TALAK

TALAK
Part 214 TALAK


__ADS_3

Jam sepuluh kurang lima belas menit aku sudah memasuki ruang meting dengan di temani oleh sekretarisnya pak Catur, aku sengaja masuk ruang meting lebih awal karena aku tidak ingin pihak investor yang kelamaam menunggu. Setelah sepuluh menit menunggu pihak investor masuk di ruang meting yang ada di kantor Cakra.


Kami saling memperkenalkan diri, ya aku tahu investor ini sebenarnya kenalan lama papa Cakra namun tidak mudah untuk membuatnya percaya. Meting berjalan agak alot membutuhkan waktu hampir tiga jam, pertama karena pak Catur tidak bisa datang, kedua pihak investor benar-benar ingin membuatku mati kutu. Entah kekuatan dari mana aku dengan mudahnya menjawab semua pertanyaan dari pihak investor, dan juga aku dapat menjelaskannya dengan gamblang tanpa ada kendala.


"Terima kasih Nyonya Catur, anda benar-benar luar biasa, semoga perusahaan semakin sukses di bawah pimpinan suami Nyonya , saya yakin suami Nyonya adalah lelaki yang sangat beruntung, suami Nyonya di samping pandai menjalankan bisnis beliau juga pandai memilih pendamping hidup." puji sang investor ketika sudah selesai meting.


"Terima kasih tuan atas pujiannya kami ini masih terlalu kerdil bila dibanding dengan kepesatan perusahaan milik Tuan, jam kami masih belum berpengalaman." ucapku merendah.


"Kalian masih terlalu muda, namun kalian sudah mampu membangun perusahaan sebesar ini." investor tak henti-hentinya memuji perusahaan Cakra khusunya yang berada di kota Madiun.


"Kami hanya menjalankan amanah dari kedua orang tua, karena perusahaan ini milik orang tua kami. Saya selaku istri dari bapak Catur, mengucapkan banyak terima kasih atas kepercayaan Tuan, dan atas nama pak Catur saya mohon maaf jika meeting kali ini beliau tidak bisa hadir karena beliau lagi sakit, saya selaku wakil perusahaan Cakra, khususnya cabang Madiun mengucapkan banyak terima atas kepercayaan tuan kepada perusahaan kami" ucapku lagi sopan dengan senyum seramah dan setenang mungkin untuk menutupi kegugupanku.


"Kami permisi dulu nyonya, tolong sampaikan salamku buat bapak Catur dan maaf tidak bisa berlama-lama karena habis ini harus segera terbang kembali pulang, saya percaya dengan perusahaan Cakra, pemimpinnya bisa sangat dipercaya semua, termasuk Nyonya, jujur pertama saya ragu akan kemampuan Nyonya, nyatanya itu di luar ekspektasi saya, selamat Nyonya semoga kerja sama kita bermanfaat untuk semuanya." puji investor, sebelum pamit.


Dengan sopan dan senyum yang selalu mengembang aku mengantar sang investor menuju lobi untuk menunggu sang sopir. Begitu sang investor meninggalkan kantor, aku segera masuk kembali ke kantor dengan diikuti oleh sekretaris pak Catur. Sesampainya di ruangan pak Catur aku segera membuka komputer, dan juga Hpku.


"Ibu pulang sekarang apa masih mau di sini?" tanya sekretaris suamiku.


"Saya pulang saja tapi sebentar lagi." jawabku sambil mengecek data.


Aku berkutat dengan data hasil meeting tadi, aku berusaha mengerjakan semampuku, bukannya aku sok pintar namun aku ingin membantu suamiku apalagi sekarang suamiku sedang sakit. Ketika aku ingin bangkit dari tempat duduk HP ku berdering nama suamiku yang muncul.


[Assalamu'alaikum, Kangmas] aku.

__ADS_1


[Wa'alaikum Salam, gimana?] pak Catur.


[Alhamdulillah, nanti sampai rumah Dinda cerita in, sekarang Dinda mau pulang dulu, sudah kangen anak-anak] aku.


[Kangams tunggu hati-hati terima kasih untuk semuanya] pak Catur.


[Terima kasih Kangmas, assalamu'alaikum] aku.


[Wa'alaikum Salam] pak Catur.


Setelah menutup telepon aku segera menenteng tas dan mengecek ruangan, aku keluar dari ruangan pak Catur, setelah aku pamit sekretarisnya pak Catur dan juga mbak Priska aku segera menuju lobi dimana sopir sudah menantiku. Karena masih siang sehingga jarak yang ammi tempuh dari kantor menuju rumah hanya lima belad menit. Lelah, ya hari ini tubuhku sedikit lelah setelah setahun tidak lagi bekerja, selama setahun ini aku hanya be aktifas di rumah saja, dan suamiku tidak mengijinkanku untuk turut campur dalam pekerjaan kantornya.


Sesampainya di rumah aku segera masuk rumah, aku langsung menuju kamarku untuk langsung membersihkan diri. Selesai membersihkan diri aku segera menuju kamar anak-anak, aku lihat si kembar sedang tidur pulas, sedang pak Catur bukannya istirahat malah beliau berada di ruang kerjanya. Selesai menegok dan mengecup si kembar aku langsung menuju ruang kerja Pak Catur.


"Wa'alaikum salam, Dinda maaf tidak dengar jika Dinda sudah pulang." sahut pak Catur yang baru menyadari kepulanganku.


"Tidak apa mas," sahutku aku langsung menghampiri suamiku, aku langsung bersalaman mencium tangannya dengan ta'dzim "Kenapa mas tidak istirahat saja?" tanyaku.


"Sudah agak baikan, jangan khawatirkan mas." sahut pak Catur sambil membelai lembut punggungku " Bagaimana meeting tadi?" tanya pak Catur padaku.


Aku berusaha menyampaikan semua hasil meeting tadi dengan jelas dan terperinci, suamiku mendengarkannya dengan seksama tanpa menyela sedikitpun.


"Ternyata, istriku sangat profesional pantas saja investor langsung percaya, dan beliau sangat kagum dengan kinerjamu." puji pak Catur padaku dengan senyum bangga dan tulus.

__ADS_1


"Maksud, Mas?" tanyaku penasaran.


"Tadi, beliau ketika baru meninggalkan kantor beliau langsung menelponku dan papa, beliau sangat terpukau dengan presentasi Dinda tadi, beliau tidak percaya jika Dinda sudah lama tidak bekerja di kantor." jelas pak Catur.


"Sebenarnya tadi Dinda benar-benar gugup, apalagi mereka memberi pertanyaan yang di luar jangkauan kita kemarin, aku hampir salah menjawabnya dan perdebatan juga lumayan alot, jujur tadi Dinda hampir putus asa, alhamdulillah mereka masih bisa menerima atas semua penjelasanku." jelasku pada pak Catur.


"Dapat Salam dari papa dan mbak Irma, dan mereka mengucapkan banyak terima kasih karena Dinda dapat mewakili meeting hari ini dengan sempurna." pak Catur menyampaikan salam padaku.


"Wa'alaikum salam, semua berkat doa semuanya, Dinda tidak ada apa-apanya, dan semua sudah kehendak Allah." jawabku.


"Tadi mana juga bilang beliau akan datang besok bersama papa, katanya mau ngikuti acara selapanan si kembar." jelas pak Catur.


"Alhamdulillah, jika beliau datang, kalau di Jakarta ada acara selapanan gak mas?" tanyaku penasaran.


"Tidak tahu, karena mas baru sekarang punya anak," jawab pak Catur dengan senyum penuh kebahagiaan.


"Waktu mbak Irma melahirkan bagaimana ?" tanyaku.


"Kurang tahu aku, yang aku tahu di rumah ada acara tasyakuran bayi, tapi aku tidak tahu nama acaranya." jawab pak Catur jujur.


"Oh, aku kurain mas tahu."


"Tahuku sekolah dan bekerja saja untuk acara njlimet seperti ini, ya aku baru tahu sekarang ini dan di kota ini , ternyata di Madiun itu banyak sekali adat istiadat yang unik dan sangat menyenangkan." jelas pak Catur penuh kegaguman.

__ADS_1


"Ya, aku kira tidak di Madiun saja setiap kota pasti punya ciri khas sendiri-sendiri." sahutku.


__ADS_2