TALAK

TALAK
Part 32 TALAK


__ADS_3

Pak Catur tetap memaksa untuk mengantarkan aku pulang dan akupun juga ngotot tidak mau di antar pulang. Aku berinisiatif pesan gojek saja toh aku juga tidak mungkin minta Fauzan untuk jemput di lokasi luar kantor, bisa - bisa aku di berondong sejuta pertanyaan, karena selama ini jika aku keluar dengan laki - laki hanya dengan suami dan keluarga dekat, belum pernah aku keluar dengan laki - laki walau itu teman kerja.


"Kalau kamu tidak mau aku antar pakai mobil, biar aku antar pakai motor sekarang sudah malam tidak baik kamu pulang naik gojek " ucap Pak Catur setelah bayar nota makanan.


"Caranya ?" tanyaku penasaran. "Bagaimana bisa ngantar pakai motor sedangkan sekarang saja lagi pakai mobil" gumamku dalam hati.


"Kita pulang dulu ke rumah mbak Priska biar aku pinjam sepeda motornya mbak Priska" jelas pak Catur.


"Tidak usah pak, biar saya pulang sendiri saja" kekehku.


"Perintah tidak ada penolakan, atau sekalian kita tidak usah pulang" gertak pak Catur.


"Ba - baik saya ikuti perintah bapak, asal saya bisa pulang " jawabku mengalah dan sedikit kesal.


Pak Catur tidak menjawab hanya mengedikan bahunya sambil tersenyum kemenangan. Kami berdua naik mobil menuju rumahnya bu Priska untuk pinjam sepeda motor, Sesampainya di rumah bu Priska pak Catur langsung memarkir mobilnya, kamipun langsung turun tanpa basa basi pak Catur langsung bilang jika mau pinjam sepeda motor.


"Mbak, pinjam motornya" ucap Pak Catur.


"Buat apa?" tanya bu Priska yang baru saja membuka pintu gerbangnya sambil mengernyitkan matanya.


"Ngantar mbak Afifah" jawab pak Catur sedikit canggung.


"Pakailah, kenapa harus pakai motor? gak pakai mobil saja ?" tanya bu Priska.


Pak Catur tidak menjawab, malah langsung ngambil sepeda motor matic N - Max yang terparkir di garasi.


"Selamat malam bu" sapaku sopan pada bu Priska.


"Malam Fah, kalian sudah makan?" tanya bu Priska.


"Sudah, bu " jawabku.


"Aku pakai mbak, cepat kembali kok " ucap Pak Catur yang sudah memakai helm dan menyodorkan helm padaku.

__ADS_1


"Mari, bu" pamitku sopan, saat sudah duduk di boncengan sepeda motor.


"Hati - hati, jangan ngebut" pesan bu Priska.


Pak Catur langsung menstarter sepeda motornya tanpa tanya di mana alamat rumahku, saat berada dalam boncengan pak Catur perasaanku tidak enak, entah perasaan macam apa? Campur aduk antara sungkan dan tidak nyaman.


"Memang bapak tahu rumah saya?" tanyaku sedikit keras membuka suara di tengah bisingnya suara kendaraan di jalan raya.


"Tahu" jawab pak Catur singkat.


"Sejak kapan bapak tahu rumah saya? "


"Sejak enam tahun lalu, aku di ajak ziarah ke makam mbah Kyai, bukankah rumahmu dekat situ?" Pak Catur balik tanya.


"Ya, terima kasih pak sudah repot - repot ngantar saya" ucapku.


"Sama - sama " jawab pak Catur.


Sepeda motor melaju dengan normal sehingga hanya tiga puluh menit aku sudah sampai di depan rumahku. Di teras sedang duduk Fauzan sendirian , begitu sepeda motor berhenti aku langsung turun dari sepeda motor.


"Sama - sama" jawab pak Catur dengan seulas senyum.


Aku melangkah menuju rumahku sedang pak Catur sudah membalikan sepeda motornya dan melesat meninggalkan rumahku bak seorang tukang ojek yang selesai mengantarkan penumpangnya.


"Assalamu'alaikum " sapaku.


"Wa'alaikum salam, Motormu kenapa mbak, kok naik ojek?" tanya Fauzan saat aku mau masuk ke rumah orang tuaku.


"Tadi lagi ada meting di luar dengan bosku, dan baru selesai jadi aku naik ojek saja, soalnya kalau kembali ke kantor kemalaman " jawabku "Afriana mana?" tanyaku.


"Di dalam lagi ngerjain PR sama Nafiss" jawab Fauzan.


Aku langsung masuk ke dalam rumah menghampiri Afriana dan Nafisa yang sedang belajar di kamar Nafisa.

__ADS_1


"Af, Naf, aku bawa oleh - oleh ayam panggang" sapaku saat masuk ke kamar Nafisa sambil memamerkan sebungkus ayam panggang pada mereka.


"Ibuk!" seru Afriana girang dan langsung memelukku.


"Wah, enak ini mbak, pas tahu aja jika aku lagi pingin ayam ini" ucap Nafisa dengan mata berbinar binar lebih bahagia dari pada Afriana.


"Tumben? Jangan - jangan kau lagi ngidam Naf?" tanyaku penuh selidik.


"Hah...." ekpresi Nafisa bingung.


"Hayo ngaku " cecarku.


"Wah gak tahu mbak, tiba - tiba saja tadi lihat ada wali murid bawa ayam panggang jadi pingin banget, mau beli nunggu kita gajian" ucap Nafisa.


"Ya, sudah makanlah, besok ke bidan, tapi kayaknya kamu isi" ucapku " Zan, sini?" panggilku.


"Kenapa sih mbak pulang - pulang teriak" jawab Fauzan langsung menemuiku.


"Kamu ini gimana sih? besok antar Nafis ke bidan, atau sekarang saja mumpung masih buka!" perintahku.


"Kenapa sih mbak ?" tanya Fauzan lagi.


"Naf, setelah makan segera ke bidan biar di antar sama Fauzan !" perintahku " Bapak sama ibuk kemana kok sepi ?" tanyaku


"Ibuk sama bapak lagi kondangan manten di rumah temannya paling sebentar lagi pulang " jawab Nafisa sambil makan ayam panggang dengan lahap, dan makan sepiring dengan Afriana.


"Ya, sudah aku mandi dulu, Zan antarkan Nafisa ke bidan, dasar sumai gemblong istri ngidam gak tahu !" ucapku.


"Dik, kamu hamil?" tanya Fauzan terkejut pada Nafisa.


"Gak tahu, mas, sebentar... Sebentar, apa ya mungkin ya, seharusnya kan kemarin lusa aku dapat !" ucal Nafisa langsung menghentikan makannya.


"Alhamdulillah, kalau iya!" seru Fauzan dengan wajah berbinar binar.

__ADS_1


"Kalian ini, aku mandi dulu habis itu kalian berangkat " ucapku dan langsung meninggalkan mereka.


__ADS_2