
Sampai rumah aku sibuk dengan aktifitasku, setelah menyusui Afwa dan Afwi aku segera ikut pak Catur mengupas ketela pohon di dapur, kali ini tidak jadi makan ubi, aku memilih ketelo pohon. Aku dan Pak Catur sibuk di dapur tanpa minta bantuan dari pekerja kami. Pak Catur sengaja ingin mengerjakan sendiri karena memang itu yang aku inginkan, mungkin benar juga kata mereka ngidamku aneh, aku paling senang makan hasil masakan suamiku sendiri. Kali ini Aku memilih ketela rebus dengan di kasih gula merah, di rebus hingga airnya habis menjadi seperti caramel.
Aku memandangi wajah suamiku yang kelelahan dari kemarin lusa suamiku menuruti semua permintaan konyolku, dari kemarin seolah tiada henti ada saja keinginanku. Setalah satu jam kami berkutat di dapur ketela sudah mateng, kini di atas meja sudah ada sroanci telo rebus karamel. Begitu ketela mateng aku langsung ambil dan menikmatinya tanpa menghiraukan yang lain, biarpun demikian aku memikirkan seluruh penghuni rumah, Jadi semua penghuni rumah tetap kebagian jatah.
Satu piring ketela karamel telah aku habiskan sendiri, sejak beberapa hari yang lalu aku tidak begitu suka makan nasi.
"Mbak Qib, itu ketelanya dibagikan kesemuanya ya." perintah pak Catur.
"La ibuk?" tanya mbak Qibtiyah meyakinkan.
"Ibuk sudah." jawab pak Catur yang juga makan ketela karamel ala ndeso.
"Aku sudah habis satu piring mbak, sudah kenyang." sahutku sambil makan ketela caramel.
Buat nanti malam barang kali." Mbak Qibtiyah berusaha mengingatkanku.
"Tidak mbak, pinginnya sudah tercapainya, jadi gak mungkin pingin lagi." jawabku jujur.
"Terima kasih buk, nanti aku bagikan, kenapa bapak dan ibuk masaknya banyak sekali, seharusnya bapak masak cukup buat ibuk saja." cerocos mbak Qibtiyah.
"Ya gak enak mbak, masa aku makan sendirian." sahutku.
__ADS_1
"Yo wajar buk, ibuk kan lagi ngidam." sahut mbak Qib.
"Aku gak suka gitu mbak, jika Aku makan seisi rumah ya harus ikut makan apa yang saya makan, mbak." jelasku.
"Ya buk, saya tahu dari dulu ibuk dan bapak itu tidak pernah pelit pada siapapun." ujar mbak Qibtiyah
" Mbak aku sudah selesai makannya dan maaf dapurnya aku buat kotor." ucapku.
Setelah selesai makan aku meninggalkan dapur dengan diikuti oleh pak Catur, aku dan Pak Catur menuju kamar anak-anak di sana ada mbak Inayah yang menjaga Afwa dan Afwi, Afriana sekarang lagi belajar di bawah bimbingan guru lesnya.
"Mbak Na, maaf hari ini merepotkan mbak, mbak bisa istirahat biar aku San bapak yang jaga anak-anak." perintahku pada mbak Inayah.
"Ibuk dan vaoak istirahat saja, buat anak-anak saya jaga, jika ibu kelelahan takutnya berpengaruh dengan kandungan ibuk." nasehat mbak Inayah.
"Tugas-tugasnya bagaimana pak?" tanya mbak Inayah.
"Hampir sama dengan tugasnya mbak Na, cuma mbak Na dan mbak Rom khusus merawat si kembar, sedang yang baru untuk saat ini menjaga ibu dan selanjutnya merawat anak kita yang baru lahir." jelas pak Catur.
"Kapan bapak dan ibuk memerlukannya?" tanya mbak Inayah memperjelas.
"Secepatnya, karena aku tidak ingin mbak Na, mbak Rom dan mbak Qibtiyah kerepotan, karena menjaga anak-anak itu memerlukan tenaga extra." jelas pas Catur.
__ADS_1
"Ibuk minta yang seperti apa, menurut saya siapun yang bekerja di sini pasti nyaman, karena bapak dan ibuk orangnya baik, tidak pernah membeda bedakan." terang mbak Inayah.
"Sama seperti yang bapak bilang tadi mbak Na, dia harus menjaga sholat lima waktu berhijab, jujur dan santun." Aku menjelaskan kembali kriteria yang kami berikan.
"Misal dia pakai hijabnya hanya pas kerja saja bagaimana buk?" tanya mbak Inayah lagi.
"Tidak masalah mbak, itu hak dia, cuma waktu kerja harus pakai hijab." jelasku lagi.
"Baik pak buk, sebenarnya ada teman saya cuma dia tidak suka berhijab tapi dia membutuhkan pekerjaan karena kontrak di rumah sakit tidak diperpanjang semoga ibuk dan bapak berkenan, semoga orangnya juga mau memenuhi syarat yang bapak ibuk berikan." terang mvak Nah.
"Usia?" tanyaku.
"Dia tiga puluh tahun, dulu dia kerja di rumah sakit swasta di luar kota karena harus merawat orang tuanya yang sakit jadi dia memilih kembali ke desa dengan melepas pekerjaannya, dia baru sebulan yang lalu keluar dari rumah sakit, dia pernah menikah tapi di hianati, inshaallah orangnya baik dulu dia bekerja bagian poli anak." jelas mbak Inayah.
"Semoga dia berjodoh dengan Pak satpam." celetukku asal tanpa pikir.
"Apa?" kini wajah suamiku dan mbak Inayah menunjukkan keheranan.
"Jangan anggap serius, sekedar gurauan saja, coba saja mbak Na tawarkan siapa tahu kita semua cocok." ujarku" Ayah bagaimana ?" tanyaku pada pak Catur.
"Ayah ngikut saja, siapun yang bekerja di sini yang penting mereka ikhlas benar-benar dari hati, dan keluargaku aman serta nyaman, saya tidak ingin ada kegaduhan antar pekerja." jelas pak Catur panjang lebar.
__ADS_1
Pembahasan tentang calon suster kami selesai mbak Inayah pergi ke kamarnya untuk istirahat, kedua sueterku itu kadang nginap kadang juga tidak, tergantung kebutuhanku jika aku memerlukan bantuan meraka maka mereka akan menginap jika tidak mereka bekerja selama dua belas jam perhari dan libur dihari minggu serta tanggal merah libur nasional bukan hanya suster pekerja rumah lainnya juga begitu kecuali satpam, untuk mbak Qibtiyah liburnya jika pas minta pulang kampung jadi liburnya di kumpulkan untuk pulang kampung.