TALAK

TALAK
Part 24 TALAK


__ADS_3

Selesai dari acara peresmian pembangunan pabrik baru, kami semua kembali ke kantor tidak terkecuali. Aku mengikuti rombongan Ibu Irma beserta kedua orang tuanya mengelilingi pabrik mengecek keadaan pabrik dan menyapa para karyawan lainnya dengan ramah. Karena waktunya terbatas mereka semua mengajak berbincang bincang walau sebentar dengan para karyawan.


Semua karyawan pabrik menyambutnya dengan antusias, jarang sekali dan belum tentu setahun sekali pemilik pabrik datang ke lokasi pabrik menyapa para karyawan ataupun berbincang bincang secara langsung dengan karyawan.


Selesai berkeliling pabrik kami semua kembali ke ruangan pak Catur untuk sekedar istirahat dan sedikit membahas pekerjaan. Berada di tengah -tengah keluarga pak Catur membuatku sangat tidak nyaman, namun karena mereka melarangku pergi maka aku tetap bergabung dengan mereka. Pak Catur, bu Irma, bu Priska dan kedua orang tuanya sedang membahas pekerjaan, aku menemani kakung duduk di sofa bersama pak Anam.


"Namamu siapa cah ayu ?" tanya kakung padaku


"Afifah, Kung " jawabku sopan


"Asli mana, sudah lama kerja di pabrik ini ?" tanya kakung lagi


"Asli sini saja Kung, dari desa Asemgede, di pabrik lebih dari 12 tahun Kung " jawabku sopan.


"Desa Asemgede, tahu makam Mbah Kyai Grinting, aku sering ziarah makam kesana" tutur kakung nampak antusias begitu mendengar jawabanku.


"Tahu, Kung kebetulan gubuk saya dekat dengan makam, silahkan mampir Kung jika sedang ziarah, " jawabku.


"Kalau aku lebih suka mancing di kali, sejuk, mancing sambil mrnyegarkan otak" timpal pak Anam.


"Kebiasaan kamu Nam " seloroh kakung" Dulu setahuku yang tinggal di area makam hanya keturuanan Mbah Kyai, tapi entah sekarang " ucap Kakung menerawang.


"Masih sama Kung" jawabku sedikit ragu, Sebenarnya aku juga tidak ingin banyak orang tahu tentang leluhurku.


"Kamu, keturuanan Mbah Kyai !" tebak kakung.


"Iya, Kung "jawabku sedikit tidak enak.


"Pantas, sudah aku duga dari tadi " ucap Kakung sambil manggut -manggut.


"kapan hari aku mancing di sana, sama Tono, mau mampir tapi Tono gak mau" ucap Pak Anam sambil minum kopi.


Aku setengah tidak percaya dengan ucapan pak Anam, pak Catur mancing di sungai dengan Pak Anam, di sungai dekat rumahku.


"Kakung, pak Anam jika sedang berziarah silahkan mampir di gubuk kami." ucapku basa basi.

__ADS_1


Pembahasan pekerjaan antara kedua orang tuanya pak Catur sudah selesai, mereka ikut gabung dengan kami duduk santai di sofa.


"Sepertinya serius amat" ujar pak Catur yang ikut gabung dengan kami.


"Lain kali, inshaallah tak mampir " jawab pak Anam


"Mampir, kemana Mas ?" tanya pak Catur penasaran.


"Tanya sendiri ke Kakung dan sekertaris mu " perintah Pak Anam, ke pak Catur.


"Kemana, Kung ?" tanya pak Catur tambah penasaran.


"Belum waktunya kamu tahu, Le!" jawab kakung tenang.


"Kalau kakung sudah bilang begitu pasti ada sesuatu " seloroh pak Cakra pemilik perusahaan Cakra Lima ayah dari Pak Catur.


"Mbak, jangan lupa janjinya, sabtu aku tunggu di rumah Priska " ucap bu Irma yang baru duduk di sofa dengan bu Cakra.


"Cah ayu terima kasih sudah jaga bungsuku, dia agak susah kalau soal makan" tambah bu Cakra sopan


"Inshaallah, Bu , Kung" jawabku sekenanya


"Pris, kamu pinter nyari sekertaris untuk adikmu!" seru bu Cakra memuji bu Priska


"Jangankan sekertaris, Ma, untuk istri pun aku tahu mah, selera so tuyul Tono " kelakar bu Priska


"Awas, ya mbak " keluh pak Catur.


"Sudah pada tua, jangan berdebat " protes pak Cakra.


Mendengar ucapan kakung semua orang di dalam ruangan pak Catur tersenyum senyum, hanya pak Catur yang agak manyun, sedang aku tidak begitu paham maksud ucapan kakung dan keluarga pak Catur. Ternyata jika sedang bersama mereka sangat hangat, saling menyayangi satu sama lain.


Walau hampir enam bulan aku menjadi sekertaris - nya pak Catur aku tidak begitu tahu tentang kehidupan pribadinya pak Catur. Begitu pula pak Catur juga tidak begitu tahu tentang krhidupanku, kedekatan kami berdua hanya sekedar bos dan sekertaris biasa tidak lebih, bahkan siapa nama istri dari pak Catur aku juga tidak tahu, apa lagi wajahnya.


Tepat jam 4 sore keluarga pak Catur pamit pulang, di kantor hanya tersisa aku dan pak Catur saja karena ada pekerjaan yang harus kami selesaikan secepatnya. Aku dan Pak Catur tetap berada dalam ruangan pak Catur karena pekerjaannya harus kita selesaikan berdua supaya cepat.

__ADS_1


Tanpa banyak bicara aku dan Pak Catur focus dengan pekerjaan, tak terasa ternyata waktu sudah menunjukan pukul 9 malam, dan panggilan telepon dari Fauzan sudah menenuhi layar hand phone-ku.


[Aku masih banyak kerjaan, Zan, seperti biasa, tunggu di pos satpam] ucapku saat menerima telepon dari Fauzan


[Aku, sudah di pos satpam, Mbak] jawab Fauzan


[Baiklah, sejam lagi aku pulang] ucapku sambil meregangkan otot - otot tubuhku


[Beres, mbak] jawab Fauzan singkat.


Aku segera menyelesaikan pekerjaanku tanpa menghiraukan pak Catur yang masih tetap fokus dengan laptop serta berkas - berkasnya. Jam 10 malam aku mengakhiri pekerjaanku walau belum selesai, karena pak Catur menyuruhku pulang duluan.


"Mbak pulang sendiri atau di jemput ?" tanya pak Catur padaku saat aku berkemas.


"Sudah, di jemput pak " jawabku sopan


"Baiklah, pikirku kalau tidak ada yang jemput aku bisa antar mbak pulang, soalnya sudah sangat malam " ucap Pak Catur.


"Terima kasih, pak " jawabku.


"Kabari jika sudah sampai rumah " pesan pak Catur.


"Baik pak "


Aku berpamitan pada pak Catur, aku tinggal kan pak Catur sendirian di dalam kantornya. Setelah kepergianku pak Catur tetap berkutat dengan komputer dan berkas berkasnya.


Aku langkahkan kakiku menuju pos satpam untuk menemui Fauzan yang sudah menungguku sejak satu jam lalu. Begitu ketemu Fauzan aku segera naik ke boncengan Fauzan, Fauzan mengendarai sepeda motornya dengan kecepatan tinggi supaya lekas sampai rumah katanya. Sepanjang perjalanan terlintas di benaku tentang perkataan keluarga pak Catur tadi siang, namun tidak menemukan jawaban yang berarti.


Sesampainya di rumah aku langsung masuk rumah, rumahku begitu sepi karena Afriana tidur di rumah kedua orang tuaku. Sesuai pesan dari Pak Catur, aku segera mengirim pesan ke pak Catur jika aku sudah sampai di rumah dengan selamat. Tidak perlu nunggu lama pak Catur langsung membalas pesanku walau hanya kata OK.


Segera ku rebahkan tubuhku di atas kasur yang sudah kusam, namun tetap terasa nikmat karena tubuh sudah terlalu capek. Tidak perlu waktu lama mataku sudah terpejam dengan cepatnya, naas malam ini mimpi itu kembali datang, mimpi tentang mas Ringgo yang membawa paksa Afriana untuk menjauh dariku. Seperti di mimpi sebelumya tangisanku tak mampu meluluhkan kekerasan hati mas Ringgo.


"Astaqfirullah hal adzim " gumamku saat terbangun dari tidurku dan langsung duduk.


Aku langsung berdiri untuk ambil air wudhu "Semoga hanya mimpi belaka " gumamku sambil melangkah menuju kamar mandi.

__ADS_1


__ADS_2