
Pagi yang cerah secerah jiwa raga kami berdua, pagi ini kami berdua tidak keluar dari kamar, seperti yang diucapkan oleh pak Catur tadi pagi, selesai sarapan dan melakukan video call dengan Afriana, dan istirahat sejenak kami berdua memulai aktifitas kami dalam meraih berkah dalam kenikmatan yang sudah dihalalkan sehingga kami kehabisan tenaga untuk yang kesekian kalinya.
"Terima kasih Dindaku sayang." suara lembut pak Catur sambil membelai lembut perutku serta mencium mesra pipiku" Ayah, bunda serta kak Afri menanti kehadiranmu sayang." bisik pak Catur lembut sambil mencium perutku yang masih datar.
Kini aku semakin bisa merasakan betapa pak Catur sangat mengharapkan suatu keutuhan keluarga pada umumnya, kehadiran seorang wanita dan juga anak-anak dalam hidupnya. Pak Catur kembali memelukku, dan kami berbaring dengan berhadapan, kami saling menatap dan menyuguhkan seulas senyum kabahagiaan.
"Mas."
"Iya, sayang."
__ADS_1
"Mas, Mas, tidak menyesal menikah denganku?" tanyaku tiba-tiba.
"Mas, akan menyesal jika tidak bisa membahagiakanmu, Din, Dinda ikhlas mengandung benih cinta kita?" kini pak Catur yang kembali bertanya padaku.
"Ikhlas, Mas, berapapun rejeki yang Allah berikan pada kita, Dinda ikhlas untuk menjaga serta mendidiknya." jawabku jujur" Tapi awas kalau mas berpaling saat tubuhku berubah menjadi drum, maka saat itu pula semua harta mas akan Aku ambil, tak kan kubiarkan anak-anak kita mengenal mas." ancamku tiba-tiba.
"Alhamdulillah, mas akan jaga berlian mas, dari pada Mas kehilangan Dinda dan anak-anak lebih baik mas pergi menghadap Illahi." ucap pak Catur lembut dan bersungguh-sungguh.
"Kenapa sayang?" tanya pak Catur lembut.
__ADS_1
"Dinda ingat, Dinda pernah gagal dalam menjaga keutuhan bahtera rumah tangga, kadang Dinda takut jika Dinda akan mengulangi kesalahan yang sama." ucapku dengan mata berkaca-kaca.
"Semua akan kita lalui bersama sayang mas yakin Dinda wanita pilihan, wanita yang kuat dan sholehah, tidurlah sayang, kita akan tinggal di sini dua atau tiga malam lagi, mas ingin istirahat dari sebuah pekerjaan, mas ingin konsentrasi dengan Dinda saat ini, mas ingin menikmati kebersamaan kita tanpa siapapun, maaf jika mas egois, Bukan mas tidak memikirkan Afriana, mas hanya minta sedikit waktu, semoga kita segera mendapat rejeki, dengan hadirnya buah hati kita bisa mbuat hidup kita lebih berarti." ucap pka Catur penuh harap.
"Tidak masalah buat Dinda, Afriana sudah besar dan sering aku tinggalkan dalam waktu yang lama, jadi kalau hanya beberapa hari bukan perkara besar buatku dan Afriana, Dinda akan berusaha semaksimal mungkin untuk bisa menjadi istri yang taat pada suami dalam hal kebaikan." jawabku jujur, memang benar adanya Afriana sering aku tinggal di rumah ketika aku harus pergi ke luar kota untuk urusan pekerjaan.
"Terima kasih sayang, terima kasih." ucap Pak Catur tak henti, hentinya mengucapkan terima kasih dan mencium lembut pipiku.
"Mas, mas, bagaimana dengan perusahaan, kalau mas cuti terlalu lama." tanyaku.
__ADS_1
"Ada mbak Priska, Dinda tenang saja selama Dinda cuti, mas berusaha semaksimal untuk menyelesaikannya, untuk yang lain mbak Priska yang menghandle.
Kami berdua tetap berada di dalam kamar, dan tidak keluar, jujur saja aku benar-benar capek, bahkan tenagaku benar-benar habis karena ulah pak Catur.