolong bawakan kopernya mbak ini ke dalam dan kardus ini tolong taruh di dapur." perintah bu Irma pada pak satpam yang jaga di pintu.
"Alhamdulillah, pak."
" Bapak sehat juga kan?" tanya pak Catur sopan.
"Mbaknya ini siapa, den?" tanya pak satpam.
"Oh, iya ini sekretarisku di pabrik cabang yang ada di kota Madiun pak." jawab pak Catur.
"Alhamdulillah, benar kata bapak, ya sudah den saya masuk dulu, dari tadi sudah di tunggu ibu sama bapak." ucap Pak satpam sopan.
Kami bertiga masuk ke ruang tamu sedang pak satpam masuk lewat jalan samping sambil mendorong koper ku masuk. Keluarga pak Catur menyambut kedatangan kami penuh gembira, terutama mamanya pak Catur langsung memelukku bahagia.
__ADS_1
"Alhamdulillah, yang di tunggu -tunggu datang juga." ucap bu Cakra namanya pak Catur.
Aku diperkenalkan pada keluarga besar pak Catur, mulai dari kakak laki -lakinya keponakanya, dan juga iparnya, tidak lupa pula ibunya bu Priska yang juga ikut menyambut kedatangan kami penuh suka cita.
Saat kami bersama aku masih teringat anak kecil beberapa bulan yang lalu, Aliya, ya Aliya anak kecil yang merengek minta boneka hallo kitty waktu di mall dan ternyata anaknya bu Irma yang paling kecil.
"Silahkan mbak." ucap pembantunya keluarga Cakra sopan sambil menyuguhkan jus jeruk di meja.
"Terima kasih, mbak." jawabku sopan.
"Loh, mbaknya ini, kayaknya pernah ketemu deh tapi dimana ya?" ucap pembantunya saat melihatku" Sebentar ... Sebentar... Oh yaaa dik Aliya kamu ingat tante ini gak?" tanya pembantunya pada Aliya yang duduk di samping bu Irma.
"Enggak." jawab Aliya polos.
Seluruh keluarga langsung merasa heran, dengan ucapan Aliya dan pembantunya.
"Kalian pernah bertemu?" tanya pak Catur penasaran.
"Iya, pak, mbak-nya ini yang ngasihkan bonekanya ke dik Aliya, karena dik Aliya minta boneka hallo kitty sedang di tokonya sudah habis, dan dik Aliya nangis di toko waktu itu lho bu, yang saya ceritakan ke ibu dulu." ucap pembantunya keluarga Cakra antusias.
"Ooo... Iya aku ingat." sahut bu Irma" Terima kasih lho mbak, Fah." ucap bu Irma
"Tidak apa -apa bu namanya juga anak kecil, sudah biasa begitu." sahutku dengan senyum ramah.
"Nak, selama ada pekerjaan di Jakarta kamu tinggal di sini, jangan sungkan anggap saja keluarga sendiri, kami sangat senang kamu mau nginap di sini." ucap bu Cakra lembut.
"Terima kasih, bu, saya juga sangat senang karena di Jakarta saya juga tidak punya tempat tinggal, bisa di ijinkan tinggal di sini suatu berkah buat saya bu." ucapku sopan.
__ADS_1
Kehangatan keluarga pak Catur benar -benar mbuatku nyaman, sungguh di luar dugaanku, aku kira aku hanya akan bertemu dengan kedua orang tua pak Catur dan bu Irma saja, namun malah keluarga besarnya kakaknya yang di luar negeri juga datang. Padahal menurut info yang aku dapat soal rapat tidak perlu melibatkan kakak-kakaknya pak Catur.