
"Sekarang kamu pakai helm dulu dan ayo kita berangkat." perintah pak Catur sambil menyodorkan helm padaku.
Mendengar perintah dari Pak Catur aku sedikit kesal, bagaimana tidak kesal jika dia tidak menjawab pertanyaanku malah main perintah saja, mau pergi kemana juga tidak memberi tahu dan yang katanya urgent, urgentnya di mana aku juga tidak paham.
"Pak, sebenarnya kita mau kemana sih?" tanyaku penasaran "Saya lagi banyak kerjaan lho pak kalau gak selesai bagaimana?" ucapku kesal.
"Kalau gak selesai ya di selesaikan, udah ayo, aku lagi pingin reyen motor saja." jawab pak Catur santai.
"Kalau begitu antar saya ke kantor dan bapak bisa jalan sendiri ngreyen motornya " ucapku sedikit kesal.
"Hari ini mumpung aku lagi baik hati, makanya aku ajak kamu untuk menemaniku ngreyen motor, lagian di kota ini yang paling akrab juga cuma dengan kamu mbak, kan gak lucu kalau ngajak mbak Priska atau mas Anam bisa - bisa aku yang di ejek mati -matian" ucap Pak Catur santai " Ayo naiklah keburu sore " perintah pak Catur.
"Kalau dah sore ya pulang pak, lagian kan tidak ada aturannya saya harus menemani bos ngreyen motor. " ucapku masih sopan.
"Silahkan naik mbak atau kita dorong saja motornya sama - sama dan kita jalan kaki." ucap Pak Catur karena aku tetap berdiri di samping motor.
"Baiklah." ucapku mengalah dan tidak banyak tanya lagi.
Pak Catur mengendarai motor dengan pelan sekali seperti semut yang lagi belajar jalan, aku hanya diam di boncengan sepeda motornya pak Catur tanpa banyak tanya. Hembusan angin sore yang sepoi - sepoi, di sebuah pedesaan menambah segarnya udara jalanan yang di penuhi dengan pohon jati yang berjajar di pinggir jalan.
Goyangan dan suara merdu dari dedaunan yang sedang bernyanyi dan menari seolah menyambut hangat kedatangan kami berdua penuh suka cita.
"Udara di sini ternyata masih segar, beda jauh dengan kota Jakarta." ucap pak Catur mengawali perbincangan.
"Ya, namanya juga daerah kaki gunung pak." jawabku asal.
__ADS_1
Motor pak Catur berhenti di sebuah wisata hutan grape, setelah memarkir motornya pak Catur mengajaku duduk di sebuah bangku yang menghadap sungai dan hamparan sawah sambil menikmati indahnya pemandangan sawah yang masih alami dan mendengarkan gemricik air sungai yang bening nan indah karena meliak liuk di antara bebatuan besar bak penari India. Sebenarnya aku sedikit kesal karena tidak sesuai dengan yang di ucapkan, aku pikir ada kecelakaan kerja atau kesalahan sistem sehingga harus segera di tangani.
"Ehmm... Kayaknya bapak sering kesini ya, kok hafal betul jalan menuju sini?" tanyaku membuka percakapan.
"Enggak juga kalau sering, cuma ya pernah, aku rasa di sini cukup nyaman dan menyenangkan untuk memulihkan pikiran." ucap Pak Catur.
"Jadi, yang urgent itu pikiran bapak?" ucapku asal tebak.
"Bisa dibilang begitu, mumpung hari ini agak longgar, lagian sekalian kamu gak usah masuk ke kantor, takutnya pikiran kamu gak nyambung habis sidang tadi " jawab pak Catur enteng.
"Kalau gak nyambung ya di sambung lagi pak, pakai lem biru atau alteco, atau di sambung pakai tali rafia juga boleh" ucapku ngelantur sambil nyengir.
"Lebih kuat jika yang menyambungakan kantor KUA." jawab pak Catur tambah ngelantur.
"Memang bisa pak nyambung pakai kantor KUA?" tanyaku polos.
"Terima kasih pak, tapi sekarang kan sudah selesai meninjau pabriknya, jadi kita bisa pulang." ucapku.
"Sudah terlanjur keluar dari kantor ya sudah kita jalan saja, mbak, toh jam kantor sebentar lagi juga habis, kalau gak gini mana bisa aku ngajak kamu keluar, gak mungkin kan aku nyamperin kamu kerumah di luar jam kerja, kecuali.... " ucap Pak Catur tidak di lanjut karena tiba -tiba Hpnya berdering ada panggilan masuk video call.
[Assalamu'alaikum, mbak Ir] pak Catur
[Wa'alaikum Salam, kamu di mana Ton, kok kaya di hutan gitu?] bu Irma.
[Lagi di hutan wisata mbak habis lihat pembangunan pabrik dan sekalian ngreyen motor ya sudah aku naik gunung saja] pak Catur.
__ADS_1
[Kamu datang kapan? hari minggu atau senin? kamu datang ke Jakarta sama sekertarismu kan ?] mbak Irma.
[Hari minggu sore mbak, kan jadwlanya juga sudah aku kirim ke mbak gitu lho] pak Catur.
[Mama pesan jika ada tolong bawakan kembang kates, soale mama kepingin beli di sini susah belum menemukan] bu Irma.
[Mbak ngomong langsung saja sama mbak Priska, masa kau suruh cari kembang kates, ada -ada saja to mbak] pak Catur.
[Tadi aku sudah ngomong sama Priska, tapi Priska bilang yang bisa cari kembang kates itu mbak Afifah sekretarismu] bu Irma.
[Mbak, ngomong sendiri sama orangnya, nih orangnya ada di sini] pak Catur.
"Mbak, di cari mbak Irma" ucap pk Catur sambil menyodorkan hpnya padaku.
[Assalamu'alaikum bu] aku.
[Wa'alaikum salam mbak Fah, mbak bisa minta tolong untuk di bawakan kmebamg kates, soalnya mama kepingin, di Jakarta sulit sekali carinya] bu Irma.
[Inshaallah, bu saya pesankan ke ibuk saya dulu, mungkin ibuk saya bisa pesan ke beberapa langganannya] aku.
[Terima kasih, mbak, aku tunggu ya, sampai jumpa di Jakarta, dapat salam dari mama, mama pasti senang bisa makan oseng kembang kates Jaya dulu itu] bu Irma.
[Sama-sama bu, wa'alaikum salam, titip salam balik buat buat ibu Cakra, saya akan usahakan untuk mendapatkan kembang katesnya] aku
Kami bertiga ngobrol bareng di dalam panggilan video call, gelak tawa mewarnai percakapan kami dan lebih hebohnya lagi tiba -tiba bu Irma menyambungkan dengan bu Priska, dan juga saudaranya yang ada di luar negeri. Aku tidak pernah mengira jika mereka bakal seheboh ini, dan lebih gilanya lagi pak Catur yang jadi bulan bulanan mereka, sudah seperti Tom dan Jerry. Setelah kita ngobrol kurang lebih satu jam akirnya panggilan kita Akihiri.
__ADS_1
[Samalpai jumpa di Jakarta, mbak Fah aku penasaran dengan oseng kembang katesnya, yang kata mama sangat sedap] kakak laki -lakinya pak Catur yang nomor dua.
[Sampai jumpa pak] aku.