
"Kenyang," ucapku begitu makan baru separo.
"Untung tadi Aku buatnya hanya sedikit."
Selesai makan kami berdua masuk kamar aku lihat sudah pukul satu, kini aku tidak bisa tidur karena tadi Aku sudah tidur beberapa jam, kini mata pak Catur sudah merah, menandakan lelah, tidak butuh waktu lama begitu pak Catur naik ke atas ranjang dia langsung memejamkan matanya dan terbuai dengan mimpinya. Walau aku tidak bisa tidur aku tetap berusaha intuk memejamkan mataku namun hasilnya nihil, karena aku tidak bisa tidur aku ambil air wudhu aku kerjakan sholat malam sendirian.
Semalaman aku tidak bisa tidur entah ada apa dengan diriku, selesai sholat malam aku putuskan untuk melihat Afriana di kamarnya, begitu masuk kamar aku melihat Afriana sedang mengigau memanggil bapaknya.
"Bapak...Ayah... Bapak... Bapak...ayah....Jangan tinggalin Afri." igauan Afriana terus memanggil bapaknya yaitu mantan suamiku mas Ringgo dan juga ayahnya.
Segera aku hampiri Afriana dengan lembut aku bangunan Afriana "Af, Afri, bangun sayang, Astaqfirullah, Af, bangun ini ibuk." suaraku selembut mungkin sambil menggoyang-goyangkan tubuh Afriana agar dia tidak kaged.
"Ibuk." Afriana langsung memelukku.
"Kenapa sayang, Afri mimpi apa?" tanyaku ke peluk erat Afriana dan ku belai lembut kepala Afriana.
"Ibuk.... "
"Iya, sayang ibuk ada di sini," ucapku" Coba ceritakan ke ibuk kamu mimpi apa tadi." pintaku lembut.
"Buk, bapak." hanya itu yang di ucapkan Afriana lirih.
"Afriana mimpi bapak?" tanyaku.
Afriana mengangguk, " Kalau Afriana mau bercerita sekarang boleh besok juga boleh," ucapku lembut.
__ADS_1
"Buk tadi Afri mimpi bapak hanyut terbawa air, Afri teriak-teriak," Afriana berhenti bercerita.
"Pelan-pelan ceritanya." pintaku karena aku penasaran tentang mimpi Afriana.
"Tadi bapak hampir hilang terbawa arus, terus Afri berusaha menolong pakai kayu kayunya hampir lepas terus ayah datang menolongnya, ayah membantu Afri." jelas Afriana dengan sedikit terbata-bata.
"Astaqfirullah hal'adzim." gumamku dalam hati.
"Afriana tenang ya inshaallah bapak baik-baik saja, sekarang tidur lagi ya ibuk temani." ucapku lembut.
"Afriana takut Buk."
"Ada ibuk di sini Afri tenang ya, jangan lupa berdoa selalu untuk bapak." ucapku lembut.
"Begini, sayang selama ini bapak sedang sakit dan tidak boleh di jenguk, jadi tunggu bapak sembuh dulu baru Afriana bisa bertemu dengan bapak." terangku.
"Sakit apa buk, apa benar bapak ada di rumah sakit jiwa? Apa benar bapak sakit gila?" tiba-tiba Afriana montsrkan pertanyaan yang tidak pernah aku bayangkan sebelumya, selama ini aku berusaha untuk menutup segala kelakuan mas Ringgo pada Afriana termasuk dengan kegilaannya sebab bersekutu dengan dukun.
"Dari mana Afri dapat berita itu?" tanyaku pura-pura tidak tahu padahal aku juga sudah tahu jika sekarang mas ringgo berada di rumah sakit jiwa dalam proses penyembuhan setelah bisa lepas dari dukun kaknat itu.
"Tetangga mbah," jawanya singkat.
"Mereka memberitahukan ke Afri?" tanyaku.
Afriana menggelengkan kepala, "Afri tidak sengaja mendengarnya saat Afri bermain." jawabnya.
__ADS_1
"Sekarang Afriana tidur dulu jangan hiraukan omongan mereka ya." nasehatku lembut.
"Buk hampir subuh." kini memang sudah terdengar suara tahrim yang beranda waktu subuh hampir tiba.
"Ya, sudah kita ambil air wudhu dulu, lalu kita sholat setelah sholat Afri boleh tidur lagi jika Afri masih ngantuk, tapi ingat nanti Afri harus tetap sekolah." nasehatku lembut.
Afriana menuruti nasehatku, dia langsung turun dari ranjangnya aku temani Afriana untuk mengambil air wudhu, tidak begitu lama semua anggota keluarga sudah pada bangun termasuk suamiku, kami semua berkumpul di mushola untuk melaksanakan sholat subuh berjamaah. Setelah sholat subuh Afriana kembali tidur lagi karena dia terbangun dari jam setengah tiga tadi. Sedang aku juga kembali kembali ke kamar untuk istirahat karena dari senajan tidak bisa tidur sebelum masuk kamar aku berpesan kepada pekerja ku untuk membangunkan Afriana dan juga aku jika sampai jam setengah enam belum bangun. Seperti biasa pak Catur melafadkan ayat suci Al qur'an setelah sholat subuh. Sesampainya di kamar aku baringkan tubuhku, aku teringat akan cerita dari mimpi Afriana tadi, berbagai pertanyaan berkecamuk dalam hati, kini aku baru sadar "Siapa kira-kira orang yang dengan ikhlas membantu biaya pengobatan mas Ringgo, apa mungkin pakai BPJS." gumamku dalam hati, setelah setengah jam berbaring kini aku tetap tidak bisa memejamkan mata.
"Bunda kenapa tidak tidur?" suamiku menegurku.
"Entah, bunda tidak bisa tidur." sahutku.
"Ada yang bunda fikirkan?" tebaknya sudah duduk di tepi ranjang.
"Iya," sahutku enteng.
"Tentang Afriana?" tebaknya lagi.
"Mas, tahu?" aku tanya balik.
"Tadi Aku mendengar sekilas," jawab pak Catur.
"Maaf," hanya itu yang bisa aku katakan, bagaimanapun aku tidak enak dengan Pak Catur.
"Minta maaf untuk apa? bagaimanapun ada darah Ringgo dalam tubuh Afriana, ikatan batin antara anak dan orang tua tidak akan bisa terpisahkan." jelas pak Catur " Sekarang bunda tidurlah, jangan terlalu difikirkan inshaallah semua baik-baik saja."
__ADS_1