
Pak Catur dan kakaknya pergi meninggalkan ruangan, mereka menuju kamar pak Catur karena pak Catur lelah ingin istirahat katanya.
"Ton, tumben kamu punya sekretaris perempuan?" tanya Tri.
"Lawong yang bisa di andalkan cuma dia lho mas." jawab pak Catur sambil rebahan di kasurnya setelah mandi.
"Kata papa dan mama dia calon istrimu, apa benar itu, Ton?" tanya Dwi ingin tahu.
"Menurutmu, bagaimana mas?" pak Catur malah balik tanya.
"Kalau iya aku yo senang, Ton, berarti adiku ini udah membuka hati." ucap Tri yang juga rebahan di kasur.
"Kalau iya, setelah selesai urusan dia dengan mantannya segera lamar, jangan lama -lama keburu di ambil orang, dan jangan lupa kabari." nasehat Dwi.
"Pasti gak akan lama, mas, lawong sekarang saja sudah di pepet terus gitu, lihat sampai di bawa pulang segala." goda Tri
"Ohhh... Jadi kalian datang hanya ingin tahu calon istriku to!" ujar pak Catur santai.
"Hahahahhahah... Akhirnya ngaku juga dia." ucap Dwi girang.
"Ya, jelas lah, aku kan juga pingin tahu siapa sih, perempuan yang bisa bikin adiku ini klepek- klepek, bela-bela in ngantar pulang, cari -cari alasan supaya bisa keluar berdua, dan yang bikin aku gak habis pikir dari mana kamu dapat ide training seorang sekretaris harus masak untuk sarapan dan makan siang bosnya, hahhh?" Benar -benar aneh, ya kamu itu ton." cerocos Tri panjang lebar.
__ADS_1
Pak Catur bukannya menjawab malah tertawa dulu" Kamu dapat info dari mana mas?" tanya pak Catur penasaran.
"Mama dan papa." jawab Tri dan Dwi bersamaan.
"Jangan keras -keras, jangan sampai Afifah tahu."ucap Pak Catur.
"Kapan mulai pembangunan wisata yang kamu rencanakan itu?" tanya Dwi.
"Belum tahu, mas, mungkin e am bualn lagi, sekarang lagi fokus ke pembangunan pabrik dulu, lagian disainnya gimana juga belum nemu yang pas, pikirku di taman wisata akan Aku bangun satu villa untuku nanti, dan keluarga kita, jika datang ke kota madiun." ucap Pak Catur.
"Bagus itu, walau di sana kota kecil, tapi menurutku sangat berpotensi tinggi, apalagi penduduknya sangat open minded, aku lihat dari foto-foto mbak Priska kota Madiun tambah bagus dan cantik pembangunannya, tidak salah kamu pindah ke kota Madiun." terang Dwi.
"Yo, jelas tidak salah mas, dari kota Madiun dia dapat bidadari lagi." timpal Tri asal di ikuti tawa riangnya.
"Tenang, pokok kalau kamu menikah aku pasti pulang, dan akan aku tungguin sampai acara selesai, aku siapkan ticket bulan madumu, kemanapun kamu mau." ucap Dwi antusias.
"Aku yang nyiapin Hotelnya!" seru Tri tak kalah antusias " Mbak Priska kok gak ikut pulang sih, Ton?" tanya Tri.
"Mbak Priska jaga pabrik, lagian mbak Priska juga sudah tahu kok tentang Afifah jadi gak penasaran kaya kalian!" ucap Pak Catur.
Mereka bertiga melepas kangen dengan bercanda mengingat masa kecil dan masa kebersamaannya dulu, Dwi, tri sangatlah antusias ketika bercerita tentang keluarga kecilnya . Pak Catur tak kalah antusias saat bercerita tentang Afifah sang sekretarisnya dan pekerjaannya di kota Madiun.
__ADS_1
"Ton, di cari papa!" panggil bu Irma yang nyelonong masuk ke kamar pak Catur.
"Ya, mbak, papa di mana?" tanya pak Catur langsung berdiri.
"Di kamarnya," jawab bu Irma " Kalian ini datang -datang bukannya menamani papa malah, ngerumpi di sini kaya perempuan saja." omel bu Irma.
"Ealah mbak, jarang -jarang lho bisa gini, apalagi aku kan juga penasaran dengan calon adik ipar, ya aku tanya langsung dari nara sumber yang akurat biar jelas." ucap Dwi.
"Aku, juga mbak." tambah Tri.
"Kalian ini adikmu lagi aja mau buka hatinya jangan di ledekin, kalian mau dia seperti dulu lagi." nasehat bu Irma.
"Aku rasa Tono, benar -benar sudah membuka hatinya untuk kembali berumah tangga kok mbak, lawong dia tadi juga sudah ngaku sendiri." jawab Dwi.
"Sykurlah, kalau begitu tidak sia -sia usahaku sama Priska, untung mama sama papa juga setuju jadi gak ribet, tapi masalahnya sekarang di Afifah, apakah dia bisa menerima Tono apa tidak?" ucap bu Priska bimbang.
"Kita doakan saja mbak, semoga di mudahkan urusan mereka, supaya mama dan papa tidak kepikiran lagi." ucap Dwi.
"Tapi jangan sampai keceplosan di depan Afifah!" tutur bu Irma
"Tenang, saja." jawab Dwi dan tri bersamaan.
__ADS_1
"Dah aku mau masak, sama Afifah, kalian tunggu saja, dan jangan kemana mana, nanti malam kita makan bareng, jangan sampai ada yang keluar dari rumah!" perintah bu Irma dan langsung pergi peninggalkan kamar pak Catur, sedang pak Catur sudah berada di kamar pak Cakra.