TALAK

TALAK
Part 26 TALAK


__ADS_3

Ku tenangkan pikiranku dalam balutan doa - doaku dan mohon petunjuk kepada Rob ku. Sebelum mengambil keputusan aku lakukan sholat istikharoh supaya aku tidak salah jalan. Seminggu lamanya aku melakukan sholat istikharoh setelah mantap dengan keputusanku, aku menemui kedua orang tuaku untuk minta persetujuan dan nasihatnya.


"Buk, Pak, ngapunten, ada hal penting yang ingin ku sampaikan " ucapku sopan yang sudah duduk di hadapan mereka berdua.


"Ada, apa Fah ?" tanya ibuk ku penasaran.


"Tentang masalah rumah tanggaku, begini bu, pak, sepertinya rumah tangga ku sama mas Ringgo sudah tidak bisa di perbaiki satu tahun sudah aku berusaha untuk memperbaiki namun nihil mas Ringgo semakin menjadi jadi, aku sudah tidak bisa menerima perlakuan mas Ringgo yang semena mena, aku sudah tidak sanggup Buk, Pak , aku ingin mengurus sendiri perceraian kita ke pangadilan secepatnya " ucapku masih di penuhi api amarah.


"Kalau itu sudah menjadi keputusan mu Fah, bapak sama ibuk merestui, jodoh, kematian, rejeki, semua sudah di atur oleh Allah SWT. Sebaiknya kita tanya ke pak modin bagaimana cara mengajukan cerai, bapak rasa pak modin lebih paham, ojo lali kandanono mas mu Jamal " pesan bapak.


"Iya, pak " jawabku.


Kedua orang tuaku langsung menyetujuinya tanpa banyak pertimbangkan, toh orang tuaku juga sudah tahu tentang kelakuan mas Ringgo. Semenjak menjatuhkan talak setahun lalu, keluargaku berusaha untuk mengajak bicara baik -baik, namun mas Ringgo selalu menghindar dari kami semua, soal nafkah jangan di tanya mas Ringgo juga sudah tidak perduli, ya aku sudah mantap untuk mengajukan gugatan cerai ke mas Ringgo. Aku tidak mau buang -buang waktu, langsung aku starter motor maticku menuju kediaman mas Jamal yang jaraknya sekitar 45 menit dari rumahku. Sengaja Aku tidak mengajak Afriana, di samping Afriana masih di sekolah aku juga tidak ingin Afriana mendengar pembicaraan tentang rencana perceraian kami.


Mas Jamal dan mbak Yah menyambut ku dengan senang, mereka sedang menjaga tokonya yang berada di depan rumahnya.


"Assalamu'alaikum, Mas, mbak" sapaku langsung salaman.


"Wa'alaikum salam, masuk, Fah " jawab mereka berdua.


Sampai dalam rumah langsung aku ceritakan maksud dan tujuanku datang, aku juga menceritakan tentang sikap dan kelakuan mas Ringgo seminggu yang lalu. Mas Jamal dan mbak Yah ikut geram saat mendengar ceritaku.


"Baiklah, kapan kamu akan ke pengadilan ?" tanya mas Jamal


"Aku lihat jadwal kerjaku dulu, Mas, tapi nanti malam aku sama bapak mau ke rumah pak modin, minta informasi apa saja yang harus aku siapkan, soalnya aku sendiri juga tidak paham" jelasku

__ADS_1


"Antarkan, Afifah, Mas !" perintah mbak Yah.


"Pasti, Fah, kamu harus hati - hati, terhadap Ringgo, aku dengar dia cari dukun,tapi apa tujuannya aku tak tahu, perbanyak tirakatmu, jangan sampai kosong jiwamu, aku akan terus memantau gerak gerik Ringgo" nasihat mas Jamal.


"Iya, Mas, pasti aku jalankan, dari mana mas tahu kalau mas Ringgo cari dukun?" tanyaku


"Temennya masmu kan banyak, Fah, jangan heran kalau masmu tahu " timpal mbak Yah " Bagaimana pekerjaanmu Fah?" tanya mbak Yah.


"Alhamdulillah, tambah sibuk malah sering lembur mbak" jawabku.


"Ya, begitu Fah, sorone golek upo, yang penting bosmu baik, sabtu minggu kamu bisa libur to " ucap mas Jamal.


"Ya, begitu lah, mas " jawabku


Aku kendarai sepeda motor maticku kembali ke rumahku, akir pekan biasanya aku habiskan untuk beres - beres rumah bersama Afriana. Sampai di rumah aku lihat Afriana sudah berada di dalam rumah di temani Nafisa adik iparku sedang bermain.


"Assalamu'alaikum " sapaku saat masuk rumah.


"Wa'alaikum salam," jawab mereka berdua" Ibuk dari mana?" tanya Afriana.


"Ibuk, dari rumahnya pakpuh Jamal, nih ibuk ambil buah nangka dari rumahnya pakpuh" ucapku sambil menunjukan buah nangka matang yang aku tenten di tas plastik.


"Asyikkk... Bikin kolak buk, sini aku bantuin " ucap Afriana girang sambil melihat nangka yang aku bawa.


"Ibukmu masih capek, Af, nanti saja, lagian di rumah tidak ada kelapa " tutur Nafisa.

__ADS_1


"Aku belikan kelapanya di toko bude, Nah " rayu Afriana.


"Kelapa buat apa, Af ?" tanya ibuku yang tiba - tiba masuk ke rumah.


"Itu, lho buk, Afriana minta di bikin kan kolak, oh ya buk ini nangka dari mas Jamal, baru mateng di pohon tadi "ucapku.


"Yo wes, Af, beli o kelapa satu buah di bude Nah, ya, ini uangnya " perintah ibuku


Afriana dengan gembiranya langsung lari menuju warungnya bude Nah. Ibuku langsung membuka nangka di temani Nafisa, karena aku belum sholat dzuhur maka aku sholat dzuhur dulu. Kami berempat berkutat di dapur orang tuaku untuk memasak kolak nangka, dan kacang hijau.


Matahari mulai tenggelam di ufuk barat, kami semua sudah sibuk dengan aktifitas masing - masing. Setelah sholat magrib aku di temani bapak menuju rumah pak modin untuk menanyakan perihal persyaratan gugatan cerai.


Pak modin menyambut kami dengan hangat, dengan gamblang pula pak modin menjelaskan prosedur pengajuan gugatan cerai di pengadilan mandiri tanpa pengacara. Pak modin juga menyampaikan banyak nasehat padaku, dalam menghadapi persidangan perceraian nanti, karena aku datang sendiri tanpa pengacara maka sedikit membuang waktu. Aku lebih memilih menghadapi sendiri sidang perceraianku nanti, karena aku tak punya cukup uang untuk menyewa pengacara, karena banyak biaya yang aku butuhkan untuk renovasi rumahku nanti.


Sepulang dari rumah pak modin hati dan perasaanku lega, tinggal menyiapkan dokumen yang di butuh kan, serta mencari waktu yang pas, karena jsm kerja aku harus minta ijin sebentar atau ambil cuti.


Aku cek agendaku untuk melihat kapan aku longgar dan bisa minta ijin untuk mengurus pendaftaran perceraian. Dengan perasaan marah aku langsung mencari dokumen yang aku butuhksn. Hanya dalam waktu sekejap dokumen sudah siap.


"Tunggu surat panggilan dari pengadilan mas, ini kan yang kamu mau " gumamku dalam hati. Dengan rasa amarah yang mendongkol di dalam dada, serta rasa benci yang sudah sampai ubun - ubun.


"Aku tidak akan membiarkanmu untuk menghancurkanku, mas Ringgo, kau yang memulai peperangan maka aku tidak akan tinggal diam, pasti aku lawan, dan tidak akan Aku biarkan kau berkutik sama sekali, tunggu dan lihat lah pembalasanku, mas " gerutu dalam hati sambil menata dokumen perceraian.


Malam merambat dengan damainya redupnya sang rembulan menghiasi indahnya sang cakrawala di atas sana, tidak membuat hatiku melunak.


"Ketika lembutnya hati seorang perempuan yang banyak mendapat goresan luka, maka dia akan berubah menjadi sekuat baja "

__ADS_1


__ADS_2