TALAK

TALAK
Part 125 TALAK


__ADS_3

Benar apa yang di katakan pak Catur, bapak dan Pak Catur, habis magrib bapak dan Pak Catur sedang terlibat pembicaraan serius, aku tidak tahu apa yang di bicarakannya karena aku memilih tetap berada di rumahku sendiri, aku ngaji di rumahku sendiri.


Setelah sholat berjamaah sholat isya di mushola pak Catur baru pamit pulang, Sepeninggalan pak Catur aku seribu ibuk dan bapakku dengan berbagai macam pertanyaan.


"Buk, tadi siang Pak Catur apa kesini?" tanyaku pada ibuku.


"Iyo, nganter lauk buat Afri, dan Nafisa katanya." jawab ibukku.


"Kalau sama bapak?" tanyaku pada bapakku.


"Biasa, orang bisnis Fah, minta bantuan doa dan doa restu." jawab bapakku santai.


Aku melihat Afriana dan dan Nafisa sangat lahap makan dengan lauk kiriman dari pak Catur" Semoga pikiranku salah, dan apa yang di katakan oleh pak Catur tadi semoga hanya gurauan belaka, tidak mungkin kan dia serius dengan perkatannya tadi, dan semoga musyawarah dengan bapak tadi murni tentang urusan pekerjaan tidak ada hubungannya denganku." gumamku dalam hati.


Karena tidak mendapat jawaban yang tepat akhirnya kau putuskan untuk pualnv kerumahku sendiri, aku lelah aku ingin istirahat segera.


Minggu-minggu ini baha untuk renovasi renovasi rumahku sudah mulai beradatangan, aku pasrahkan swmua pada mas Jamal, karena aku malas mikir, sebab pekerjaanku juga sudah banyak.


Hari demi hari aku dan Pak Catur masih seperti biasa tidak ada yang aneh, karena orang tua pak Catur mau datang maka banyak pekerjaan yang harus segera di selesaikan.


"Mbak keruangan saya!" perintah pak Catur lewat intercom.


"Baik pak."

__ADS_1


Aku segera masuk keruangan pak Catur, di dalam ruangan pak Catur sudah ada bu Priska duduk di sofa. Aku ikut duduk di sofa dekat bu Priska sedang pak Catur duduk di hadapan kami.


"Begini mbak, lusa mama sama papa mau datang jadi, kita akan jemput mam dan papa, mbak bersediakan until jemput kedua orang tuaku di bandara Solo, karena yang datang agak banyak jadi memerlukan dua mobil nanti mas Anam dan mbak Priska, aku sama kamu." jelas pak Catur secara gamblang.


"Iya, pak." jawabku sopan.


"Fah, tolong bantuin milih cincin untuk lamarannya Tono, dari tadi aku milih gak dapat-dapat." ucap bu Priska.


"Di mana bu?" tanyaku.


"Sebentar, Ton tolong ambilkan kotak tadi dan katalognya!" perintah bu Priska pada pak Catur.


"Ya, baru kali ini bos di perintah bawahan!" gurau pak Catur sambil berdiri dan menjalankan perintah bu Priska.


Pak Catur kembali dengan membawa kotak perhiasan dan juga beberapa katalognya.


"Fah, lihat ini kamu coba di jarimu, kira-kira mana yang sesuai dan pas untuk jari calon istrinya bosmu." ucap bu Priska.


"Kok gak orangnya sendiri saja to bu yang milih kan bisa pas." ucapku sambil melihat-lihat contoh cincin dan katalognya.


"Punya sekretaris pintar kenapa gak di manfaatkan." ucap Pak Catur santai.


"Pilihanmu pasti cocok untuk calon istrinya Tono nanti, Fah, pokok pilihan yang menurutmu bagus dan cocok untuk lamarannya bosmu nanti." pinta bu Priska.

__ADS_1


Aku dan bu Priska mengamati dan mencoba beberapa pasang cincin berlian yang ada di kotak dan beberapa gambar. Akhirnya dan bu Priska menjatuhkan pada sebuah cincin tunangan bertabur Berlin.



( cincinnya kira-kira seperti ini)


"Bagaimana menurut bapak yang ini, coba bapak pakai yang ini saya pakai yang ini, cocok kan." ucapku sambil menyuruh pak Catur memakai cincin satunya.


"Bagus dan sangat cocok." pak Catur memuji pilihanku dengan senyum yang mengembang Indah begitu kami berdua memakai cincin ruangan.


"Baiklah, kamu pilih itu saja Ton, cocok buat kalian serasi," ucap bu Priska dengan senyum bahagia " Sebentar lagi adikku ini akan segera menikah, orang tua sudah setuju semua semoga Allah meridhoinya dan menjodohkannya,aamiin yarobbal'alamin." ucap bu Priska penuh syukur dan memancarkan roma kebahagiaan.


"Aamiin yarobbal'alamin." sahutku dn pak Catur bersamaan.


"Semoga acara lamaran bapak lancar tiada halangan suatu apapun, dan lagi semoga bisa membangun keluarga yang sakinah mawadah dan warahmah, berkah dunia dan akhirat, aamiin yarobbal'alamin." doa ku yang aku tunjukan pada pak Catur.


Pak Catur dan bu Priska mengamini secara bersamaan.


"Mbak tolong pesankan segera jangan sampai telat." pinta pak Catur penuh harap.


"Sesegera mungkin, jangan khawatir inshaallah beres." ucap bu Priska.


Kami bertiga setelah selesai memilih cincin kembali melanjutkan pekerjaannya masing-masing.

__ADS_1


__ADS_2