
Acara membersihkan dapur sudah selesai, jujur aku tidak menyangka jika pak Catur bisa mengerjakan pekerjaan rumah dengan baik, walau tak begitu cekatan pak Catur menaruh kembali alat-alat dapur pada tempatnya aku memaklumi karena bukan rumahnya.
Pak Catur berkali-kali berteriak memanggil mbak Priska hanya karena ingin menaruh barang, setelah selesai aku baru sadar ternyata pak Catur masih memakai pakaian hem kerja dengan lengan di lipat sampai suku, cuma jasnya saja yang di taruh di kamarnya. Begitu menyadari aku langsung tertawa melihat pak Catur, dengan pakaian yang begitu rapi harus masuk ke dapur bantu bersih-bersih dapur tanpa canggung.
"Aku ini sudah biasa hidup sendiri jangan di kira aku tidak mampu untuk mencuci piring, nyuci ngepel juga bisa." sergah pak Catur " Sudah selesai kita temui mama." ajak pak Catur.
"Percaya." sahutku langsung berjalan menuju ruang tengah untuk menemui mama yang sedang duduk santai dengan mak, sedang bunda, mbak Irma di bantu mbak Priska dan ART-nya sedang merapikan barang-barang yang akan dibawa pulang ke Jakarta.
Papa, kakung, pak Anam serta mas Syam suami mbak Irma berada di taman sekedar melihat tanaman atau kasih makan pada ikan di kolam belakang.
Aku, mama, mak dan Pak Catur bersama di ruang tengah, mereka mengulangi lagi membahas tentang acara pernikahanku dengan Pak Catur, aku sampai heran mama begitu semangat, mempersiapkan pernikahanku dengan Pak Catur. Kalau kemarin mama hanya membuat pesta satu kali, namun kali ini mama mengusulkan untuk membuat pesta dua kali, yang pertama acara untuk relasinya yang kedua mengundang anak yatim piatu dan kedua pesta di adakan di hotel yang sama hanya waktu saja yang berbeda.
__ADS_1
"Ma, kenapa harus membuat begitu banyaknya?" tanyaku penasaran, ya aku yakin biaya yang di keluarkan pasti bukanlah sedikit mengingat kota Jakarta yang semua pasti mahal.
"Karena mama ingin berbagi, dengan acara ini mama bisa berbagi rejeki dengan yang lain, ketika mama menyewa Hotel berarti secara tidak langsung mama ikut mensejahterakan karyawan Hotel, begitu pula mereka yang terlibat di dalamnya, untuk anak yatim piatu mereka harus hadir karena mereka juga anak-anak mama." mama menjelaskan dengan detail dengan maksud dan tujuannya.
"Benar nak Afifah, ibuk itu punya bebeapa pantu asuhan yang dikelola oleh ibuk, kan tidak mungkin ibuknya bisa makan enak anaknya tidak, itu sebabnya kami selalu mengandakan dua kali pesta." mak ikut menjelaskan.
"Subhanaallah." gumamku dalam hati.
Sungguh aku tidak pernah menyangka jika keluarga Cakra memiliki hati emas yang sangat luar biasa, aku baru tahu ternyata di samping perusahaan besar mereka memiliki panti asuhan yang yang tidak kalah besar, yang di kota Jakarta saja mencapai ribuan anak, dan di beberapa kota sekitar. Seperti yang dijelaskan oleh mama dan mak biasanya untuk anak yatim piatu sekitar lima ribuan yang di undang itu bukan dari yayasannya sendiri namun dari yayasan lainnya yang di kenal oleh keluarga Cakra. Malah untuk undangan relasi hanya sekitar dua ribuan orang saja.
Aku starter motor maticku menuju rumahku, Sesampainya di rumah aku langsung masuk rumahku sendiri karena rumahku baru sekesai renovasi aku langsung nyicil merapikan rumah.
__ADS_1
"Mbak, gak istirahat dulu!" Nafisa yang sudah berada di pintu rumahku.
"Gak, Naf, wong dari tadi aku tidak kerja cuma duduk-duduk saja." sahutku sambil membersihkan debu di lantai.
"Kalau gak duduk emange ada sekretaris yang di suruh lari-lari." sergah Nafisa di iringi tawa.
"Ada, Naf." sahutku " Assalamu'alaikum keponakan bupuh yang sholeh dan sholehah, bagaimana? hari ini sehatkan?" tanyaku sambil membelai perut Nafisa yang mulai sedikit mbuncit.
"Wa'alaikum salam, bupuh, alhamdulillah hari ini sehat dan pintar." Nafisa menirukan suara anak kecil dengan sedikit cedal-cedal.
Nafisa menemaniku di rumah, hari ini Nafisa libur tidak mengajar ngaji, semenjak hamil Nafisa mengambil libur dua kali dalam seminggu karena kondisi kesehatannya yang kurang baik.
__ADS_1
"Fah, nanti habis isya' ada yang ingin bapak sampaikan padamu." suara bapak yang sudah masuk di rumahku.
"Inggih, pak, nanti Fah, kerumah." sahutku sambil tetap membersihkan rumah.