TALAK

TALAK
Part 90 TALAK


__ADS_3

Begitu selesai sholat berjamaah di rumahnya bu Priska, aku pal Catur, Rahma dan Afriana pamit untuk pergi jalan-jalan.


"Hati-hati kalian, Rah, kamu harus nurut sama Paman dan tante Afifah, ya." pesan bu Priska pada Rahma.


"Siap mah." jawab Rahma gembira.


"Kami berangkat dulu, mbak." pamit pak Catur.


Dengan suasana hati yang sangat gembira kedua bocah yang usianya hampir sama itu saling bercerita dan saling memamerkan mainannya ataupun kegiatan di sekolahannya. Tidak perlu waktu lama mobil pak Catur sudah parkir di lokasi parkir plaza lawu. Kami turun dari mobil kami berempat saling bergandengan, aku gandeng tangan Afriana, Afriana menggandeng tangan Rahma dan Rahma menggandeng tangan pak Catur.


Pak Catur mengajak kami menuju wahana bermain anak-anak, kami berempat lomba beramain gam tentu saja game di menangkan oleh pak Catur dan Rahma karena aku dan Afriana ini pertamanya masuk plaza Lawu. Begitu capek main game pak Catur mengajak kami makan di restaurant jepang yosinoya yang ada di dalam plaza Lawu, dan lagi Afriana merasa heran juga senang karena sebelumnya aku tidak pernah membelikannya.


"Kalian senang?" tanya pak Catur pada Afriana dan Rahma.


"Saya, senang sekali Paman, terima kasih Paman." jawab Afriana senang.


"Rahma juga senang Paman, lain kali ajak Afriana ke sini lagi ya Paman!" pinta Rahma.


"Kalau ngajak Afri, harus minta ijin dulu sama tante Afifah, Rah." ucap Pak Catur sambil makan.


"Boleh tante?" ucap Rahma penuh harap.


"Ehmm... Bagaimana ya?" jawabku menggantung.

__ADS_1


"Boleh ya tante kan kata mamah Afri itu saudaranya Rahma." ucap Rahma polos.


Aku tidak menjawab permintaan Rahma aku melihat ke arah pak Catur, sedang pak Catur hanya mengedikan bajunya sambil terus makan.


"Bagaimana tante boleh ya," rengek Rahma" Paman benar kan kata mama?" tanya Rahma pada pak Catur.


"Tentu Rahma, kita semua kan saudara kita sama-sama keturunan Nabi Adam dan kita sama-sama umat dari Nabi Muhammad SAW." jawab pak Catur


"Benar kan tante?" tanya Rahma.


Akhirnya aku mengalah " Benar kita semua saudara, jadi kalian boleh bermain bersama." jawabku.


"Berarti mbak Rahma boleh main ke ruang kita buk?" tanya Afriana padaku.


"Tentu boleh." jawabku senang.


"Sekarang habiskan makannya lalu sholat magrib dulu di mushola Rahma ikuti kata tante Afifah kalian sholat bareng, setelah itu kita jalan-jalan, kalian mau beli apa?" ucap Pak Catur penuh kasih sayang.


"Aku mau ajak Afri ke toko buku dan supermarket beli jajan saja Paman, ya Afri!" seru Rahma bahagia.


Afriana tidak menjawab hanya mengangguk saja sambil menatap ke arahku, aku memberi senyuman pertanda setuju untuk bayar belanjaan Afri paling juga gak habis sejuta pikirku dan aku masih ada uang sekali kali gala masalah nyenengin anak.


"Baiklah, karena kalian anak-anak pintar dan manis Paman akan belikan apa saja yang kalian mau." ucap pak Catur.

__ADS_1


"Afri juga di belikan Paman?" tanya Afriana penasaran.


"Tentu, Afri sayang karena kamu anak yang manis dan pintar sama dengan Rahma." ucap pak Catur pada Afriana penuh rayuan.


"Alhamdulillah, terima kasih Paman. " ucap Afriana bahagia.


Rahma dan Afriana makan dengan lahapnya tanpa protes, tidak perlu waktu lama kami semua menyelesaikan makan malam kami, aku, Afriana dan Rahma menuju mushola khusus perempuan kami ikut sholat berjamaah di sana. Setelah selasai kami langsung menuju supermarket yang ada di plaza Lawu untuk belanja, aku bagian dorong trolley sedangkan Pak Catur dengan Afriana serta Rahma sibuk memilih makanan yang dia suka. Hanya butuh waktu satu jam trolley sudah penuh belanjaan meraka berdua.


"Afri, sudah belilah yang perlu saja." pesanku pada Afriana.


"Iya, Buk." jawab Afrian.


Afriana anak yang nurut dan yang selalu mengerti kedaanku, maka Afriana tidak membantah.


"Sekarang kita bayar dulu, dan pergi ke toko buku," ucap Pak Catur senang "Anak-anak sangat senang sekali, kali ini aku yang bayar semua, mbak jangan khawatir." bisik pak Catur padaku.


"Terima kasih pak, sebaiknya biar saya saja yang bayar, gantian." ucapku sekenanya.


"Karena aku yang ngajak mereka berarti aku yang bertanggung jawab semua, mbak tinggal ikuti kami bertiga, dan terima kasih sudah memberiku sebuah kebahagiaan yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya." ucap Pak Catur dengan wajah berbinar-binar seperti anak kecil yang baru dapat mainan baru.


"Maksud bapak, kebahagiaan yang bagaimana?" tanyaku penasaran.


"Bahagia karena bisa ngajak anak-anak jalan-jalan, sejak tujuh tahun yang lalu aku tidak pernah berani membayangkan suasana seperti sekarang, mungkin aku terlalu lemah, aku bersyukur karena Allah telah mengirimku kembali ke kota ini dulu aku sembuh di kota ini dan sekarang aku bisa menemukan kebahagiaan juga di kota ini." ucap Pak Catur dengan senyum yang mengembang.

__ADS_1


Pak Catur bercerita panjang lebar padaku, aku hanya berusaha untuk mendengarkan saja, karena mau menjawab takut salah mengartikn, dan sesekali pak Catur mengajak Afriana dan juga Rahma bercengkerama di dalam supermarket.


Seperti janji pak Catur dari supermarket kami berempat menuju toko buku, di sana mereka bertiga sibuk memilih buku kesukaannya masing-masing, pak Catur dengan sabar dan telaten sudah seperti seorang ayah yang sedang menemani anak-anaknya belanja.


__ADS_2