TALAK

TALAK
Part 241 TALAK.


__ADS_3

"Waktu itu ayah datang kerumah bapak, ibuk bilang bapak lagi duduk di ladang dengan bapak, berhubung mereka sedang serius aku urungkan lamgkahku, aku mendengarkan percakapan mereka," ucap Pak Catur, pal Catur mulai menceritakan padaku.


Flash back on.


"Pak, apa yang harus kita lakukan untuk menolong Ringgo, sedangkan dari segi ekonomi kita tidak akan mampu untuk membantu biaya rumah sakitnya, biarpun ada bpjs tetap masih ada baiya yang harus ditanggung sendiri oleh keluarga pasien mengingat penyakit Ringgo yang parah, dan apa bapak yakin dengan kesembuhan Ringgo?" tanya Jamal pada bapaknya ragu dengan keputusan bapak yang bersikukuh untuk membantu pengobatan Ringgo.


"Kita bantu semampunya Le, kita tetap lakukan yang terbaik untuk kesembuhan Ringgo, pasrah dan mintalah pertolongan pada Allah SWT inshaallah kalau tujuan kita baik dan Lillahi ta'ala inshaallah Allah kabulkan, dan bagaimanapun Ringgo ayah dari Afriana, untuk sekarang Afriana sudah ada Catur yang merawat dan mendidiknya dengan baik, tapi nanti! Ya nanti jika Afriana sudah dewasa dan menikah, siapa yang akan menjadi wali nikahnya, bapak, kamu atau Fauzan tidak bisa menjadi wali nikahnya Afri dan bapak tidak ingin Afriana menikah menggunakan wali Hakim." jelas bapak.


"Tapi kan masih ada kakeknya dan pakleknya pak." tukas mas Jamal.


"Umur siapa yang tahu le, alangkah baiknya jika bapaknya sendiri." terang bapak lagi.


"Apa perlu kita beritahu Afifah tentang rencana kita ini." usul mas Jamal.


"Afifah sudah punya keluarga sendiri le, biarkan Afifah bahagia dengan kehidupannya sudah cukup dia menderita selama ini," jawab bapak singkat.


"Lalu? Jujur pak aku tidak paham dengan jalan pikiran bapak, kenapa bapak masih menolong orang yang jelas-jelas mau mencelakakan anak perempuan dan cucu bapak sendiri, Jamal benar-benar tidak habis pikir, hati bapak itu terbuat dari apa, entahlah aku benar-benar tidak paham?" ujar mas Jamal kesal karena tidak paham akan jalan pikiran bapak.

__ADS_1


"Kita lakukan karena rasa kemanusiaan kita sesama makhluk Allah, Allah itu sangat mencintai hambanya yang pemaaf, selain memaafkan kita juga wajib menolong orang tersebut jika sedang dalam kesulitan, dan syaratnya harus ikhlas," terang bapak.


"Kita sudah memaafkan kenapa kita juga harus rela berkorban untuk menolongnya?" kesal Jamal.


"Aku paham dengan argunentasimu, karena Ilmumu belum sampai," ucap bapak tenang.


"Maksud bapak?" tanya mas Jamal sepertii ingin menggali jawaban dari bapak.


"Ilmu ikhlas itu mudah untuk diucapkan tapi tidak mudah untuk dijalankan, orang yang benar-benar ikhlas itu orang yang tetap mau menolong dengan ikhlas, ketika orang yang pernah dzolim pada kita dalam keadaan membutuhkan pertolongan, itu yang namanya ikhlas, jika kamu bilang ikhlas tapi saat orang tersebut dalam kesulitan memerlukan pertolongan kamu tidak menolongnya berarti kamu belum benar-benar ikhlas, apalagi kamu malah bersorak bahagia itu namanya belum ikhlas le," jelas bapak "Bapak bilang begini bukan berarti bapak orang yang baik, bapak sama halnya dengan kalian, bapak juga manusia biasa tempatnya salah dan dosa, sekarang bapak juga lagi belajar dengan kata ikhlas yang sebenarnya." tambah bapak panjang lebar.


"Assalamu'alaikum." aku baru berani mengucap salam ketika mereka saling diam dalam waktu yang agak lama, mereka tidak tahu akan kehadiranku yang sejak tadi.


"Wa'alaikum salam," sahut bapak dan mas Jamal bersamaan dan menoleh ke arahku.


Kami bertiga bersalaman "Kapan datang le? Sendiri apa sama istrimu?" tanya bapak.


"Baru saja pak, bersama Afri dan Afifah." jawabku

__ADS_1


Kami bertiga bercerita hal ringan dalam beberapa saat, akhirnya aku memberanikan diri untuk tanya tentang Ringgo.


"Pak, Mas, maaf sebelumya tadi secara tidak sengaja saya mendengar bapak dan mas Jamal berbicara tentang Ringgo," ucapku berhati-hati takut menyinggung mereka berdua.


"Maaf le, kamu tidak berpikir yang aneh-aneh ya le, antara Afifah dan Ringo sudah tidak ada hubungan apa-apa," bapak berusaha menjelaskan padaku.


"Bararti kamu sudah lama?" tanya mas Jamal penasaran.


"Kurang lebih setengah jam, bapak dan mas Jamal jangan khawatir saya percaya dengan Afifah, rasa cemburu pada diri saya itu pasti ada sebab bagaimanapun saya manusia normal, seberapa parah penyakit Ringgo, dan jalan apa yang harus di tempuh untuk memukihkannya?" tanyaku.


"Untuk, masalah makhluk halus sudah bisa kita buang semua, namun untuk pemulihan Ringo memerlukan orang yang ahli dengan kejiwaan, bapak dan keluarga Ringgo berencana mengirim Ringgo ke rumah sakit jiwa, untuk pemulihan tapi kami terkendala dengan biaya seperti yang nak Catur dengar tadi." jelas bapak seperti yang ia ucapkan tadi.


"Begini pak, jika bapak dan keluarga Ringgo tidak tersinggung saya akan membantu biaya pengobatan Ringgo, sebelunya saya minta maaf jika says lancang, dan mungkin saya bisa dibilang egois karena ada permintaan dari saya, permintaan saya jangan sampai Afifah dan Afriana tahu, semua ini tulus saya lakukan bukan karena keterpaksaan, dan terima kasih nasehat bapak tadi." ucapku bersungguh-sungguh.


"Bapak tidak bisa menjawab sekarang le, karena bapak tidak punya kuasa, nanti bapak sampaikan pada keluarga Ringgo, semoga mereka bisa berlaoang dada menerima bantuan dari kita." ucap bapak.


Flash back off.

__ADS_1


__ADS_2