TALAK

TALAK
Part 38 TALAK


__ADS_3

Hari berjalan begitu cepat hingga tidak terasa jadwal sidang pertamaku hampir tiba, pekerjaanku yang banyak membuatku semakin sibuk dan tidak begitu memikirkan tentang mas Ringgo ataupun tentang sidang nanti. Hari ini hari minggu aku sengaja tidak mengantarkan Afriana ke rumah orang tua mas Ringgo, karena Afriana sendiri juga tidak mau ke sana.


Karena libur kerja seharian penuh aku gunakan untuk mrnghabiskan waktu bersama keluarga. Mengajak Afriana jalan - jalan, mengajari Afriana mengerjakan pekerjaan rumah, memasak untuk kedua orang tuaku, memposting poto hasil masakan ke WhatsApp story. Hari ini aku melakukan kegiatan untuk membuatku dan keluargaku bahagia.


Seperti biasa jika sore habis magrib aku berkumpul di rumah orang tuaku sekedar untuk melihat televisi atau bercengkerama, pertama di rumahku tidak ada televisi kedua pingin ada teman bercerita. Di saat kami sedang menikmati acara santai duduk di depan televisi, dari luar terdengar sepeda motor berhenti dan terparkir di halaman rumah.


"Assalamu'alaikum " sapa sang tamu.


"Wa'alaikum salam" jawab kami semua, dari suaranya kami sudah tahu siapa yang datang.


"Fah, temui Ringgo " perintah bapakku.


"Baik, Pak" jawabku dan aku langsung berdiri menghampiri mas Ringgo yang sudah berdiri di depan pintu rumah orang tuaku.


"Aku ingin bicara dengan orang tuamu " ucap Mas Ringgo ketus.

__ADS_1


"Silahkan" jawabku tak kalah ketus.


Tanpa aku persilahkan untuk masuk mas Ringgo sudah masuk dan duduk di ruang tamu, dan aku memanggil bapakku yang sedang duduk menonton televisi di ruang tengah.


"Pak, di cari mas Ringgo, katanya mau bicara sama bapak " ucapku.


"Ya" jawab bapakku dan langsung berdiri menuju ruang tamu, akupun juga ikut duduk di ruang tamu.


Bapak masih biasa tidak menunjukan ekpresi amarah sama sekali, bapaku juga menyalami mas Ringgo dengan tenang. Bapakku tipe orang yang diam tidak banyak bicara, namun jika ada yang menyakiti begitu marah bisa membuat musuh mati kutu.


"Lihat ini pak, Afifah sudah mengajukan gugatan cerai ke saya, tanpa pemberitahuan dan berunding denganku " keluh mas Ringgo sambil menyodorkan surat panggilan sidang dari kantor Pengadilan Agama.


Bapak masih tenang, sedang aku juga tetap duduk dengan tenang sambil melihat tangan di dada dan senyum sinis sudah mengembang di bibirku.


"Bukankah dulu aku sudah menasehatiku Le, untuk tidak menceraikan Afifah tapi kamu tidak perduli, dan berkali kali keluarga kami datang menemuimu untuk berunding tapi kamu selalu menghindari, Afifah berusaha Bicara baik - baik sama kamu, dan kamu juga tidak perduli, kami semua menunggu niat baik darimu tapi apa? tidak adakan? Pernahkah kamu datang kemari sekedar menjenguk anakmu Afri? Tidak pernahkan, atau berusaha untuk memperbaiki rumah tanggamu tidak kan?. Sudah satu tahun lebih kamu meninggalkan Afifah dan Afriana tanpa kejelasan, jadi kalau begini akhirnya sudah di luar urusanku, hadapi di pengadilan nanti, semua keputusan ada di tangan Afifah aku sebagai orang tua juga tidak mau melihat anaku menderita karena ulahmu, Le, kami keluarga besar tidak terima dengan perilakumu terhadap anak dan cucuku, andai membunuh orang tidak berdosa?" ucap bapaku tetap tenang dan meninggalkan kami berdua.

__ADS_1


"Kenapa kau tiba - tiba mengajukan gugatan cerai tanpa berunding denganku dan keluargaku?" tanya mas Ringgo geram.


Mendengar pertanyaan dari mas Ringgo aku hanya tersenyum sinis dan bersikap dingin " Ehmm bukankah itu yang kamu mau ?" tanyaku.


"Kamu sama sekali tidak menghargai aku, Fah" ucap Mas Ringgo geram.


"Apa? Kamu bilang aku tidak menghargai kamu ? Berapa kali keluargaku datang ke padamu dan keluargamu? berapa kali aku berusaha mengajak musyawarah denganmu, tapi apa kau malah pergi menghindari kami semua! Dan kamu bilang aku tidak menghargaimu mas, omong kosong, justru kamu yang pe-nge-cut" ucapku sudah mulai meninggi dan penuh penekanan.


"Kapan?" tanya mas Ringgo tetap tidak mau kalah.


"Kapan? Kamu masih tanya kapan ? Apa perlu aku panggil mas Jamal, Fauzan dan bapak, dan bukan sekali atau dua kali keluargaku datang untuk mengemis kepadamu mas ?" ucapku sudah menggelegar penuh amarah memenuhi ruangan.


"Oh, baru di tinggal satu tahun sudah minta cerai, apa kamu sudah tidak sanggup untuk menghidupi Afriana ?: kilah mas Ringgo tak kalah sinis.


Aku langsung marah menggebrak meja yang ada di depanku serta menelunjuk ke arah mas Ringgo "Apa kamu bilang mas? Aku tidak sanggup menghidupi Afriana, lihat siapa yang membangun rumah itu, siapa ? Aku, semuanya uang dariku mas" ucapku sudah meninggi " Seratus juta mas, rumah itu, semua uang dariku bukan darimu mas, ingat itu ? Bahkan biaya hidupmu aku yang nanggung semua, dan kamu bilang aku tidak sanggup untuk menghidupi Afriana? Omong kosong!" teriakku semakin kalap dan mataku melotot tajam ke arah mas Ringgo.

__ADS_1


Aku melihat aura mas Ringgo yang sudah mulai berubah dari yang tadi sok berani sekarang dia seperti anak ayam yang kecemplung air. Mas Ringgo tidak menyangka jika aku bakal bicara lantang dan berani, karena biasanya aku yang selalu mengalah dan memilih diam.


__ADS_2