TALAK

TALAK
Part 181 TALAK.


__ADS_3

Rasa capek yang kami alami benar-benar menyergap tubuh kami berdua, setelah sarapan pagi aku dan Pak Catur kembali tidur lagi hingga tidak tahu waktu, sayup-sayup aku mendengar suara pak Catur dan juga goyangan halus di tubuhku. Aku masih enggan untuk membuka mata, hingga pak Catur membisikkan sesuatu yang membuat aku sangat terkejut.


"Sayang, ayo bangun dulu kita belum sholat dhuhur sudah jam dua siang." suara lembut tepat di telingaku sehingga aku dapat merasakan hembusan nafas pal Catur.


"Astaqfirullah hal'adzim." Aku langsung membuka mata dan bergegas menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu tanpa menghiraukan panggilan pak Catur. Selesai wudhu aku keluar dari kamar mandi aku melihat pak berdiri di depan pintu kamar mandi dengan tatapan dingin dan cemas.


"Maaf, Mas." lirihku, pak Catur tidak menjawab, pak Catur langsung masuk ke kamar mandi untuk wudhu, aku segera memakai mukena yang sudah di disiapkan oleh pak Catur, tidak lama pal Catur sudah kembali, akhirnya kami sholat berjamaah, selesai sholat berjamaah aku memeluk dan meminta maaf lagi, ya aku tahu pak Catur sekarang semakin sensitif bila sudah menyangkut aku.


"Maafin mas juga sayang, mas benar-benar khawatir, mas tidak ingin Dinda dan anak kita celaka." kata itu lagi yang diucapkan oleh pak Catur.


"Dinda akan lebih hati-hati inshaallah, mas jangan terlalu khawatir." aku berusaha meyakinkan pak Catur agar tidak terlalu khawatir dengan keadaanku.


"Mas akan berusaha sayang, sekarang kita pulang atau mau tetap di sini?" tanya pak Catur.


"Kita pulang saja Mas, kasihan semua pasti sudah menunggu kita." jawabku.


"Sekarang mas berkemas-kemas dulu Dinda duduk saja biar mas yang kerjakan, sekarang mas pesankan makan siang dulu." ucap Pak Catur.

__ADS_1


"Aku mau makan di rumah saja mas, pingin makan masakan orang rumah saja." sahutku.


"Tapi sayang ini sudah sangat siang bahkan menjelang sore, makan dulu ya." rayu pak Catur lembut.


"Mas makan saja dulu Dinda mau majan di rumah saja." kekehku.


"Sedikit ya, biar asa asupan gizi untuk tubuh Dinda." rayu pak Catur lagi.


"Nggak selera mas." kekehku.


"Assalamu'alaikum." sapa kami berdua.


"Wa'alaikum salam." sahut semua yang ada di ruang tengah.


Mereka menyambut kedatangan kami berdua dengan hangat dan bahagia, mereka langsung memeluk dan memberi ucapan selamat kepada kami berdua.


"Ton, selamat ya, belum bulan madu sudah jadi saja." kelakar mas Tri.

__ADS_1


"Terima kasih, mas, aku gempur terus kok mas." bisik pak Catur pada mas Tri namun aku masih bisa mendengarnya.


"Pantas, sekarang kamu stop dulu jaga anakmu, aku ikut bahagia." ucap Pak mas Tri.


"Ton, aku ikut bahagia selamat, jaga adik dan juga keponakanku, kalau garap jangan kasar-kasar, harus lebih halus, karena di dalam ada keponakanku." nasehat mas Dwi.


"Beres mas, jangan khawatir, terima kasih." sahut pak Catur dengan wajah berseri-seri.


Semua yang ada di rumah memancarkan rona kebahagiaan, satu persatu mengucapkan selamat kepadaku maupun kepada pak Catur secara bergantian, Afriana sangat bahagia ketika tahu aku sedang hamil, Afriana segera memelukku, aku benar-benar terharu, aku peluk dan aku belai lembut Afriana.


"Kita makan dulu ya, anakku manja sekali gak mau makan di luar, maunya makan masakan rumahan." ucap Pak Catur.


"Apa? Kalian belum makan?" hampir semua yang ada di ruang keluarga langsung menatap ke arah pak Catur dengan tatapan tidak percaya.


"Istriku maunya makan masakan rumahan, jadi ya sudah." jawab pak Catur.


Tanpa dikomando pembantu di rumah keluarga Cakra langsung menyiapkannya setelah mendengar percakapan kami tadi. Pak Catur segera mengajakku untuk makan di meja makan, berbagai macam menu sudah tersedia di atas meja, masakan khas rumahan dengan menu berbagai macam. Kali ini bukan aku yang melayani pak Catur namun malah pak Catur yang melayaniku dengan telaten.

__ADS_1


__ADS_2